KediriNews.com – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, kue rangi masih menjadi salah satu simbol kekayaan budaya Betawi yang terus dilestarikan. Kue yang memiliki rasa gurih dan manis ini kembali menarik perhatian publik, terutama setelah dilaporkan akan hadir di Kecamatan Pesantren pada 5 November 2025. Dalam acara tersebut, warga dan pengunjung akan bisa menikmati kue rangi dengan kelapa parut kasar dan olesan gula merah yang menggugah selera.
“Kue rangi adalah bagian dari warisan budaya yang harus tetap dijaga,” ujar Atsarina Luthfiyyah, Senior Editor yang juga memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang Tata Boga dan Jurnalistik. “Dengan adanya acara seperti ini, kita bisa memperkenalkan kue tradisional kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.”
Kue rangi, atau sering disebut sagu rangi, merupakan kue tradisional khas Betawi yang terbuat dari campuran tepung kanji (sagu) dengan kelapa parut yang dipanggang menggunakan cetakan khusus. Proses memasaknya dilakukan tanpa minyak, sehingga memberikan rasa gurih alami. Olesan gula merah yang kental dan dikentalkan dengan sedikit tepung kanji membuat kue ini semakin lezat. Selain itu, beberapa variasi kue rangi juga diberi campuran potongan nangka, nanas, atau durian untuk menambah aroma dan rasa.
Proses pembuatan kue rangi berbeda dari kue-kue lainnya. Cetakan yang digunakan mirip dengan cetakan kue pancong atau bandros, tetapi ukurannya lebih kecil. Beberapa pedagang kecil bahkan tidak menggunakan cetakan sama sekali, melainkan membentuk adonan secara manual. Namun, karena bahan utamanya adalah kelapa tua dan tepung kanji, adonan kue ini mudah basi dan harus segera habiskan dalam waktu satu hari.
Di Kecamatan Pesantren, acara pameran kue rangi pada 5 November 2025 akan menjadi momen penting untuk melestarikan tradisi kuliner ini. Tidak hanya sebagai ajang penjualan, acara ini juga bertujuan untuk mengajarkan cara membuat kue rangi kepada masyarakat, terutama generasi muda yang kurang mengenal jenis kue tradisional.
Beberapa Fakta Menarik tentang Kue Rangi
-
Asal Kata “Rangi”
Nama kue ini berasal dari singkatan “digarang wangi”, yang merujuk pada proses memasak tanpa minyak dan menggunakan bara api dari kayu. Proses ini membuat kue rangi terasa gurih dan aromanya sangat wangi. -
Bahan Utama
Bahan utama kue rangi adalah kelapa tua, tepung kanji atau tapioka, serta sedikit garam dan air. Tepung sagu aren dipilih karena memberikan tekstur kenyal yang khas. -
Cara Memasak
Kue rangi dimasak di atas tungku kecil dengan menggunakan cetakan khusus. Proses ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran agar kue matang sempurna. -
Keberadaan Pedagang
Dulu, kue rangi dijual oleh pedagang yang berkeliling kampung menggunakan gerobak. Namun, akibat perubahan zaman, keberadaan pedagang kue rangi semakin langka. -
Peran dalam Budaya Betawi
Kue rangi bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari ritual dan tradisi masyarakat Betawi, terutama dalam acara-acara tertentu seperti pernikahan atau hari besar.
Selain itu, acara ini juga akan menampilkan berbagai aktivitas lain yang berkaitan dengan budaya Betawi, seperti tarian tradisional dan pertunjukan musik. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan edukatif bagi semua kalangan.
Menurut informasi yang diperoleh, acara ini akan dibuka oleh para tokoh masyarakat dan pelaku usaha lokal. Mereka berharap kehadiran kue rangi dapat membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap produk lokal. “Kita harus bangga dengan budaya sendiri,” tambah Atsarina.
Dengan adanya acara ini, diharapkan kue rangi tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga bisa dinikmati oleh generasi mendatang. Semoga acara pada 5 November 2025 menjadi awal dari perjalanan baru bagi kue tradisional ini.
