Malam 1 Suro Sakral: Ritual Cuci Keris di Totok Kerot, Pagu pada 6 Juli 2025

KediriNews.com – Dalam rangka memperingati Malam 1 Suro yang dipercaya sebagai momen sakral dalam kalender Jawa, masyarakat Kediri akan menggelar ritual cuci keris di Situs Totok Kerot, Kecamatan Pagu, pada 6 Juli 2025. Tradisi ini merupakan bagian dari upacara jamasan Arca Totok Kerot yang telah menjadi kebiasaan rutin setiap akhir bulan Suro. Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap situs sejarah, tetapi juga simbol pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual yang turun-temurun.

Ritual cuci keris ini dilakukan oleh komunitas juru pelihara situs dan para pengurus adat setempat. Mereka percaya bahwa melalui ritual ini, energi spiritual yang terkandung dalam arca dapat diperkuat, sehingga menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib. “Pembersihan keris bukan sekadar ritual fisik, tapi juga proses spiritual untuk membersihkan diri dari gangguan atau keburukan,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam acara tahun lalu.

  1. Sejarah dan Makna Ritual
    Arca Totok Kerot adalah peninggalan cagar budaya berbentuk Dwarapala—penjaga pintu gerbang dalam mitologi Hindu-Buddha. Diketahui bahwa arca ini digambarkan sebagai sosok raksasa perempuan berambut panjang terurai, dalam posisi setengah duduk. Berdasarkan analisis arkeologis, arca ini diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Kediri sekitar tahun 1042 Masehi.

Legenda menyebutkan bahwa Totok Kerot adalah Putri Lodaya dari selatan yang datang melamar Raja Sri Aji Joyoboyo dengan cara yang kurang santun dan memaksa. Karena perilakunya, ia dikutuk menjadi batu. Cerita ini menjadi pesan moral bagi masyarakat untuk menjaga kesabaran dan sikap santun dalam hidup bermasyarakat.

  1. Prosesi Ritual Cuci Keris
    Ritual cuci keris di Totok Kerot dilakukan secara khidmat dan penuh makna. Para peserta menggunakan air dari tujuh sumber mata air di Kabupaten Kediri, seperti Sumber Sumberejo, Menang, Tengger, dan Sendang Tirto Kamandanu. Air ini melambangkan permohonan pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan dan keberkahan.

Selain itu, para peserta juga membawa sesajen berupa bunga, dupa, dan hasil bumi. Prosesi ini diiringi alunan gending Jawa yang menggambarkan semangat kebersihan dan kesucian. “Air yang digunakan untuk jamasan berasal dari tujuh sumber ini melambangkan permohonan pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar kita senantiasa diberi keselamatan dan keberkahan,” jelas Edris, juru pelihara Arca Totok Kerot.

[IMAGE: Ritual cuci keris di situs Totok Kerot Kediri]

  1. Peran Budaya dalam Pemuda
    Disbudpar Kabupaten Kediri menegaskan bahwa ritual seperti ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. “Bulan Suro adalah jembatan antara masa kini dan warisan adiluhung leluhur. Tradisi ini menanamkan rasa syukur, introspeksi diri, serta semangat gotong royong yang penting dalam kehidupan sosial masyarakat,” tambah Eko Priatno, Kepala Bidang Sejarah, Cagar Budaya, dan Permuseuman (Jakala) Disbudpar Kabupaten Kediri.

Dengan menghidupkan kembali tradisi seperti jamasan Arca Totok Kerot, masyarakat diajak untuk tidak melupakan akar budaya sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah dan kearifan lokal. “Melalui ritual ini, kita bisa merasakan hubungan yang erat antara manusia dan alam, serta antara masa lalu dan masa kini,” tutur Eko.

[IMAGE: Ritual cuci keris di situs Totok Kerot Kediri]

  1. Pengaruh Terhadap Wisata Budaya
    Ritual cuci keris di Totok Kerot tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya. Setiap tahun, ribuan wisatawan dan warga lokal berkumpul untuk menyaksikan prosesi ini. Mereka tidak hanya ingin melihat upacara, tetapi juga belajar tentang sejarah dan legenda yang terkait dengan arca tersebut.

“Kami berharap, dengan adanya ritual ini, minat masyarakat terhadap budaya lokal semakin meningkat,” ujar salah satu pengelola wisata setempat. “Ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda.”

  1. Tantangan Pelestarian Budaya
    Meski ritual ini memiliki makna mendalam, pelestarian budaya seperti ini menghadapi tantangan. Arus globalisasi dan modernisasi sering kali membuat masyarakat lupa akan nilai-nilai lama. Namun, komunitas juru pelihara dan pemerintah setempat terus berupaya untuk menjaga tradisi ini.

“Kita harus sadar bahwa budaya adalah aset yang tak ternilai. Dengan melestarikannya, kita menjaga identitas diri dan kebanggaan terhadap tanah air,” kata Eko Priatno.

#TotokKerot #Malam1Suro #RitualCuciKeris #BudayaJawa #Kediri

Pos terkait