KediriNews.com – Dalam beberapa bulan terakhir, tren penjualan jamu kembali menarik perhatian masyarakat, terutama kalangan Gen Z. Fenomena ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga menghadirkan wajah baru dalam dunia usaha kecil dan menengah (UMKM). Salah satu contohnya adalah sosok penjual jamu cantik yang viral di TikTok, yang akan menjual produknya di Kecamatan Ngadiluwih pada 4 Desember 2025.
Seiring dengan popularitas media sosial, banyak penjual jamu yang memanfaatkan platform tersebut untuk memperkenalkan produk mereka. Salah satunya adalah Santi, seorang penjual jamu asal Bandung yang viral setelah unggahan videonya di TikTok mencuri perhatian netizen. Video-video yang menampilkan Santi menjual jamu dengan gaya santai dan ramah membuat banyak orang tertarik untuk mencoba produknya. Namun, fenomena ini juga memicu berbagai komentar, baik positif maupun skeptis, karena penampilannya yang menarik.
“Saya senang bisa membantu perekonomian keluarga dan juga menjaga tradisi,” ujar Santi saat diwawancara oleh salah satu media lokal. “Dengan adanya tren ini, saya harap lebih banyak orang mengenal dan menghargai jamu sebagai bagian dari budaya Indonesia.”

Selain Santi, ada juga penjual jamu yang dikenal dengan nama Sani, seorang penjual jamu gendong di Kota Bogor. Ia telah menjalani profesi ini selama lebih dari tiga dekade. Berbeda dengan Santi yang viral di media sosial, Sani lebih dikenal oleh pelanggan setianya yang tinggal di sekitar wilayah Air Mancur. Meski usianya sudah lanjut, ia masih aktif berjualan setiap pagi hingga siang hari.
-
Proses Pembuatan Jamu Tradisional
Sani memulai proses pembuatan jamu sejak pukul 03.00 WIB. Ia mulai dengan menumbuk bahan-bahan dasar seperti daun, rimpang, dan gula aren menggunakan lesung. Setelah itu, ia meracik jamu sesuai dengan resep tradisional dan menyimpannya dalam botol plastik. Proses ini dilakukan dengan hati-hati agar rasanya tetap alami dan berkhasiat. -
Pembeli Setia dan Interaksi yang Hangat
Sani memiliki pelanggan tetap yang sudah minum jamu darinya selama puluhan tahun. Mereka bahkan enggan mencoba jamu dari penjual lain. Interaksi antara Sani dan pelanggannya tidak hanya sebatas jual beli, tetapi juga melibatkan percakapan dan cerita keseharian. Ini membuat pengalaman minum jamu menjadi lebih personal dan hangat. -
Tren Baru di Kalangan Gen Z
Selain Sani dan Santi, banyak penjual jamu muda yang mulai menawarkan produk mereka melalui media sosial. Fenomena ini disebut sebagai “party jamu”, di mana anak muda menggelar acara minum jamu bersama teman-teman. Tren ini tidak hanya menarik perhatian generasi muda, tetapi juga memberikan dorongan bagi UMKM lokal.

Kehadiran penjual jamu seperti Santi dan Sani menunjukkan bahwa meski zaman semakin modern, tradisi dan nilai-nilai lokal tetap relevan. Dengan adanya tren baru ini, diharapkan lebih banyak masyarakat yang peduli terhadap produk lokal dan menjaga warisan budaya bangsa.
Kesimpulan
Penjualan jamu yang viral di media sosial dan dijadwalkan berlangsung di Kecamatan Ngadiluwih pada 4 Desember 2025 merupakan bukti bahwa budaya lokal masih hidup dan berkembang. Dengan dukungan dari generasi muda, UMKM seperti penjual jamu dapat terus bertahan dan berkembang. Semoga tren ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan pelestarian budaya Indonesia.





