JARANAN KEDIRI: Atraksi Makan Beling yang Menghebohkan di Kecamatan Ngasem Tahun 2025

KediriNews.com – Pada 20 Juli 2025, kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, menjadi sorotan setelah masyarakat setempat menggelar atraksi jaranan yang tidak biasa. Salah satu adegan paling menonjol dalam pertunjukan tersebut adalah para penari yang memakan beling, sebuah tindakan yang membuat penonton terkesima dan sekaligus merasa ngeri. Atraksi ini menunjukkan bagaimana kesenian tradisional Jawa Timur masih bisa menarik perhatian masyarakat modern, bahkan dengan variasi yang lebih ekstrem.

Jaranan Kediri, yang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional dari Jawa Timur, memiliki akar sejarah yang panjang. Dalam pertunjukan ini, para penari berpakaian khas dengan atribut seperti topeng dan kostum yang mencerminkan karakteristik ksatria atau makhluk magis. “Jaranan Kediri selalu membawa cerita tentang ksatria Kediri yang berangkat berperang ke medan laga,” ujar salah satu seniman lokal yang ikut serta dalam pertunjukan tersebut.

  1. Sejarah dan Makna Jaranan Kediri

    Jaranan Kediri adalah kesenian yang berasal dari wilayah Jawa Timur, khususnya Kediri. Dalam pertunjukan ini, para penari melambangkan tokoh-tokoh mitos seperti barong atau ksatria. Atraksi ini sering kali disertai dengan musik pengiring yang menggunakan alat-alat seperti gendang, gong, dan terompet. Selain itu, ada juga unsur magis yang menjadi ciri khas dari kesenian ini, seperti trance atau kerasukan roh halus.

  2. Atraksi Makan Beling: Simbol Keberanian dan Kepercayaan Diri

    Atraksi makan beling dalam jaranan Kediri bukanlah sesuatu yang baru, tetapi pada tahun 2025, atraksi ini mendapat perhatian lebih karena dikemas dengan cara yang lebih dramatis. Penari memakan beling sebagai simbol keberanian dan kepercayaan diri. Menurut sumber lokal, atraksi ini dilakukan untuk mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai ketangguhan dan keberanian yang dulu dimiliki oleh para leluhur.

  3. Pengaruh Globalisasi terhadap Kesenian Tradisional

    Meskipun kesenian seperti jaranan Kediri memiliki nilai budaya yang tinggi, globalisasi telah memberikan tantangan tersendiri bagi pelestarian seni tradisional. Banyak generasi muda yang lebih tertarik pada hiburan modern, sehingga kesenian tradisional mulai terpinggirkan. Namun, atraksi makan beling di Kecamatan Ngasem menunjukkan bahwa kesenian ini masih bisa menarik perhatian masyarakat jika disajikan dengan inovasi yang tepat.

  1. Peran Pemerintah dan Komunitas dalam Melestarikan Budaya

    Untuk menjaga keberlangsungan kesenian tradisional, peran pemerintah dan komunitas sangat penting. Di Kediri, beberapa sanggar seni aktif dalam melestarikan jaranan dengan menggelar pertunjukan di tempat-tempat wisata seperti Goa Selomanggeng. Dengan demikian, kesenian ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik pariwisata.

  2. Harapan Masa Depan untuk Jaranan Kediri

    Meski atraksi makan beling menimbulkan pro dan kontra, ia juga menjadi bukti bahwa jaranan Kediri masih mampu menarik perhatian masyarakat. Dengan dukungan dari pemerintah dan komunitas, harapan besar terbuka untuk masa depan kesenian ini. Dengan inovasi yang tepat, jaranan Kediri dapat tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Timur.

“Kesenian jaranan di Kota Kediri harapannya kedepan dapat semakin dikembangkan menjadi lebih menarik dan tidak monoton,” ujar Kepala Disbudparpora Nur Muhyar. Dengan adanya pertunjukan seperti di Kecamatan Ngasem, kesenian ini bisa terus berkembang dan menarik minat generasi muda untuk turut serta dalam pelestarian budaya daerah.

JarananKediri #MakanBeling #Ngasem #KesenianTradisional #BudayaJawaTimur

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *