Robotik medis jadi andalan baru penanganan kanker prostat

, JAKARTA — Pemanfaatan teknologi robotik di sektor medis Indonesia terus menunjukkan kemajuan signifikan. Inovasi ini tidak hanya memperluas pilihan terapi bagi pasien, tetapi juga menandai meningkatnya kapasitas layanan kesehatan nasional dalam mengadopsi teknologi bedah mutakhir yang sebelumnya identik dengan rumah sakit luar negeri.

Salah satu perkembangan terbaru datang dari Eka Hospital MT Haryono yang menghadirkan sistem bedah robotik Da Vinci XI untuk penanganan kanker prostat. Teknologi ini diklaim memungkinkan tindakan operasi minimal invasif dengan tingkat presisi tinggi, sehingga pasien di Indonesia tidak lagi harus mencari layanan serupa ke luar negeri.

Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, dr. Agus Rizal A.H. Hamid, menjelaskan bahwa meski kerap disebut sebagai robot, sistem Da Vinci XI sepenuhnya berada di bawah kendali dokter spesialis. Alat ini berfungsi sebagai perpanjangan tangan dokter untuk menjangkau area operasi yang sulit dengan tingkat akurasi yang lebih baik.

Teknologi ini membantu dokter melakukan pembedahan secara presisi tanpa harus membuat banyak sayatan. “Dengan teknologi robotik kita bisa melakukan operasi itu jadi lebih mudah,” ujarnya saat ditemui Bisnis di Eka Hospital MT Haryono, Selasa (13/1/2025). 

Sistem Da Vinci XI terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, sistem audiovisual yang memberikan visualisasi area operasi secara detail. Kedua, patient cart dengan empat lengan robot yang berada di atas pasien untuk melakukan tindakan pembedahan. 

Ketiga, surgical console, yakni tempat dokter mengendalikan seluruh pergerakan lengan robot secara ergonomis sekaligus memantau kondisi dalam tubuh pasien dalam tampilan tiga dimensi. 

Keunggulan utama operasi robotik dibandingkan laparoskopi konvensional menurut Agus terletak pada kestabilan dan fleksibilitas alat. Lengan robot Da Vinci XI dirancang mampu berputar dan meliuk menyerupai gerakan tangan manusia, namun tanpa tremor dan kelelahan. “Memungkinkan sayatan yang lebih akurat tanpa ada kesalahan akibat tremor maupun tangan yang lelah,” sebutnya.

Dengan empat lengan robot, satu dokter dapat melakukan tindakan yang umumnya membutuhkan lebih dari satu operator. Dari sisi pasien, manfaatnya terlihat pada proses pemulihan yang lebih cepat. 

Agus menyampaikan, minimnya sayatan dan tingginya presisi pembedahan menekan risiko komplikasi pascaoperasi, sehingga durasi rawat inap menjadi lebih singkat.

Sejak 2021, Agus bersama tim mengaku telah melakukan lebih dari 50 tindakan operasi robotik. Berdasarkan pengalaman klinis tersebut, hasil operasi dengan teknologi robotik dinilai lebih baik dibandingkan metode laparoskopi maupun operasi terbuka, terutama dalam menjaga jaringan sehat di sekitar area kanker.

Adapun beberapa tindakan yang sangat direkomendasikan menggunakan teknologi robotik antara lain radikal prostatektomi untuk kanker prostat dengan risiko efek samping pascaoperasi yang lebih rendah. 

Kemudian, partial nephrectomy untuk pengangkatan tumor ginjal tanpa harus mengangkat seluruh organ, serta operasi rekonstruksi saluran kemih yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Adopsi teknologi robotik ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit swasta dalam mempercepat transformasi layanan kesehatan nasional. Dengan semakin banyaknya fasilitas medis yang mengintegrasikan robotik dalam praktik klinis, Agus menilai, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan berteknologi tinggi di dalam negeri diharapkan semakin merata.

Pos terkait