KediriNews.com – SPPG Kediri: Inovasi Intervensi Gizi Terintegrasi untuk Cegah Stunting

Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini menjadi perhatian nasional dalam upaya pencegahan stunting melalui inovasi intervensi gizi terintegrasi yang dikenal sebagai Sistem Pelayanan Pemantauan Gizi (SPPG). Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah setempat telah berupaya keras untuk menurunkan angka stunting dengan pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan.

SPPG Kediri merupakan program yang dirancang untuk memastikan kecukupan gizi pada balita sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dianggap sebagai masa kritis bagi perkembangan fisik dan mental anak. Program ini tidak hanya fokus pada aspek nutrisi, tetapi juga mencakup edukasi masyarakat, pemantauan kesehatan, serta pengelolaan sanitasi dan air bersih.

Salah satu inovasi utama dari SPPG adalah pendekatan berbasis komunitas. Melalui Posyandu dan kelompok ibu-ibu hamil, program ini memberikan edukasi tentang pola makan seimbang, pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta cara mengenali tanda-tanda stunting pada anak. Selain itu, para tenaga kesehatan dan relawan juga dilibatkan dalam melakukan kunjungan rumah tangga untuk memantau perkembangan balita secara berkala.

Pendekatan ini didukung oleh kerja sama lintas sektor, termasuk dinas kesehatan, pendidikan, dan pemerintah desa. Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan instansi vertikal sangat penting dalam menekan angka stunting. “Kita harus bekerja sama, karena stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi,” ujar Mas Dhito dalam sebuah rapat koordinasi.

[IMAGE: SPPG Kediri Inovasi Intervensi Gizi Terintegrasi untuk Cegah Stunting]

Selain itu, SPPG juga mengintegrasikan data pemantauan gizi secara digital. Dengan sistem informasi yang terpusat, data status gizi balita dapat dipantau secara real-time, sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Hal ini membantu mengatasi masalah ketidakakuratan data yang sering kali menjadi hambatan dalam penanganan stunting.

Berdasarkan hasil Bulan Timbang Agustus 2025, angka stunting di Kabupaten Kediri turun dari 8,46 persen pada 2024 menjadi 8,04 persen. Meski penurunan masih tergolong kecil, upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat telah mendapatkan apresiasi nasional. Kediri berhasil meraih penghargaan sebagai kabupaten terbaik pertama di Jawa Timur dalam pelaksanaan aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting 2025.

[IMAGE: SPPG Kediri Inovasi Intervensi Gizi Terintegrasi untuk Cegah Stunting]

Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, menjelaskan bahwa kesuksesan ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak, termasuk forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) dan organisasi perangkat daerah (OPD). “Ini tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah daerah tetapi juga seluruh unsur yang terlibat,” tambahnya.

Program SPPG Kediri menjadi contoh nyata bagaimana inovasi intervensi gizi terintegrasi dapat menjadi solusi efektif dalam menekan angka stunting. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, edukasi yang luas, dan kolaborasi yang kuat, Kediri berharap dapat mencapai target zero stunting dalam waktu dekat.

Pos terkait