Wabah DB Mengganas: RSUD Gambiran Kecamatan Kota Penuh Pasien pada 4 Desember 2025

KediriNews.com – Wabah Demam Berdarah (DB) kembali mengganas di wilayah Kediri, Jawa Timur. RSUD Gambiran, yang berada di Kecamatan Kota, menjadi salah satu rumah sakit yang paling terdampak. Pada tanggal 4 Desember 2025, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut mencapai puncaknya, dengan ratusan orang harus ditempatkan di ruang rawat inap dan luar biasa padat.

“Situasi sangat memprihatinkan. Kami sudah kehabisan tempat tidur untuk pasien DB,” ujar dr. Aditya Bagus Djatmiko, Direktur RSUD Gambiran. “Banyak pasien datang dalam kondisi kritis, dan kami harus melakukan triase ketat agar bisa menangani semua kasus secara optimal.”

Penyebab Wabah DB yang Meningkat

Masyarakat Kediri melakukan pembersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran nyamuk DB

Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Tengah, kasus DB meningkat tajam sejak akhir tahun 2024 hingga awal 2025. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim dan curah hujan yang tinggi, yang menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DB. Selain itu, masyarakat cenderung kurang menjaga kebersihan lingkungan, seperti tidak membersihkan wadah air yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

“Irma Makiah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jawa Tengah, menyatakan bahwa peningkatan angka kasus DB juga dipengaruhi oleh perbaikan sistem pelaporan dari rumah sakit dan puskesmas. “Kalau insidennya memang naik, karena surveilansinya bagus, penemuan kasusnya tinggi, pelaporan kasusnya bagus,” katanya.

Kesiapan RSUD Gambiran dalam Menghadapi Wabah

Meski situasi sulit, RSUD Gambiran telah mempersiapkan diri sejak lama. Gedung baru yang akan rampung pada akhir 2025 dirancang untuk meningkatkan kapasitas layanan medis, termasuk penambahan 14 mesin hemodialisis dan kamar rawat inap yang lebih luas. Namun, saat ini, gedung tersebut belum sepenuhnya beroperasi, sehingga rumah sakit kesulitan menampung jumlah pasien yang meningkat drastis.

“Kami sedang menunggu proses pengadaan alat dan tenaga medis tambahan. Saat ini, kita hanya bisa menangani pasien dengan sumber daya yang ada,” jelas dr. Aditya.

Upaya Pemerintah dan Masyarakat dalam Pencegahan DB

Untuk mengatasi wabah DB, pemerintah daerah dan masyarakat setempat terus melakukan upaya pencegahan. Salah satunya adalah program 3M (Menguras, Menutup, dan Menguras). Selain itu, beberapa desa di Kediri juga melibatkan kader posyandu dalam memantau keberadaan jentik nyamuk.

“Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari penyebaran nyamuk,” tambah Irma.

Solusi Inovatif untuk Mengurangi DB

Nyamuk DB yang menjadi penyebab wabah di Kediri

Selain upaya tradisional, beberapa solusi inovatif juga sedang diuji coba. Salah satunya adalah pelepasan nyamuk yang telah dimodifikasi dengan bakteri Wolbachia, seperti yang dilakukan di Yogyakarta. Teknologi ini berhasil menurunkan tingkat infeksi DB hingga 77% di wilayah tertentu.

“Ini bisa menjadi alternatif yang efektif untuk mengurangi DB di masa depan,” ujar Prof. Adi Utarini, peneliti dari UGM.

Kesimpulan

Wabah DB yang mengganas di Kediri menunjukkan betapa pentingnya kesiapan dan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan institusi kesehatan. Meskipun RSUD Gambiran masih menghadapi tantangan dalam menangani lonjakan pasien, langkah-langkah preventif dan inovasi teknologi dapat menjadi kunci dalam mengurangi risiko wabah di masa depan.

DB #DemamBerdarah #RSUDGambiran #Kediri #WabahDB

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *