Karnaval di Kecamatan Puncu dengan Sistem Suara HOREG! Kaca Rumah Getar pada 30 November 2025
KediriNews.com – Karnaval budaya yang digelar di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, kembali mencuri perhatian publik. Tahun ini, acara tersebut menghadirkan sistem suara HOREG (High Output Rumble Electronic Gear) yang mampu membuat kaca rumah warga bergetar. Acara yang digelar pada 30 November 2025 menjadi sorotan karena keunikan dan kekuatan sound system yang digunakan.
Sound system HOREG yang digunakan dalam karnaval kali ini disebut memiliki kemampuan untuk menghasilkan bass yang sangat keras. Bahkan, beberapa warga mengaku mendengar suara gemerlap dari jarak jauh sebelum acara dimulai. “Suara itu seperti bisa merobohkan bangunan,” ujar salah satu warga setempat, yang enggan disebutkan namanya.
Sistem suara HOREG bukanlah hal baru di Jawa Timur. Dikenal sebagai teknologi audio yang mampu menciptakan getaran kuat, sound system ini sering digunakan dalam acara hiburan, karnaval, maupun pesta pernikahan. Namun, penggunaannya terkadang memicu kontroversi karena dampaknya yang bisa mengganggu ketenangan warga sekitar.
“Kami sudah melakukan evaluasi terkait penggunaan sound system ini. Kami tetap menghargai kebudayaan, tapi juga harus memastikan bahwa tidak ada gangguan berlebihan bagi masyarakat,” kata Kepala Desa setempat, saat ditemui di lokasi karnaval.

Penggunaan Sound System HOREG di Kalangan Komunitas

Penggunaan sound system HOREG telah menjadi bagian dari budaya lokal di banyak daerah, terutama di Jawa Timur. Di kalangan komunitas musik dan acara hiburan, sound system ini dianggap sebagai simbol prestise dan keunggulan teknis. Salah satu tokoh yang dikenal dalam dunia sound system adalah Memed dari Ngawi, yang sering disebut sebagai “maestro” dari sound HOREG.
Memed dikenal dengan gaya santai dan ekspresi datar, meskipun ia mampu menciptakan dentuman yang mampu merontokkan genteng atau membuat kaca rumah pecah. Meski demikian, penggunaan sound system yang terlalu keras sering kali menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur yang pernah mengeluarkan fatwa haram terkait penggunaan sound system berlebihan.
Namun, di Kecamatan Puncu, penggunaan sound system HOREG dalam karnaval tahun ini tampaknya tidak menyebabkan masalah besar. Warga mengakui bahwa mereka sudah terbiasa dengan suara keras yang berasal dari sound system. Bahkan, beberapa dari mereka mengatakan bahwa suara itu justru menjadi bagian dari semangat perayaan.
Kegiatan Karnaval dan Dampaknya
Karnaval di Kecamatan Puncu tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ajang pelestarian budaya lokal. Dalam acara ini, para peserta membawa berbagai atribut tradisional, mulai dari pakaian adat hingga tarian khas daerah. Selain itu, karnaval juga menjadi momen untuk memperkuat rasa persatuan antar warga.
Namun, penggunaan sound system HOREG tetap menjadi perhatian khusus. Sejumlah warga mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari suara keras yang terus-menerus. “Jika dilakukan secara berlebihan, bisa saja menyebabkan gangguan pendengaran atau kerusakan properti,” ujar seorang ibu rumah tangga yang tinggal dekat lokasi karnaval.
Penutup
Karnaval di Kecamatan Puncu dengan sistem suara HOREG pada 30 November 2025 menunjukkan betapa pentingnya perpaduan antara budaya dan teknologi. Meski ada risiko, penggunaan sound system ini tetap menjadi bagian dari identitas lokal yang ingin dipertahankan. Bagi sebagian warga, suara keras yang dihasilkan oleh sound system HOREG bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga simbol kebanggaan dan kebersamaan.
Dengan peningkatan kesadaran akan dampak lingkungan dan kesehatan, diharapkan penggunaan sound system dapat lebih dikelola dengan baik agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat sekitar. Semoga karnaval tahun depan dapat menjadi contoh bagaimana budaya dan teknologi bisa saling melengkapi tanpa menimbulkan konflik.