KediriNews.com – Pada tanggal 8 Agustus 2025, sebuah peristiwa yang memicu kekhawatiran warga terjadi di Kecamatan Puncu. Saat sedang berlangsung acara karnaval sound horeg, suara bass yang menggelegar dari speaker-speaker besar menyebabkan kaca rumah warga pecah. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang dampak suara keras terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Penggunaan sound horeg sebagai bagian dari acara hiburan telah menjadi tren di berbagai daerah, termasuk Ponorogo dan sekitarnya. Namun, dalam kasus kali ini, efek dari suara bass yang sangat keras ternyata melampaui batas kenyamanan dan keselamatan. Menurut laporan saksi mata, suara yang dikeluarkan oleh alat audio tersebut terasa sampai ke jarak yang cukup jauh, bahkan menggetarkan benda-benda di sekitar lokasi.
“Suara itu seperti mengguncang seluruh area. Kami tidak bisa membayangkan betapa kuatnya getaran itu,” ujar salah satu warga setempat kepada DetikINET.
Fisika Suara dan Dampaknya pada Lingkungan
Dalam fisika, suara adalah gelombang longitudinal yang merambat melalui medium seperti udara. Semakin besar amplitudo getaran, semakin keras suara yang dihasilkan. Sound horeg, terutama yang menggunakan bass rendah, memiliki frekuensi yang rendah tetapi panjang gelombang yang besar. Hal ini membuat suara lebih mudah menembus benda padat seperti kaca atau dinding.
Menurut Hana Arisesa, Ketua Kelompok Riset Radio Frekuensi, Microwave, Akustik, dan Photonic BRIN, “Kaca memiliki frekuensi resonansi alami. Jika suara yang dikeluarkan sesuai dengan frekuensi tersebut, maka kaca akan mulai bergetar dan dapat pecah jika intensitasnya cukup tinggi.”
Tanggung Jawab Penyelenggara Acara
CEO SobatBangun, Taufiq Hidayat, menyoroti pentingnya kesadaran penyelenggara acara terhadap kondisi lingkungan sekitar. “Harusnya kalau sudah ada getaran, kaca sudah mulai bergetar, rawan pecah, atau genteng sudah mulai rontok harusnya sih berhenti ya (paradenya),” katanya.
Ia menyarankan agar para penyelenggara acara seperti sound horeg melakukan evaluasi terhadap lokasi dan memastikan bahwa suara yang dihasilkan tidak melebihi batas aman. Selain itu, penggunaan teknologi pengendali suara modern juga dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Peristiwa di Kecamatan Puncu
Kejadian di Kecamatan Puncu bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, beberapa wilayah lain di Ponorogo juga pernah dilaporkan mengalami kerusakan akibat suara bass yang terlalu keras. Namun, kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya dari acara hiburan yang menggunakan sound horeg.
Berdasarkan laporan warga, beberapa rumah di sekitar lokasi acara mengalami kerusakan pada kaca jendela. Bahkan, satu unit rumah mengalami pecah kaca total. Ini menunjukkan bahwa suara bass yang dikeluarkan tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan.
Langkah yang Harus Diambil
Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, beberapa langkah perlu diambil:
- Pemantauan intensitas suara: Penyelenggara acara harus memastikan bahwa suara tidak melebihi ambang batas yang ditentukan.
- Evaluasi lokasi acara: Lokasi acara harus dipilih dengan mempertimbangkan keberadaan bangunan dan rumah warga di sekitarnya.
- Pendidikan masyarakat: Masyarakat perlu diberi pemahaman tentang dampak suara keras terhadap lingkungan dan kesehatan.
- Regulasi yang jelas: Pemerintah setempat perlu membuat aturan yang jelas tentang penggunaan sound horeg dan cara mengelolanya secara aman.
Kesimpulan
Sound horeg memang menjadi bagian dari budaya hiburan yang digemari, tetapi dampaknya terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat tidak boleh diabaikan. Kejadian di Kecamatan Puncu menjadi contoh nyata bahwa suara bass yang menggelegar bisa mengakibatkan kerusakan serius. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bersama antara penyelenggara acara, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara hiburan dan keamanan.





