Kumandang adzan mengubah hidup Maria Leoni, perjalanan mualaf temukan ketenangan hati dalam Islam

RUBLIK DEPOK – Sebuah suara lembut menjelang senja menjadi titik balik kehidupan Maria Leoni. Bukan ceramah, bukan pula ajakan langsung, melainkan lantunan adzan Maghrib yang ia dengar dari televisi di rumahnya sekitar dua dekade lalu. Dari suara itulah, perjalanan spiritual Maria Leoni menuju Islam bermula dan perlahan mengubah seluruh arah hidupnya.

Adzan dari Layar Televisi yang Mengetuk Hati

Saat itu, Maria Leoni masih berusia 17 tahun dan duduk di bangku SMA. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga Tionghoa penganut Konghucu. Islam bukanlah agama yang dikenal dekat dalam kehidupannya. Namun setiap kali adzan Maghrib berkumandang di televisi, ada perasaan damai yang sulit ia jelaskan.

Ketenangan itu datang berulang kali, seolah memanggil tanpa kata. Meski belum memahami makna lafaz adzan, hatinya selalu terasa lebih tenang setiap kali mendengarnya. Rasa itu menetap dan perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu yang semakin dalam.

Rasa Penasaran yang Berujung Pencarian

Ketertarikan Maria pada Islam tidak datang dari buku atau kajian formal, melainkan dari interaksi sederhana dengan teman-teman sekolahnya yang beragama Islam. Ia mulai bertanya tentang sholat, tentang Tuhan, dan tentang makna hidup dalam Islam.

Proses itu berjalan perlahan dan tanpa gegap gempita. Hingga akhirnya, dengan bimbingan teman-temannya, Maria memutuskan memeluk Islam. Ia mengucapkan syahadat dalam kesederhanaan, tanpa perayaan, tanpa keluarga yang menyaksikan.

Menjadi Muslim dalam Kesunyian

Setelah memeluk Islam, Maria mulai belajar sholat dan mengaji dengan keterbatasan yang ada. Sepulang sekolah, ia sering menumpang sholat di tempat bimbingan belajar yang ia ikuti. Di sanalah ia bertemu dengan seorang perempuan yang kelak berperan besar dalam perjalanan imannya.

Pemilik bimbingan belajar itu memberi ruang tanpa menghakimi. Maria dipersilakan sholat meski belum mengenakan hijab dan dengan latar belakang keluarga yang berbeda. Dari perhatian itulah, Maria kembali meneguhkan keislamannya dengan bimbingan seorang ustadz.

Syahadat Kedua dan Awal Berhijab

Di sebuah rumah sederhana, Maria mengucapkan syahadat untuk kedua kalinya. Momen itu menjadi penguat keyakinannya. Ia juga menerima hadiah pertama yang sangat berkesan dalam hidupnya, sebuah baju panjang dan jilbab.

Namun keputusan mengenakan hijab bukan perkara mudah. Di rumah, hijab itu kerap ia sembunyikan dalam tas. Ia memakainya saat mengaji, lalu melepasnya kembali sebelum pulang. Pergulatan batin itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya ia memilih untuk istiqamah.

Konflik Keluarga dan Keputusan Berat

Keputusan untuk tetap berhijab memicu konflik dalam keluarga. Maria diminta untuk menyembunyikan identitas keislamannya. Ia diperbolehkan masuk Islam, tetapi tidak untuk menampakkan simbolnya. Tekanan itu membuat suasana rumah tak lagi ramah baginya.

Pada akhirnya, Maria harus menerima konsekuensi besar dari pilihannya. Ia diusir dari rumah dan harus mencari tempat berlindung. Ia kemudian tinggal di sebuah panti asuhan yang membantunya bertahan dan melanjutkan hidup.

Bertahan, Belajar, dan Menata Masa Depan

Di panti asuhan, Maria memperdalam pemahaman agama dan menguatkan mentalnya sebagai mualaf. Lingkungan yang lebih mendukung membuatnya mampu bangkit dan menata masa depan. Hingga akhirnya, ia menikah dengan seorang pria asal Jepara dan memulai kehidupan baru sebagai istri dan ibu.

Jepara kemudian menjadi rumah baginya. Bersama suami, Maria membangun keluarga dan membantu usaha tenun yang mereka rintis. Namun perjalanan hijrahnya tidak berhenti pada kehidupan pribadinya semata.

Dari Mualaf Menjadi Penggerak

Pengalaman pahit sebagai mualaf tanpa pendampingan mendorong Maria untuk membantu orang lain yang mengalami hal serupa. Pada 2022, ia mendirikan Mualaf Center Indonesia di Jepara sebagai wadah pendampingan dan pembinaan bagi para mualaf.

Ia melihat banyak mualaf yang kebingungan setelah mengucap syahadat, baik secara ekonomi maupun spiritual. Dengan keterbatasan dana, Maria mengandalkan relasi dan keikhlasan untuk menggerakkan kegiatan pendampingan.

Tetap Berjalan Meski Tak Selalu Mudah

Dalam perjalanannya, Maria sempat menghadapi dinamika organisasi dan merasa kurang dihargai. Ia memilih mundur dari kepengurusan aktif, namun tidak berhenti membantu para mualaf secara personal. Saat ini, ia tetap aktif mendampingi mualaf dan berkontribusi dalam pembinaan umat.

Panggilan yang Mengubah Segalanya

Dua puluh tahun berlalu sejak pertama kali Maria mendengar adzan Maghrib dari televisi. Kini, ia telah menjadi ibu dari tiga anak, seorang mualaf yang teguh, dan penggerak bagi sesama.

Bagi Maria Leoni, semuanya bermula dari satu panggilan sederhana yang menyentuh hati. Sebuah suara yang datang tanpa paksaan, namun mampu mengubah hidupnya untuk selamanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *