Australia tengah dilanda kebakaran hutan hebat yang menewaskan sedikitnya satu orang dan menghancurkan ratusan bangunan.
Kebakaran besar ini melanda wilayah tenggara Australia, khususnya negara bagian Victoria dan New South Wales, dan menyebabkan kerusakan yang sangat luas.
Sebanyak 300 properti dilaporkan hancur akibat kebakaran hutan tersebut. Selain itu, api telah menghanguskan area seluas hampir dua kali lipat dari wilayah Greater London.
Skala kebakaran ini membuat pihak berwenang menetapkan status darurat di sejumlah daerah yang terdampak parah.
Pemerintah Victoria secara resmi mengumumkan keadaan darurat, mengingat besarnya ancaman yang ditimbulkan kebakaran.
Ribuan petugas pemadam kebakaran dikerahkan ke berbagai titik api, dibantu oleh lebih dari 70 pesawat pemadam yang melakukan penyiraman air dari udara.
Upaya pemadaman dilakukan siang dan malam untuk mencegah api meluas ke permukiman warga.
Lebih dari 12 komunitas telah disarankan untuk segera meninggalkan rumah demi keselamatan.
Evakuasi dilakukan dengan kondisi cuaca panas ekstrem, udara kering, dan angin kencang yang membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Pihak berwenang memperingatkan bahwa kebakaran berpotensi berlangsung selama berminggu-minggu.
350.000 hektar lahan terbakar
Perdana Menteri Victoria, Jacinta Allan mengungkapkan, terdapat sekitar 30 kebakaran aktif di seluruh negara bagian.
Dari jumlah tersebut, 10 kebakaran dinilai sangat berbahaya dan terus dipantau.
Hingga Minggu (11/1/2026) pukul 08.00 waktu setempat, tercatat sekitar 350.000 hektar lahan telah terbakar. Allan menegaskan bahwa kondisi terburuk belum terlewati.
“Kita akan melihat kebakaran terus berlanjut untuk beberapa waktu di seluruh negara bagian. Saat ini masih ada kebakaran yang mengancam rumah dan harta benda masyarakat,” ujar Allan, seperti dikutip dari BBC, Senin (12/1/2026).
Polisi menemukan sisa-sisa tubuh manusia di desa Gobur, dekat kota Longwood, sekitar 110 kilometer di utara Melbourne.
Hingga kini, identitas korban masih belum diketahui. Pemerintah daerah menyampaikan apresiasi kepada para petugas darurat yang bekerja keras dalam proses evakuasi dan penanganan korban.
Selain menimbulkan kerusakan fisik, asap kebakaran juga berdampak serius pada kualitas udara. Banyak wilayah di Victoria, termasuk kawasan metropolitan Melbourne, mengalami penurunan kualitas udara yang dapat membahayakan kesehatan warga, terutama anak-anak dan lansia.
Pihak berwenang menyebut kebakaran ini sebagai yang terburuk sejak kebakaran besar Australia pada 2019–2020, yang saat itu menghancurkan wilayah seluas Turki dan menewaskan 33 orang.
Dampak kebakaran
Kota kecil Harcourt di dataran tinggi tengah Victoria menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.
Seorang petugas pemadam kebakaran bernama Tyrone Rice kehilangan rumahnya sendiri saat sedang bertugas memadamkan api.
“Ini seperti pukulan telak, tetapi saya bukan orang pertama yang mengalaminya, dan juga bukan yang terakhir,” ujar Tyrone.
Kapten pemadam kebakaran setempat, Andrew Wilson, menyebut kebakaran ini sebagai peristiwa yang sangat menyayat hati.
Sementara itu, Reporter 9 News Australia, Jack Ward yang mengunjungi lokasi terdampak, menggambarkan kehancuran yang tersisa.
“Yang tersisa dari rumah-rumah ini hanyalah atap seng yang tergeletak di tanah,” katanya.
Sulit memastikan bahwa satu kebakaran hutan tertentu disebabkan langsung oleh perubahan iklim karena perbedaan cara manusia mengelola lahan.
Meski begitu, para ilmuwan menjelaskan bahwa perubahan iklim membuat cuaca panas dan kering semakin sering terjadi yang memudahkan muncul dan meluasnya kebakaran hutan.





