KediriNews.com – Tangis Korban Arisan Kediri: Cerita Pilu Uang untuk Sekolah Anak

Kota Kediri, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan setelah sejumlah warga mengalami kerugian besar akibat arisan bodong yang diduga dijalankan oleh seorang perempuan berinisial N (26). Dari data yang dihimpun, terdapat 355 korban dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp5-6 miliar. Salah satu korban, RT (56), mengungkapkan bahwa uang yang ia habiskan bukan hanya sekadar tabungan biasa, melainkan uang untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

RT, warga Kecamatan Mojoroto, mengaku kehilangan sekitar Rp60 juta akibat arisan ini. Ia menyebutkan bahwa beberapa warga dari Nganjuk dan Blitar bahkan menyetor hingga Rp500 juta kepada N, namun uang tersebut tidak pernah kembali. “Saya ikut karena N menjanjikan keuntungan besar. Awalnya saya melihat story-nya, bahwa N juga jual arisan. Akhirnya saya tanya, itu arisan apa, dijawab N bahwa itu arisan sungguhan,” ujar RT.

Menurut RT, N awalnya dikenal sebagai pemilik toko baju bekas. Namun, ia mulai tertarik bergabung dalam arisan yang dijanjikan memberikan untung besar. “Waktu itu N bilang, ‘Sampeyan ikut bisnis saya saja, daripada uang dihutangkan ke orang tidak balik’.” Meski sempat ragu, N meyakinkan bahwa arisan tersebut benar adanya. RT melihat bukti transfer kepada peserta yang mendapat giliran arisan.

“Awalnya beli Rp5,5 juta, untungnya Rp3 juta. Yang terakhir beli Rp10 juta, dapat untung Rp22 juta. Keuntungan memang menggiurkan, sehingga saya tambah modal sekitar Rp60 juta dan itu sampai sekarang tidak kembali,” paparnya.

Arisan ini disebut mulai berjalan sejak Juli 2025. RT bergabung pada awal November 2025. “Saya ikut awal bulan November dan saya rugi Rp60 juta. Bagaimana yang ikut sejak Juli, tentu bisa rugi ratusan juta,” katanya.

Korban arisan Kediri menunjukkan bukti transaksi

Pengalaman serupa dialami E, korban lainnya. Ia tertarik karena dijanjikan keuntungan besar. “Dengan membeli arisan Rp5 juta, bila dijual kembali bisa laku Rp8 juta. Awalnya berjalan baik, tapi sejak awal Desember 2025 arisan tidak jalan dan uang yang sudah disetor tidak bisa diminta lagi,” ungkapnya.

Tidak hanya merugikan secara finansial, arisan bodong ini juga meninggalkan luka emosional bagi para korban. Banyak dari mereka yang mempercayai N dan menyetorkan uang yang merupakan hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Bahkan, ada yang menyebut uang tersebut adalah uang untuk biaya pendidikan anak-anak mereka.

“Uang itu bukan semata-mata untuk keuntungan pribadi, tapi juga untuk biaya sekolah anak. Itu uang untuk masa depan mereka,” kata RT dengan suara bergetar.

Para korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polres Kediri Kota, Polres Kediri, hingga Polda Jatim. Pada 12 Desember 2025, puluhan peserta arisan mendatangi rumah N di Kelurahan Kampung Dalem dan sempat bertemu. Namun sehari kemudian, N sudah tidak bisa dihubungi dan rumahnya dikunci.

Wajah korban arisan Kediri sedih

Arisan, yang biasanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia, kini menjadi momok bagi banyak orang. Tidak hanya di kota besar, tradisi ini juga lekat dengan kehidupan masyarakat di pedesaan. Bagi para ibu, atau yang sering disapa dengan istilah Moms, arisan sering kali menjadi agenda rutin yang memiliki beragam tujuan. Mulai dari alasan ekonomi hingga sosial, setiap peserta memiliki motivasinya masing-masing.

Namun, kasus arisan bodong di Kediri menjadi peringatan penting bagi masyarakat. Selain membahayakan keuangan, arisan ilegal juga bisa merusak kepercayaan antar sesama. Para korban, termasuk RT dan E, berharap pihak berwajib segera menindaklanjuti kasus ini dan mengembalikan uang yang telah mereka serahkan.

“Ini bukan hanya soal uang, tapi juga tentang keadilan. Kami hanya ingin uang yang kami habiskan untuk kebutuhan anak kembali,” ujar RT dengan mata berkaca-kaca.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa masyarakat harus lebih waspada dalam mengikuti arisan. Jangan mudah tergiur oleh janji-janji keuntungan besar tanpa memastikan legalitas dan kredibilitas pelaku. Karena, seperti yang dialami para korban, uang yang hilang bisa jadi uang untuk masa depan anak-anak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *