KediriNews.com – Pada tanggal 5 November 2025, masyarakat di Kecamatan Pesantren akan dikejutkan dengan kehadiran produk baru yang menarik perhatian banyak kalangan. Produk tersebut adalah biskuit lapis coklat tebal yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Syekh Hasan Yamani di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah setempat untuk menciptakan nilai tambah dari hasil kakao lokal.
“Yang susah di Sulbar ini karena kita belum mampu menciptakan nilai tambah dari produk yang kita miliki. Katakanlah kakao, masih dijual dalam bentuk biji mentah. Coba kita bikin produk baru dari kakao,” ujar Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) saat membuka Yamani Fest 2025 di Aula Gendug Gadis, Polman, Kamis 23 Oktober 2025.
Inovasi dan Pengembangan Produk Coklat Olahan
Pengembangan produk coklat olahan siap konsumsi menjadi salah satu fokus utama dari inisiatif yang diinisiasi oleh Gubernur SDK. Ia meminta kepada Pimpinan Ponpes Syekh Hasan Yamani, Kiai H. Fakhri Tajuddin Mahdy, agar tidak hanya mengembangkan usaha roti dan bakery, tetapi juga berinovasi membuat produk coklat khas pesantren.
“Saya mau dukung bukan rotinya, tapi produk barunya, coklat produksi pesantren Hasan Yamani. Kalau bisa seperti Silverqueen, kita tandingi Silverqueen itu,” tegasnya.
Menurut SDK, coklat merupakan komoditas bernilai tinggi di pasar global. “Setiap orang yang ke Dubai pasti beli coklat. Satu kilogram bisa mencapai harga jutaan rupiah,” katanya.

Dukungan Pemerintah untuk Pengembangan Usaha
Pemerintah, lanjut SDK, siap memberikan dukungan berupa mesin pengolahan untuk dikelola para santri. Ia bahkan menantang pihak pesantren untuk mengembangkan peternakan kambing dan menjanjikan bantuan bibit.
Menanggapi hal itu, pimpinan Ponpes Syekh Hasan Yamani, Kiai H. Fakhri Tajuddin Mahdy menyambut positif tantangan gubernur. “Kami akan melakukan kajian dan berkoordinasi dengan seluruh pengurus untuk menindaklanjuti arahan Bapak Gubernur, termasuk rencana bantuan bibit kambing yang nantinya bisa dikelola oleh para wali santri dan ustadz,” ujarnya.
Peran Pesantren dalam Ekonomi Lokal
Pondok Pesantren Syekh Hasan Yamani tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya kewirausahaan. Dengan mengembangkan produk coklat olahan, pesantren ini berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.
Beberapa langkah yang telah dilakukan antara lain:
1. Mengadakan pelatihan pengolahan kakao menjadi coklat.
2. Membentuk kelompok usaha santri yang fokus pada pengolahan makanan.
3. Menjalin kerja sama dengan pihak swasta untuk distribusi produk.

Masa Depan Coklat Khas Pesantren
Dengan adanya inisiatif ini, masa depan coklat khas pesantren terlihat cerah. Tidak hanya sebagai produk yang bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga sebagai simbol keberhasilan pengembangan potensi lokal. Biskuit lapis coklat tebal yang akan dirilis pada 5 November 2025 diharapkan menjadi awal dari sebuah tren baru dalam industri makanan di wilayah ini.
Gubernur SDK menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung inisiatif-inisiatif yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kita harus bersama-sama berjuang untuk mengubah pola pikir masyarakat Sulbar, yaitu dari produsen bahan baku menjadi produsen barang jadi,” katanya.
Hashtag Terkait



