KediriNews.com – Geger! Penemuan Fosil Gajah Purba di Kediri, Tim Arkeolog Langsung Lakukan Ekskavasi

Kabar mengejutkan datang dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebuah penemuan fosil gajah purba yang memicu perhatian luas telah terjadi di kawasan tersebut. Tim arkeolog segera melakukan ekskavasi untuk mengungkap lebih lanjut tentang temuan ini yang diperkirakan memiliki nilai sejarah dan ilmiah yang sangat tinggi.

Fosil gajah purba yang ditemukan diduga berasal dari spesies Elephas hysudrindicus, yang hidup sekitar 800.000 hingga 450.000 tahun silam. Penemuan ini terjadi di sebuah situs purbakala yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Meski lokasi ini tidak secara langsung berada di Kediri, namun kegembiraan atas penemuan ini telah merambat ke wilayah Kediri, sehingga memicu antusiasme masyarakat setempat.

Ekskavasi dilakukan oleh tim gabungan dari Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain itu, Yayasan Dharma Bakti Lestari, para arkeolog, paleontolog, teknisi replika, serta warga lokal juga turut serta dalam proses penggalian.

tim arkeolog sedang melakukan ekskavasi fosil gajah purba

Menurut koordinator lapangan ekskavasi, Dama Qoriy Arjanto, saat ini sekitar seperempat bagian dari kerangka gajah purba telah ditemukan. “Sudah terlihat tulang kaki, paha, lengan, sebagian tulang belakang, tulang rusuk, tengkorak, hingga rahang bawah,” ujarnya. Proses pengangkatan total masih akan didiskusikan lebih lanjut.

Dama menyebut, tim juga berencana membuat cetakan negatif dari bagian fosil yang telah terbuka sebagai langkah awal rekonstruksi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Elephas hysudrindicus, juga hidup berdampingan dengan spesies purba lainnya seperti Stegodon.

“Temuan ini menjadi bukti penting evolusi dan migrasi fauna di wilayah Asia Tenggara,” tambah Dama, yang juga dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

fosil gajah purba yang ditemukan di situs purbakala

Ekskavasi yang dimulai sejak 9 Juni 2025 ini, dijadwalkan berlangsung hingga 24 Juni mendatang. Medan penggalian kali ini cukup bersahabat karena sebagian besar fosil sudah tampak dari permukaan. Namun, faktor cuaca menjadi tantangan utama selama proses ekskavasi.

Selain itu, kegiatan ekskavasi di Situs Purbakala Patiayam juga bertepatan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI).

Sebanyak 85 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pendamping lapangan turut melakukan praktik arkeologi langsung di lokasi. “KKL ini bukan sekadar tugas akademik, tapi menjadi latihan berpikir kritis dan ilmiah di lapangan,” jelas penanggung jawab kegiatan, Prof. R. Cecep Eka Permana.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, juga hadir memantau proses ekskavasi secara langsung. Ia menyatakan dukungannya agar fosil-fosil yang ditemukan segera dipindahkan ke museum untuk konservasi dan edukasi publik. Ia juga mendorong pengembangan kawasan ekskavasi menjadi destinasi wisata edukatif.

“Kami optimistis Situs Patiayam menyimpan banyak potensi sejarah. Ekskavasi harus terus didukung agar bisa mengungkap lebih banyak warisan purbakala,” ujar Lestari.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyambut positif langkah Kementerian Kebudayaan. Ia menyebut fosil-fosil purba yang ditemukan di Patiayam adalah berkah besar bagi Kabupaten Kudus. “Ini kebanggaan kami. Semoga bisa menjadi situs nasional bahkan dikenal dunia,” katanya.

Pemkab Kudus mempersiapkan langkah tukar guling tanah desa yang digunakan untuk museum agar status lahan menjadi lebih jelas. Museum Patiayam ke depan akan dibuka lebih inklusif dan ramah bagi anak-anak muda untuk belajar dan berkegiatan.

“Kami ingin Patiayam bukan sekadar lokasi penelitian, tapi pusat edukasi arkeologi yang terbuka untuk semua,” tukas Sam’ani.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *