SEPUTAR CIBUBUR – Keramaian mendadak terjadi di sekitar sebuah rumah kontrakan di Jalan Warakas VIII Gang 10, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat, 2 Januari 2025 siang. Warga dan aparat kepolisian berkumpul setelah ditemukan tiga orang meninggal dunia di dalam rumah tersebut.
Korban merupakan satu keluarga, terdiri dari seorang ibu berinisial S (50), anak perempuan berinisial AA (27), serta anak laki-laki berinisial AA (13). Sementara satu anak lainnya ditemukan masih hidup, namun dalam kondisi kritis dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Menerima laporan warga, petugas kepolisian segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sejumlah barang dari dalam rumah kontrakan turut diamankan guna mendukung proses penyelidikan.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar menjelaskan, peristiwa ini pertama kali diketahui oleh salah satu anak korban yang baru pulang bekerja.
“Keterangan awal dari anaknya yang pulang kerja itu, buka pintu kemudian mendapati keluarganya dalam kondisi tiduran tapi mengeluarkan busa,” ujar Seno saat ditemui di Polres Metro Jakarta Utara pada Jumat, 2 Januari 2025.
Melihat kondisi tersebut, anak korban langsung meminta bantuan warga sekitar. Korban yang masih hidup segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Ya saat ini masih dalam perawatan juga, namun pelan-pelan juga kami lakukan interogasi kepada yang bersangkutan,” imbuh Seno.
Seno mengungkapkan, ketiga korban meninggal ditemukan di dalam satu unit kontrakan, namun posisinya terpisah.
“Ada yang di masing-masing kamar dan di ruang tamu,” ucapnya.
Dari hasil pengamatan awal, ketiga jenazah ditemukan dengan kondisi mulut berbusa dan terdapat ruam kemerahan di sejumlah bagian tubuh.
“Ya itu juga masih dalam pemeriksaan ya. Artinya yang secara kasat mata memang ada ruam merahnya,” ujar Seno.
Meski demikian, pihak kepolisian belum dapat memastikan penyebab pasti kematian. Seluruh temuan masih menunggu hasil pemeriksaan dokter forensik.
“Namun, penyebabnya apa atau sebanyak apa, karena apa, masih dalam pemeriksaan dari dokter forensik yang menangani,” kata Seno.
Berbeda dengan korban meninggal, kondisi mulut berbusa tidak ditemukan pada anak yang kritis.
Tim medis masih mendalami apakah terdapat tanda-tanda ruam serupa pada tubuhnya.
“Itu masih kita lakukan pengecekan dan pemeriksaan juga oleh dokter,” ujar Seno.
Hingga Jumat malam, polisi masih melakukan olah TKP lanjutan. Beberapa barang bukti seperti botol minuman dan bungkus sisa makanan diamankan untuk diperiksa lebih lanjut oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor).
“Itu (botol minuman dan bungkus sisa makan) termasuk barang-barang yang tadi saya sebutkan, masuk dalam juga pemeriksaan dari Labfor,” jelas Seno.
Selain itu, polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk dua orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan korban.
“Jadi ada saksi juga yang dari bagian dari keluarga, status mereka adalah putra dari salah satu korban juga, ya. Itu juga sedang kita lakukan pemeriksaan,” ungkapnya.
Seno menegaskan, hingga saat ini penyebab kematian belum dapat disimpulkan.
“Untuk dugaan penyebab kematian belum bisa kita sampaikan saat ini karena proses analisa dan pemeriksaan masih berlangsung,” tegasnya.
Terkait dugaan awal adanya unsur keracunan, polisi menyatakan hal tersebut masih dalam tahap pendalaman.
“Ya, ini masih dalam proses pemeriksaan. Belum bisa kita simpulkan,” tambah Seno.***
