KediriNews.com – Mie Ayam Wonogiri kembali menjadi sorotan setelah porsi jumbo yang disajikan di sebuah warung di Kecamatan Pesantren menarik perhatian warga sekitar. Pada siang hari, 10 Desember 2025, kejadian ini menjadi fenomena unik yang memicu antrean panjang dan diskusi hangat di kalangan masyarakat.
“Kami tidak menyangka bisa sampai seperti ini. Setiap hari, rata-rata ada 30 hingga 40 orang yang datang,” ujar Siti, pemilik warung Mie Ayam Wonogiri yang terletak di dekat pasar tradisional Kecamatan Pesantren. Ia mengaku kaget dengan jumlah pengunjung yang melebihi harapan. “Tapi, ini juga membuktikan bahwa minat masyarakat terhadap mie ayam khas Wonogiri tetap tinggi.”
Sejarah dan Keunikan Mie Ayam Wonogiri

Mie Ayam Wonogiri memiliki sejarah panjang yang terbentuk dari akulturasi budaya Tionghoa dan lokal. Dalam artikel Tempo.co, diketahui bahwa mie ayam ini berasal dari pengaruh budaya Tionghoa yang masuk ke Jawa sejak abad ke-19. Awalnya, mie ayam disajikan dengan bumbu minyak babi, namun seiring waktu, adaptasi lokal membuat penyesuaian bahan dan cara penyajian.
Di Indonesia, mie ayam khas Wonogiri dikenal dengan bumbu khas yang terdiri dari campuran minyak ayam, jahe, lada, ketumbar, kulit ayam, dan bawang putih. Hal ini memberikan rasa gurih dan manis yang khas, serta porsi yang melimpah. Menurut sumber dari Ciputra.ac.id, Mie Ayam Wonogiri telah menjadi ikon kuliner sejati yang menyebar ke berbagai kota di Indonesia.
Porsi Jumbo dan Rasa yang Menggugah Selera
Pada acara spesial di Kecamatan Pesantren, Mie Ayam Wonogiri disajikan dalam porsi yang sangat besar, bahkan lebih besar dari biasanya. Penyajian ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap para pembeli setia. “Kami ingin menunjukkan bahwa mie ayam ini bisa dinikmati dalam porsi yang cukup untuk beberapa orang,” tambah Siti.
Pengunjung yang hadir tidak hanya berasal dari daerah sekitar, tetapi juga dari kota-kota lain. Beberapa di antaranya mengaku datang hanya untuk mencoba varian baru dari Mie Ayam Wonogiri. “Saya sering memesan mie ayam di tempat lain, tapi kali ini rasanya beda. Porsinya sangat besar dan rasanya enak banget,” kata Andi, salah satu pengunjung.
Antrean yang Tak Pernah Berhenti

Antrean panjang terjadi sejak pagi hari, bahkan sebelum warung dibuka. Warga yang ingin mencoba Mie Ayam Wonogiri harus rela menunggu selama beberapa jam. “Kalau tidak sabar, bisa-bisa ketinggalan,” ujar Budi, pengunjung lain yang sudah berada di antrean sejak pukul 08.00.
Warung tersebut juga menyediakan variasi menu lain seperti bakso, pangsit, dan ceker ayam. Semua menu ini dipadukan dengan kuah yang kental dan bumbu yang khas. “Kami juga menyediakan opsi kuah dan kering. Ini memudahkan para pembeli yang ingin menyesuaikan dengan selera mereka,” tambah Siti.
Mie Ayam Wonogiri sebagai Budaya Lokal
Selain sebagai hidangan lezat, Mie Ayam Wonogiri juga menjadi simbol budaya lokal yang kuat. Di banyak kota, termasuk Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya, Mie Ayam Wonogiri telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahkan, festival Mie Ayam dan Bakso Wonogiri 2025 akan digelar di Alun-alun Giri Krida Bakti Wonogiri pada 25-26 Juli 2025, yang bertujuan untuk memperkenalkan kuliner khas Wonogiri secara nasional.
Dengan popularitas yang semakin meningkat, Mie Ayam Wonogiri tidak hanya menjadi favorit bagi warga lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dan pecinta kuliner. Fenomena antrean panjang di Kecamatan Pesantren merupakan bukti nyata bahwa minat masyarakat terhadap kuliner khas Indonesia tetap tinggi, bahkan di tengah perubahan zaman.



