KediriNews.com – Peristiwa kembali terjadi di Kecamatan Pesantren, Jawa Timur, pada tanggal 28 September 2025, saat seorang warga yang sedang ronda dibacok oleh anggota geng motor. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat setempat dan memicu tuntutan dari pihak berwajib agar aksi-aksi serupa segera dihentikan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban bernama Budi (45) yang merupakan salah satu warga RT 03, Kecamatan Pesantren, sedang melakukan ronda di sekitar lingkungan rumahnya ketika tiba-tiba diserang oleh sekelompok pemuda yang mengendarai sepeda motor. “Saya tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Saya hanya ingin menjaga keamanan lingkungan,” ujar Budi kepada petugas polisi.
Menurut saksi mata, para pelaku membawa senjata tajam dan langsung menyerang korban tanpa memberi kesempatan untuk melawan. Korban sempat mencoba melarikan diri, namun akhirnya jatuh dan terluka parah. Saat itu juga, warga sekitar langsung memberi pertolongan dan segera menghubungi pihak kepolisian.
Kronologi Kejadian
Pada hari kejadian, sekitar pukul 02.00 dini hari, Budi sedang menjalankan tugas ronda sebagai bagian dari program pengamanan lingkungan. Tidak lama kemudian, sekelompok pemuda yang diduga merupakan anggota geng motor mendekati lokasi dan langsung menyerang korban. “Mereka datang secara tiba-tiba dan langsung menyerang tanpa alasan jelas,” ujar salah satu saksi mata.
Polisi yang tiba di lokasi langsung melakukan pemeriksaan terhadap korban dan mengamankan para pelaku. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menyelidiki motif dari peristiwa tersebut. Namun, beberapa indikasi menunjukkan bahwa aksi ini dilakukan secara spontan dan tidak ada hubungan pribadi antara korban dan pelaku.
Tindakan Polisi dan Respons Masyarakat
Setelah menerima laporan, pihak kepolisian segera melakukan penangkapan terhadap beberapa anggota geng motor yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut. “Kami sedang memburu pelaku lainnya yang belum berhasil diamankan. Kami juga meminta warga untuk tetap waspada dan melaporkan kejadian apabila terjadi lagi,” kata Kapolsek Pesantren, AKP Dedi Supriyadi.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, banyak yang mengecam tindakan geng motor yang semakin meresahkan. “Ini sudah terlalu sering terjadi. Kami butuh perlindungan yang lebih baik dari pihak berwajib,” ujar salah satu warga yang tak ingin disebutkan namanya.
Peristiwa Serupa Sebelumnya
Sebelum kejadian di Kecamatan Pesantren, beberapa peristiwa serupa telah terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Misalnya, di Bandung, seorang remaja tewas akibat pembacokan oleh anggota geng motor. Di Makassar, dua remaja luka parah setelah diserang saat konvoi. Sementara di Medan, seorang remaja tertusuk sajam sendiri saat tawuran antar geng.
Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa aksi geng motor semakin menjadi-jadi dan memerlukan penanganan yang lebih tegas dari pihak berwajib. “Kita tidak bisa membiarkan aksi-aksi yang tidak bertanggung jawab ini terus berlangsung. Semua pihak harus bekerja sama untuk menghentikan aksi geng motor,” ujar mantan anggota DPRD Kota Bandung, Yanti.
Langkah yang Harus Dilakukan
Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, beberapa langkah penting harus segera diambil. Pertama, pihak kepolisian perlu meningkatkan patroli di daerah-daerah rawan. Kedua, pemerintah setempat perlu memperkuat program sosialisasi tentang bahaya geng motor. Ketiga, masyarakat harus aktif melaporkan kejadian yang mencurigakan.
Selain itu, perlu adanya pendekatan yang lebih humanis terhadap anggota geng motor. “Banyak dari mereka adalah anak-anak muda yang terpengaruh oleh lingkungan. Jika kita bisa memberi mereka alternatif yang lebih baik, maka mereka bisa diarahkan ke jalur yang benar,” tambah Yanti.
Kesimpulan
Peristiwa bacokan terhadap warga yang sedang ronda di Kecamatan Pesantren pada 28 September 2025 menunjukkan bahwa aksi geng motor semakin meresahkan. Meskipun pihak kepolisian telah melakukan upaya penangkapan, masih ada kekhawatiran bahwa aksi ini akan terulang kembali. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pihak berwajib, pemerintah, dan masyarakat untuk menghentikan aksi-aksi yang tidak bertanggung jawab ini.



