KediriNews.com – Di tengah dinamika perayaan bulan suci Ramadan, masyarakat kota terus berupaya mempertahankan tradisi yang khas. Salah satu bentuk kegiatan yang menarik adalah lomba kentongan atau patrol sahur yang digelar di beberapa kecamatan. Acara ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya lokal yang semakin langka.
Lomba kentongan, yang sering disebut dengan istilah “tektur” oleh warga setempat, memiliki makna mendalam dalam konteks sejarah dan budaya. Alat musik dari bambu ini dulu digunakan sebagai alat komunikasi jarak jauh. Bunyi kentongan bisa menyampaikan pesan-pesan penting seperti adanya orang meninggal, pencurian, atau bencana. Dengan demikian, kentongan bukan hanya sekadar alat musik, tapi juga bagian dari sistem informasi masyarakat tempo dulu.
Dalam acara lomba kentongan yang digelar di Kecamatan Kota, peserta terdiri dari berbagai kelompok, termasuk remaja dan generasi tua. Menurut salah satu peserta, “Kami belajar memainkan kentongan sejak kecil, tapi kali ini kami ikut lomba agar bisa lebih memahami nilai-nilai tradisi.” Hal ini menunjukkan bahwa meski zaman berubah, semangat untuk melestarikan budaya tetap hidup di kalangan muda.
Sejarah dan Perkembangan Kentongan
Kentongan memiliki akar sejarah yang panjang. Dari berbagai sumber, diketahui bahwa alat ini pertama kali ditemukan oleh pengembara Tiongkok bernama Cheng Ho pada abad ke-15. Ia menggunakan kentongan sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Di Indonesia, kentongan mulai dikenal sekitar abad ke-19, terutama di Nusa Tenggara Barat dan Yogyakarta.
Selain itu, kentongan juga digunakan untuk membangunkan warga saat sahur. Dalam tradisi masyarakat Jawa, bunyi kentongan menjadi tanda bahwa waktu shalat subuh telah tiba. Meski kini teknologi telah menggantikan peran kentongan, namun dalam beberapa daerah, alat ini masih dilestarikan melalui lomba dan pertunjukan.
Peran Kentongan dalam Masyarakat Modern
Meski kentongan kini jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, acara lomba kentongan tetap menjadi daya tarik tersendiri. Seperti yang dilaporkan oleh detik.com, di beberapa wilayah, lomba kentongan digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Ramadan. Acara ini tidak hanya bertujuan untuk hiburan, tetapi juga untuk mengajarkan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda.
Salah satu contoh adalah lomba kentongan yang digelar di Kecamatan Kota. Peserta lomba terdiri dari regu-regu yang dibentuk oleh warga setempat. Mereka latihan secara rutin agar dapat memainkan kentongan dengan baik. Selain itu, para peserta juga diajarkan tentang makna dan sejarah kentongan agar mereka lebih memahami nilai-nilai budaya yang mereka lestarikan.
Tradisi yang Terus Berlanjut
Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, tradisi kentongan tetap dipertahankan. Bahkan, banyak pemuda yang aktif dalam lomba kentongan, menunjukkan bahwa generasi muda tidak ingin kehilangan identitas budaya mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf dalam sebuah acara, “Anak muda sekarang masih meneruskan tradisi patrol yang masih dipelihara dan dilombakan.”
Ini menunjukkan bahwa lomba kentongan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan budaya. Melalui acara ini, generasi muda belajar tentang sejarah, kearifan lokal, dan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Kesimpulan
Lomba kentongan di Kecamatan Kota selama Ramadan merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap budaya lokal. Meski kentongan kini tidak lagi digunakan sebagai alat komunikasi utama, tetapi acara ini memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami dan melestarikan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Dengan begitu, nilai-nilai budaya tidak akan hilang, bahkan akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.







