KediriNews.com – Sebuah video yang menampilkan aksi seorang polisi mendorong motor yang mogok viral di media sosial, khususnya di Kecamatan Ngadiluwih pada 1 Desember 2025. Kejadian ini memicu berbagai reaksi dari warga dan netizen, termasuk pertanyaan tentang apakah tindakan tersebut benar atau tidak. Video tersebut menunjukkan seorang petugas kepolisian mencoba membantu pengendara motor yang mengalami gangguan mesin, dengan cara mendorong kendaraannya.
Dalam video tersebut, terlihat seorang pengendara motor sedang berusaha menghidupkan kendaraannya setelah mogok. Polisi yang menemukan situasi itu langsung memberikan bantuan dengan mendorong motor tersebut. Meski tindakan ini dilakukan dengan niat baik, banyak netizen merasa khawatir karena hal tersebut bisa berpotensi merusak komponen kendaraan, terutama pada motor matik.
“Jangan sampai motor matik didorong, karena bisa merusak transmisi,” ujar seorang mekanik di salah satu bengkel di Lamongan, seperti dikutip dari KOMPAS.com (27/10/2025). Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan mendorong motor saat mogok, terutama jenis matik, bukanlah solusi yang tepat.
Berikut beberapa alasan mengapa motor matik tidak boleh didorong:
-
Sistem Transmisi CVT: Motor matik menggunakan sistem transmisi CVT (Continuously Variable Transmission) yang tidak memiliki gigi percepatan seperti motor manual. Dengan demikian, mendorong motor matik tidak akan membuat mesin menyala.
-
Risiko Kerusakan Komponen: Mendorong motor matik bisa merusak komponen dalam transmisi, termasuk belt dan roller yang sangat rentan terhadap tekanan eksternal.
-
Bukan Solusi Jangka Panjang: Tindakan mendorong hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah. Masalah lebih dalam seperti kerusakan busi, filter bensin, atau kebocoran bahan bakar tetap perlu diperiksa oleh teknisi.
-
Bahaya bagi Pengemudi: Saat mendorong motor, pengemudi berisiko terjatuh atau terluka jika kendaraan tiba-tiba melaju tanpa kontrol.
-
Tidak Efektif untuk Motor Matik: Berbeda dengan mobil manual atau motor bebek, motor matik tidak dirancang untuk dijalankan dengan cara mendorong. Oleh karena itu, tindakan ini tidak disarankan sama sekali.
[IMAGE: Motor matik mogok di jalan raya]
Meski tindakan mendorong motor oleh polisi di Kecamatan Ngadiluwih terlihat sebagai upaya bantuan, penting untuk memahami bahwa cara tersebut tidak efektif dan bisa berisiko. Dalam kasus-kasus seperti ini, sebaiknya pengemudi segera memanggil bantuan dari pihak yang berwenang atau menghubungi layanan darurat.
Selain itu, masyarakat juga perlu lebih waspada terhadap kondisi kendaraannya, terutama setelah mengisi bahan bakar. Seperti yang dilaporkan di Lamongan, Jawa Timur, banyak pengemudi ojol mengeluhkan motor mereka mendadak mogok setelah mengisi Pertalite. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas BBM juga bisa menjadi penyebab utama kerusakan mesin.
Menanggapi keluhan masyarakat, Kapolres Lamongan AKBP Agus Dwi Suryanto menyatakan akan membentuk tim terpadu untuk mengecek SPBU dan penyebab pasti motor mogok massal. “Ini perlu tindakan konkret, tidak hanya sebatas laporan,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, para pengendara motor matik sebaiknya rutin memeriksa kondisi kendaraannya, terutama bagian bensin dan sistem elektronik. Jika motor mulai menunjukkan gejala seperti brebet atau sulit dinyalakan, segera bawa ke bengkel untuk diperiksa.
#MotorMogok #PertaliteBermasalah #NgadiluwihViral #PolisiBantuMotor #MotorMatikPerluHatiHati
