KediriNews.com – Pada tanggal 9 Desember 2025, warga Kecamatan Mojo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kaget saat sedang menggali sumur. Mereka menemukan bata merah yang diduga merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit. Penemuan ini langsung menarik perhatian masyarakat dan para ahli sejarah, karena bata tersebut memiliki ciri khas dari zaman kuno.
“Saya tidak menyangka akan menemukan sesuatu seperti ini. Awalnya saya hanya ingin membuat sumur untuk kebutuhan rumah tangga,” ujar Sutrisno, salah satu warga yang turut serta dalam penggalian. “Tapi ketika menggali hingga kedalaman sekitar 1 meter, tiba-tiba ada benda keras di bawah tanah. Setelah dikeluarkan, ternyata itu adalah bata merah.”
Bata-bata tersebut memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan bata modern, dengan tekstur yang kasar dan warna merah terang. Menurut para ahli, hal ini sangat mirip dengan bata yang digunakan pada masa kerajaan Majapahit. Selain itu, bentuk dan cara penyusunannya juga menunjukkan teknik konstruksi yang sangat matang.
Penemuan yang Menggemparkan
Penemuan bata merah ini menjadi berita yang sangat menarik bagi masyarakat setempat. Bahkan, banyak warga yang datang ke lokasi untuk melihat langsung temuan tersebut. “Ini bisa jadi bukti bahwa daerah kami pernah menjadi pusat kekuasaan suatu kerajaan kuno,” kata Khoirul Anam, seorang tokoh masyarakat setempat.
Ia juga menyebutkan bahwa daerah Mojo memang sudah lama diketahui sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan sejarah. Namun, penemuan kali ini dianggap sebagai yang paling signifikan sejak beberapa tahun terakhir. “Sebelumnya, kita hanya menemukan pecahan gerabah atau benda-benda kecil. Tapi kali ini, bata merahnya utuh dan cukup besar.”
Struktur Bata yang Mengungkap Kejayaan Majapahit
Menurut informasi dari situs Cagar Budaya Jatim, struktur bata yang ditemukan di Mojo memiliki kesamaan dengan penemuan-penemuan sebelumnya di area Trowulan, seperti Saluran Air Nglinguk I dan Sumur Kuno. Hal ini menunjukkan bahwa teknik konstruksi bata merah telah digunakan secara luas pada masa kerajaan Majapahit.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim, ditemukan bahwa bata-bata kuno biasanya disusun dalam lapisan yang rapi, dengan bata plint di bagian bawah. Teknik ini memberikan kekuatan struktural yang kuat dan tahan terhadap erosi tanah. “Ini membuktikan bahwa insinyur Majapahit memiliki pemahaman mendalam tentang teknik konstruksi,” ujar Tommy Raditya Dahana, Pamong Budaya Pertama BPK Wilayah XI.
Relevansi dengan Situs-Situs Lain di Mojokerto
Penemuan bata merah di Mojo tidak hanya menjadi bukti kejayaan Majapahit, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya. Di sekitar lokasi penemuan, ditemukan juga serpihan-serpihan benda kuno seperti guci, kendi, dan gerabah. Benda-benda ini memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu.
Selain itu, penemuan ini juga menambah daftar panjang situs-situs purbakala di wilayah Mojokerto. Beberapa waktu lalu, warga Ngoro juga sempat menghebohkan publik dengan penemuan sumur kuno. Kini, penemuan di Mojo menunjukkan bahwa daerah ini masih menyimpan banyak rahasia sejarah yang belum terungkap.
Masa Depan Penelitian dan Pelestarian Budaya
Dengan adanya penemuan ini, pihak BPK Jatim dan instansi terkait berencana melakukan survei lanjutan di lokasi penemuan. Tujuannya adalah untuk memastikan kondisi bata dan mempelajari lebih dalam tentang sejarah dan fungsi struktur tersebut.
“Kami akan segera mengirim tim arkeolog untuk meneliti lebih lanjut,” ujar Khoirul Anam. “Semoga penemuan ini bisa menjadi awal dari penelitian yang lebih luas dan membantu memahami peradaban Majapahit lebih dalam.”
Kesimpulan
Penemuan bata merah era Majapahit di Mojo pada 9 Desember 2025 menjadi momen penting dalam dunia arkeologi dan sejarah lokal. Tidak hanya menunjukkan kekayaan budaya daerah, penemuan ini juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, harapan besar terletak pada upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut yang dapat mengungkap lebih banyak fakta sejarah.
