Toilet merupakan fasilitas yang kini dianggap biasa dan tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun, perjalanan panjang menuju toilet modern seperti yang kita kenal sekarang ternyata sangat panjang. Tidak ada catatan pasti tentang siapa penemu pertama toilet siram.
Mengutip The British Association of Urological Surgeons, temuan arkeologis pertama tentang awal mula toilet dimulai di wilayah India barat laut menunjukkan adanya sistem drainase berusia sekitar 4.000 tahun yang diduga digunakan sebagai fasilitas sanitasi.
Meski demikian, para ahli masih memperdebatkan apakah sistem tersebut benar-benar berfungsi sebagai toilet.
Beberapa sejarawan juga mencatat awal mula penggunaan saluran sanitasi di Skotlandia sekitar 3000 SM, serta bangsa Yunani yang membangun Istana Knossos pada 1700 SM.
Di istana tersebut ditemukan wadah tanah liat besar yang terhubung dengan pasokan air, menyerupai sistem toilet siram sederhana.
Sejarah toilet: Era Romawi Kuno dan abad pertengahan
Pada masa Romawi, toilet bukan sekadar tempat buang air. Sekitar tahun 315 M, kota Roma tercatat memiliki 144 toilet umum. Uniknya, orang Romawi menganggap aktivitas ke toilet sebagai kegiatan sosial.
Mereka berbincang, bertukar kabar, bahkan membersihkan diri menggunakan spons yang diikatkan pada gagang kayu.
Spons tersebut dibilas di saluran air yang mengalir di depan toilet dan digunakan kembali oleh pengguna berikutnya.
Praktik ini, meski kini terdengar tidak higienis, diyakini melahirkan ungkapan bahasa Inggris “getting hold of the wrong end of the stick” atau “memegang ujung tongkat yang salah”.
Sejarah toilet di Eropa berlanjut pada Abad Pertengahan, seperti di Inggris, yang mana standar sanitasi malah mengalami kemunduran. Masyarakat umum menggunakan “potties” atau pot kecil yang isinya kerap dibuang langsung ke jalan melalui pintu atau jendela.
Sementara itu, kalangan bangsawan menggunakan “garderobe”, yakni ruangan kecil yang menjorok keluar bangunan dengan lubang pembuangan langsung ke parit atau sungai.
Menariknya, nama garderobe diyakini berasal dari kebiasaan menyimpan pakaian di dekat toilet karena bau menyengat dipercaya mampu mengusir kutu dan parasit.
Namun, praktik pembuangan limbah langsung ke Sungai Thames, terutama dari garderobe umum di London, menimbulkan bau busuk dan memicu berbagai penyakit.
Di belahan dunia lain, masyarakat di Timur Tengah dan Asia sudah mengenal toilet yang lebih higienis dibanding Eropa abad pertengahan, meski dengan sistem pembuangan yang masih sederhana.
Toilet di rumah-rumah Timur Tengah misalnya, berbentuk struktur sederhana, sering kali berupa lubang yang mengarah ke saluran pembuangan atau tangki septik (lubang peresapan), yang kemudian dibilas secara manual dengan menuang air dari wadah.
Kelahiran toilet siram
Garderobe dan toilet umum perlahan digantikan oleh “commode”, sebuah kotak dengan tempat duduk yang menutupi pot dari porselen atau tembaga.
Tokoh-tokoh penting Eropa memiliki cara tersendiri menyamarkan toilet mereka. Raja Louis XI dari Prancis menyembunyikan commode di balik tirai.
Sementara Ratu Elizabeth I menghiasinya dengan beludru merah tua dan renda, serta menggunakan ranting herbal untuk menutupi bau.
Banyak orang mengira Thomas Crapper adalah penemu toilet siram modern pada abad ke-19. Anggapan ini keliru.
Jauh sebelumnya, pada tahun 1592, Sir John Harrington, anak baptis Elizabeth I, telah menciptakan kloset air dengan tangki yang ditinggikan dan sistem pembilasan. Sayangnya, inovasi ini diabaikan hampir dua abad.
Baru pada 1775, Alexander Cummings menyempurnakan desain toilet dengan menciptakan pipa berbentuk S yang mampu mencegah bau busuk dari saluran pembuangan naik ke permukaan.
Lonjakan populasi Inggris pada abad ke-19 menyebabkan krisis sanitasi serius. Di kota padat seperti London dan Manchester, satu toilet bisa digunakan hingga 100 orang.
Limbah meluap ke jalan dan sungai, mencemari sumber air minum yang bahkan berwarna cokelat saat keluar dari pipa.
Kondisi ini memicu wabah penyakit mematikan seperti kolera pada 1830-an dan 1850-an, yang menewaskan puluhan ribu orang. Pemerintah Inggris akhirnya bertindak.
Pada 1848, diwajibkan setiap rumah baru memiliki toilet atau jamban lubang abu. Setelah “bau busuk besar” melanda London pada musim panas 1858, pembangunan sistem saluran pembuangan modern pun diperintahkan dan rampung pada 1865. Hasilnya, angka kematian akibat penyakit berbasis air menurun drastis.
Toilet siram modern
Thomas Crapper memang bukan penemu toilet siram, tetapi kontribusinya tetap penting. Pada 1861, ia ditugaskan Pangeran Edward, yang kelak menjadi Raja Edward VII, untuk membangun toilet di istana kerajaan.
Crapper mematenkan sejumlah komponen toilet dan menjadi pelopor pemasaran toilet melalui ruang pamer.
Bersama tokoh lain seperti George Jennings, Thomas Twyford, dan Henry Doulton, ia membantu membentuk desain toilet yang mendekati bentuk modern saat ini.
Abad ke-20 menjadi masa keemasan teknologi kamar mandi. Muncul katup siram, tangki air yang menyatu dengan mangkuk toilet, serta gulungan kertas toilet yang mulai dipasarkan pada 1902.
Pada 1992, Amerika Serikat mengesahkan kebijakan yang membatasi penggunaan air toilet siram maksimal 1,6 galon per siraman, mendorong lahirnya toilet hemat air.
Kini, teknologi toilet terus berkembang. Toilet siram otomatis, sistem vakum seperti di pesawat, hingga toilet pengompos yang mengubah limbah menjadi pupuk sudah digunakan di berbagai negara, terutama Jepang.





