KediriNews.com — Di tengah perkembangan dunia kuliner yang semakin beragam, kue semprit mawar tetap menjadi salah satu camilan tradisional yang tak pernah kehilangan pesonanya. Pada 10 April 2025, warga Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, akan merayakan momen spesial dengan memperkenalkan kue semprit mawar yang renyah dan cantik. Tidak hanya sebagai camilan, kue ini juga menjadi simbol kekayaan budaya lokal yang terus dilestarikan.
“Kue semprit mawar adalah warisan leluhur yang kita jaga sejak dulu,” ujar Ibu Siti, salah satu pengrajin kue di Kecamatan Ngasem. “Bentuknya seperti bunga mawar, rasanya renyah, dan aroma menteganya membuat siapa pun ingin mencobanya.”
Sejarah dan Makna Kue Semprit Mawar
Kue semprit mawar memiliki akar sejarah yang dalam. Meski tidak bisa dipastikan secara pasti asal usulnya, kue ini diduga terinspirasi dari teknik pembuatan kue kering yang berasal dari pengaruh Belanda. Dalam bahasa Indonesia, istilah “semprit” merujuk pada teknik membentuk adonan menggunakan spuit atau cetakan, sehingga menghasilkan bentuk bunga-bunga seperti mawar.
Di Kecamatan Ngasem, kue ini sering dibuat saat acara khusus seperti pernikahan, pesta ulang tahun, atau perayaan hari besar. Namun, pada 10 April 2025, kue semprit mawar akan menjadi pusat perhatian dalam sebuah festival kuliner lokal yang bertujuan untuk melestarikan tradisi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai budaya.
Proses Pembuatan yang Membutuhkan Ketelitian
Pembuatan kue semprit mawar memerlukan ketelitian dan kesabaran. Bahan utama seperti tepung terigu, mentega, gula halus, kuning telur, dan vanili digunakan untuk membuat adonan yang kemudian dibentuk dengan spuit hingga menyerupai bunga mawar. Untuk menambah daya tarik, beberapa pengrajin menambahkan topping seperti choco chip, selai nanas, atau keju parut.
“Setiap pengrajin memiliki resep sendiri, tapi intinya harus menjaga tekstur kue agar tetap renyah dan tidak mudah hancur,” tambah Ibu Siti. “Kami juga memastikan bahwa bahan-bahannya segar dan berkualitas tinggi.”
Festival Kue Semprit Mawar 2025: Melestarikan Budaya
Festival yang akan diadakan pada 10 April 2025 tidak hanya menjadi ajang pameran kue semprit mawar, tetapi juga menjadi wadah bagi para pengrajin lokal untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan. Acara ini akan dihadiri oleh warga setempat, wisatawan, serta pelaku UMKM dari daerah sekitar.
Beberapa aktivitas yang akan dilakukan antara lain:
- Pameran Kue Semprit Mawar: Pengunjung dapat melihat berbagai variasi kue semprit mawar dari berbagai pengrajin.
- Kelas Masak Umum: Para pengrajin akan mengajarkan cara membuat kue semprit mawar kepada peserta.
- Kompetisi Kreasi Kue: Peserta akan berlomba menciptakan kue semprit mawar dengan desain dan rasa yang unik.
- Pembicaraan Budaya: Ahli sejarah dan tokoh masyarakat akan berbicara tentang pentingnya melestarikan tradisi kuliner.
Masa Depan Kue Semprit Mawar
Meski kue semprit mawar sudah ada sejak lama, kini kue ini mulai mendapatkan perhatian lebih dari kalangan muda. Banyak generasi muda yang tertarik untuk belajar membuat kue ini, baik untuk bisnis maupun sekadar hobi. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi kuliner lokal tidak akan hilang, tetapi justru akan terus berkembang.
“Kami berharap dengan adanya festival ini, semakin banyak orang yang mengenal dan menyukai kue semprit mawar,” ujar Ibu Siti. “Ini juga menjadi langkah untuk menjaga keberlanjutan budaya kita.”
Kesimpulan
Kue semprit mawar bukan hanya sekadar camilan, tetapi juga simbol kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Melalui festival yang akan diadakan pada 10 April 2025, warga Kecamatan Ngasem berupaya memperkenalkan kue ini kepada lebih banyak orang sambil tetap menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan kombinasi antara rasa, bentuk, dan makna, kue semprit mawar akan terus menjadi bagian penting dari identitas kuliner Indonesia.
