KediriNews.com – Fenomena tanah gerak kembali menjadi perhatian masyarakat setelah lantai rumah warga di lereng Gunung Wilis, Kecamatan Semen, Kabupaten Madiun mengalami retakan lebar pada 15 Januari 2025. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan memicu langkah-langkah darurat dari pihak berwenang.
Sebelumnya, wilayah tersebut sudah dikenal sebagai daerah rawan bencana. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian oleh tim gabungan dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Pemkab Madiun menunjukkan bahwa sekitar 25 hektare lahan di kawasan ini mengalami ketidakstabilan tanah. “Dari penelitian selama hampir satu bulan, sekitar 25 hektare tanah itu sudah mulai habis atau tidak stabil,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra Lubis.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah berencana melakukan relokasi bagi warga yang tinggal di area paling rentan. Namun, rencana ini masih dalam pembahasan lintas instansi. “Belum ada titik pasti lokasi relokasi. Kita akan sosialisasi terlebih dulu kepada kepala desa dan warga terdampak,” tambahnya.
Penyebab Tanah Gerak di Lereng Wilis
Tanah gerak sering kali disebabkan oleh kombinasi faktor alami dan manusia. Di lereng Gunung Wilis, kondisi geologis yang rentan serta aktivitas pertanian yang intensif bisa menjadi penyebab utama. Menurut Boby, penggalian air tanah secara berlebihan dan curah hujan yang tinggi juga memperparah kondisi tanah.
“Tanah kita gembur, jadi biar tanah itu ada yang mengikat, yang mengikat ya akar-akarnya pohon-pohon besar itu,” pesan Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat meninjau lokasi bencana di Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh. Ia menekankan pentingnya menjaga vegetasi untuk mencegah tanah longsor dan gerak.
Langkah Darurat dan Relokasi
Pada 15 Januari 2025, kejadian tanah gerak kembali terjadi di lereng Wilis. Warga melaporkan lantai rumah mereka retak lebar, sementara beberapa tembok retak dan keramik pecah. Sejumlah warga mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.
Di wilayah lain seperti Dusun Kebonduren, Desa Kenongorejo, Kecamatan Pilangkenceng, sekitar 52 KK juga terdata masuk rencana relokasi tahun 2026. Banjir rutin terjadi di kawasan ini, sehingga pemerintah mencari solusi permanen.
Tindakan Pemerintah dan Masyarakat
Menanggapi kejadian ini, Pemkab Madiun dan BPBD sedang mempersiapkan relokasi bagi warga yang terdampak. “Relokasi tahap awal diperkirakan menyasar sekitar 12 kepala keluarga (KK) yang terdampak paling rawan,” ujar Boby.
Namun, proses relokasi tidak mudah. Lokasi baru harus dipilih dengan mempertimbangkan stabilitas tanah dan akses fasilitas umum. Selain itu, diperlukan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.
Kesiapan Masyarakat dan Penyuluhan
Selain tindakan darurat, pemerintah juga memprioritaskan penyuluhan dan edukasi kepada warga. “Kita lihat tadi situasi juga sempat mendung, jadi hari ini dipastikan evakuasi terakhir,” kata Bupati Trenggalek saat meninjau lokasi bencana. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat.
Selain itu, masyarakat juga diajak untuk menjaga lingkungan dan menjaga tanaman produktif agar akar pohon dapat membantu menjaga kestabilan tanah. “Pokoknya pucuk-pucuk gunung itu meskipun padat penduduk kalau bisa. Boleh tanaman produktif tapi tanaman kayu,” pesannya.
Kesimpulan
Fenomena tanah gerak di lereng Gunung Wilis, Kecamatan Semen, menunjukkan bahwa daerah ini sangat rentan terhadap bencana alam. Meski pemerintah telah merancang relokasi, prosesnya membutuhkan waktu dan koordinasi yang baik. Selain itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan juga sangat krusial dalam mencegah kejadian serupa di masa depan.






