Pengusaha Waspadai! Harga Kedelai Naik, Pengrajin di Kecamatan Kota Perkecil Ukuran pada 11 Desember 2025

KediriNews.com – Harga kedelai yang terus meningkat selama beberapa bulan terakhir mulai memengaruhi bisnis para pengrajin di berbagai daerah. Salah satunya adalah pengrajin di Kecamatan Kota yang mengambil langkah tegas dengan memperkecil ukuran produknya pada 11 Desember 2025. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk tetap menjaga kualitas dan daya saing meskipun biaya bahan baku meningkat.

“Kenaikan harga kedelai sekitar Rp 1.000–Rp 2.000 per kilogram dalam dua bulan terakhir membuat kami harus menyesuaikan diri,” ujar salah satu pengrajin di Kecamatan Kota kepada KediriNews.com. “Kami memutuskan untuk memperkecil ukuran produk agar biaya produksi tetap terkendali.”

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan harga kedelai tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia. Penyebab utamanya adalah fluktuasi pasokan akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kepala Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro, menyampaikan bahwa 90 persen impor kedelai Indonesia berasal dari AS. Namun, saat ini China menolak membeli produk kedelai AS, sehingga mengganggu rantai pasok.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga Kedelai

Pandai besi bekerja sama dengan juru tempa

Beberapa faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga kedelai di Indonesia antara lain:

  1. Perang Dagang AS-China: Kebijakan tarif dan pembatasan impor dari China terhadap produk AS telah mengganggu pasokan kedelai ke Indonesia.
  2. Ketergantungan Impor: Indonesia masih sangat bergantung pada impor kedelai, terutama dari AS, yang kini mengalami gangguan.
  3. Stok Minim: Ketersediaan stok kedelai di pasar domestik semakin menipis karena keterlambatan pengiriman dari luar negeri.
  4. Inflasi Global: Kenaikan harga komoditas global secara umum turut memengaruhi harga kedelai di pasar lokal.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan bahwa pemerintah pusat memiliki kewenangan penuh dalam mengatur tata niaga kedelai. Namun, ia berjanji akan membantu menyampaikan keluhan dari pelaku usaha seperti Kopti Jateng.

Dampak pada Pengrajin dan Pelaku Usaha

Pandai ukir di Bali

Dampak kenaikan harga kedelai tidak hanya terasa oleh produsen tahu dan tempe, tetapi juga oleh pengrajin yang menggunakan bahan dasar olahan kedelai. Misalnya, pengrajin kue atau makanan tradisional yang biasanya menggunakan bahan seperti tahu, tempe, atau minyak kedelai. Kenaikan harga ini memaksa mereka untuk melakukan penyesuaian strategi.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memperkecil ukuran produk. Contohnya, sebuah toko kue di Kecamatan Kota memutuskan untuk mengurangi ukuran kue dari 100 gram menjadi 80 gram, sementara harga tetap dipertahankan. Langkah ini diambil untuk menjaga keuntungan tanpa harus menaikkan harga jual secara signifikan.

“Kami tidak ingin konsumen merasa kesal karena harga naik, tapi kami juga harus bertahan hidup,” tambah pemilik toko tersebut.

Upaya Pemerintah dan Solusi yang Diharapkan

Meski pemerintah pusat belum memberikan intervensi langsung, beberapa daerah seperti Jawa Tengah masih mencoba mengambil langkah-langkah kecil untuk membantu pelaku usaha. Misalnya, melalui program subsidi atau insentif pajak bagi pelaku UMKM.

Namun, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemprov Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, mengatakan bahwa saat ini harga kedelai masih di bawah harga acuan pemerintah (HAP), yaitu Rp 12 ribu per kilogram. Oleh karena itu, pihaknya belum bisa mengambil kebijakan intervensi.

“Kami terus memantau perkembangan harga kedelai dan berharap situasi bisa stabil dalam waktu dekat,” ujarnya.

Kesimpulan dan Harapan

Kenaikan harga kedelai yang terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, menunjukkan betapa pentingnya stabilitas pasokan dan harga komoditas pangan. Bagi para pengrajin dan pelaku usaha kecil, hal ini menjadi tantangan besar yang membutuhkan adaptasi cepat dan solusi yang realistis.

Seiring dengan itu, harapan besar ditempatkan pada pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah yang lebih efektif dalam mengatasi gejolak harga ini. Termasuk dalam hal koordinasi dengan negara-negara mitra perdagangan dan peningkatan produksi kedelai lokal.

#HargaKedelaiNaik #PengrajinKota #PengusahaWaspadai #TataNiagaKedelai #UMKM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *