KediriNews.com – Di tengah arus modernisasi yang semakin menggerus tradisi, para pengrajin gerabah di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terus berjuang untuk mempertahankan warisan budaya mereka. Meski jumlah pengrajin semakin sedikit, mereka tetap bertahan dengan tekad kuat, khususnya menjelang perayaan hari jadi daerah yang jatuh pada 5 Mei 2025.
“Gerabah adalah bagian dari identitas masyarakat kami. Bahkan, sejak dulu hingga sekarang, produk ini selalu menjadi kebanggaan,” ujar Suryo, salah satu pengrajin senior di desa setempat. “Meski banyak tantangan, kami tidak ingin melupakan akar budaya kami.”
Perkembangan dan Tantangan
Gerabah tradisional di Kecamatan Gurah memiliki sejarah panjang, bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu pusat produksi kerajinan tanah liat di Jawa Timur. Namun, seiring perkembangan zaman, pengrajin menghadapi berbagai tantangan, seperti persaingan dengan produk pabrik, minimnya minat generasi muda, serta kesulitan dalam pemasaran.
Menurut data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri, jumlah pengrajin gerabah di Kecamatan Gurah mencapai sekitar 150 orang. Namun, hanya sekitar 30% dari mereka yang masih aktif secara penuh. Sementara itu, sebagian besar pengrajin terpaksa beralih profesi karena sulitnya menemukan pasar yang stabil.
Inovasi dan Pemasaran Digital
Untuk menghadapi tantangan tersebut, beberapa pengrajin mulai melakukan inovasi, termasuk memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran. Mereka mulai membangun toko online, menggunakan media sosial, dan bahkan mengikuti pameran kerajinan nasional.
“Dulu kita hanya menjual ke pasar lokal, tapi sekarang kita coba tawarkan ke luar daerah juga,” kata Suryo. “Kami juga sedang belajar membuat konten video untuk menunjukkan proses pembuatan gerabah agar lebih menarik minat konsumen.”

Peran Komunitas dan Pelatihan
Pengrajin di Kecamatan Gurah juga mendapatkan dukungan dari komunitas lokal dan organisasi pemuda. Beberapa dari mereka bahkan mengikuti pelatihan keterampilan dan pemasaran yang diselenggarakan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan universitas.
“Kami sangat berterima kasih kepada LSM dan universitas yang memberikan pelatihan tentang pemasaran digital dan manajemen bisnis,” tambah Suryo. “Ini membantu kami meningkatkan penjualan dan memperluas pasar.”
Tantangan yang Masih Ada
Meski ada upaya-upaya positif, pengrajin tetap menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah kurangnya akses ke modal usaha. Banyak pengrajin mengaku kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank karena nilai aset mereka dinilai terlalu rendah.
Selain itu, persaingan dengan produk massal juga menjadi kendala. Produk gerabah buatan pabrik biasanya lebih murah dan mudah ditemukan di toko-toko modern, sementara gerabah tradisional lebih mahal dan jarang dijual di tempat-tempat umum.
Harapan di Tahun 2025
Di tengah situasi ini, pengrajin di Kecamatan Gurah tetap berharap bahwa tahun 2025 akan menjadi momen penting untuk membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap gerabah tradisional. Mereka berharap perayaan hari jadi daerah dapat menjadi ajang promosi yang efektif.
“Kami berharap, dengan adanya perayaan 5 Mei 2025, masyarakat lebih mengenal dan menghargai produk kami,” ujar Suryo. “Semoga nanti ada lebih banyak pembeli yang datang ke desa kami.”

Kesimpulan
Gerabah tradisional di Kecamatan Gurah adalah simbol kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Meskipun menghadapi tantangan, para pengrajin tetap berusaha keras untuk mempertahankannya. Dengan dukungan dari komunitas, pelatihan, dan inovasi, harapan untuk masa depan gerabah tradisional semakin terbuka.





