KediriNews.com – Pada malam Jumat, 4 Desember 2025, Petirtaan Jolotundo di Kecamatan Pare, Kabupaten Mojokerto, kembali menjadi pusat perhatian. Wisata sejarah yang memiliki nilai religius dan budaya ini dilaporkan ramai dikunjungi oleh para pengunjung, baik dari kalangan wisatawan lokal maupun luar daerah. Diketahui bahwa keberadaan mata air Jolotundo tidak hanya menjadi sumber air alami yang jernih dan kaya akan mineral, tetapi juga menjadi tempat ritual bagi masyarakat setempat.
“Setiap malam Jumat, terutama saat satu Muharram, banyak orang datang untuk mandi dan mengalap ‘berkah’ dari air yang dianggap memiliki khasiat istimewa,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya. “Airnya sangat segar dan terasa menyegarkan, bahkan bisa membuat tubuh terasa lebih ringan.”
Petirtaan Jolotundo, yang dibangun pada tahun 997 Masehi oleh Raja Udayana, merupakan peninggalan kerajaan Kahuripan Prabu Airlangga. Nama Jolotundo berasal dari kata “Jala” atau “Jolo” yang berarti air, dan “Tunda” atau “Tundo” yang berarti bertingkat. Hal ini mencerminkan struktur kolam yang dibuat bertingkat, sehingga air dapat mengalir secara alami melalui sistem bawah tanah.
- Sejarah dan Keistimewaan Mata Air Jolotundo
- Petirtaan Jolotundo terletak di lereng Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
- Air yang mengalir di sini berasal dari bebatuan candi yang berfungsi sebagai akuifer buatan.
- Menurut beberapa penelitian, kualitas air Jolotundo memiliki kandungan mineral tinggi dan jernih hingga tak pernah surut, bahkan di musim kemarau.
-
Air ini dikenal sebagai “air zam-zam-nya Indonesia” karena kualitasnya yang sangat baik.
-
Pengelolaan dan Larangan yang Ketat
- Petirtaan Jolotundo dilindungi sebagai warisan budaya dan tidak boleh digunakan untuk aktivitas industri.
- Pengunjung dilarang membawa sabun, shampoo, atau produk kebersihan lainnya agar kualitas air tetap terjaga.
-
Ada dua bagian di petirtaan ini, yaitu area utara untuk pria dan selatan untuk wanita, dipisahkan oleh dua tembok.
-
Wisata Mistis dan Eksotis
- Selain nilai sejarahnya, Petirtaan Jolotundo menawarkan suasana yang mistis dan eksotis, seperti di dalam hutan rindang.
- Di sekitar lokasi terdapat gazebo dan warung-warung kecil yang menyediakan makanan ringan.
- Pengelola juga menyediakan fasilitas pendidikan lingkungan hidup dan paket outbond untuk pengunjung yang ingin memperdalam pengetahuan tentang ekosistem sekitar.

- Perkembangan Wisata di Sekitar
- Selain Jolotundo, wilayah Kecamatan Pare juga memiliki destinasi wisata lain seperti Corah Pare, yang baru saja dibuka kembali setelah vakum selama empat tahun akibat pandemi.
- Wisata Corah Pare menawarkan kolam renang, wahana permainan anak-anak, dan area untuk berkemah.
-
Harga tiket masuk untuk wisatawan biasa berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000, tergantung hari kunjungan.
-
Peran Petirtaan Jolotundo dalam Budaya Lokal
- Mitos masyarakat Jawa menyebutkan bahwa siapa pun yang mandi di air Jolotundo akan memiliki wajah tampan dan cantik seperti punggawa Istana Kerajaan Majapahit.
- Selain itu, air Jolotundo juga digunakan untuk pengairan pertanian dan kebutuhan rumah tangga masyarakat sekitar.
- Seiring waktu, Petirtaan Jolotundo semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga memiliki daya tarik alam dan budaya yang kuat.

Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata sejarah dan alam, Petirtaan Jolotundo diharapkan menjadi salah satu destinasi utama di Jawa Timur. Meski belum sepopuler Candi Singasari atau Candi Badut, keunikan dan keistimewaan Jolotundo menjadikannya sebagai tempat yang layak dikunjungi.
#MataAirJolotundo #WisataSejarah #PareKabupatenKediri #PetirtaanJolotundo #WisataEksotis



