Goa Selomanggeng terletak di bagian utara Kota Kediri, Jawa Timur. Nama “Selomanggeng” berasal dari bahasa Jawa, di mana “selo” berarti batu dan “manggeng” berarti miring. Nama ini merujuk pada letak gua yang berada di lereng bukit, sekitar 40 meter dari dataran rendah. Goa ini terbentuk dari batu andesit hitam berukuran besar, sehingga tampak mencolok dari kejauhan.
Di dalam gua, pengunjung akan menemukan tiga ruangan utama. Ruangan pertama cukup sempit dan minim cahaya. Di sisi kiri dan kanan ruangan utama, terdapat dua celah pintu kecil menuju ruangan lainnya. Di dalam ruangan kiri, pengunjung harus sedikit merangkai karena ukuran pintunya yang kecil. Sementara di ruangan kanan, terdapat pahatan yang menyerupai ornamen candi, memperkuat nuansa sakral.
Menurut cerita rakyat, Goa Selomanggeng pernah menjadi tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga yang memilih jalan spiritual daripada menerima tahta kerajaan. Kisah ini menambah nilai historis dan spiritual dari situs ini, menjadikannya bukan hanya tempat wisata, tapi juga tempat ziarah dan perenungan.
Namun, yang membuat goa ini lebih menarik perhatian adalah mitos tentang suara tangisan yang terdengar setiap malam Selasa Kliwon. Banyak pengunjung yang mengaku mendengar suara tangisan dari dalam gua, terutama saat malam hari. Suara tersebut disebut-sebut berasal dari arwah para leluhur yang masih berkeliaran di tempat tersebut.
Berdasarkan mitos yang beredar, Selasa Kliwon dianggap sebagai hari keramat dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Hari ini dipercaya sebagai waktu bagi makhluk-makhluk gaib berkeliaran. Dalam tradisi Jawa, Selasa Kliwon juga dikaitkan dengan Anggoro Kasih, istilah yang berasal dari bahasa kawi. Kata “Anggoro” berarti Selasa, sedangkan “Kasih” berarti Kliwon.
Dalam beberapa sumber, Selasa Kliwon juga dikaitkan dengan ritual-ritual tertentu. Misalnya, Sara Wijayanto, praktisi supranatural, menggelar ritual khusus setiap Selasa Kliwon. Ia menyebut bahwa pesan-pesan dari leluhur sering kali berkaitan dengan isu-isu politik terkini. Bahkan, prediksi tersebut terkadang terbukti menjadi kenyataan.
Meskipun begitu, tidak semua orang percaya akan mitos ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa suara tangisan yang terdengar bisa saja berasal dari alam sendiri, seperti angin yang berhembus melalui celah-celah gua atau suara hewan liar di sekitar area gua.
Namun, bagi yang percaya, mitos ini memberikan nuansa magis dan mistis yang semakin menambah daya tarik Goa Selomanggeng. Tempat ini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga menjadi lokasi yang penuh makna bagi mereka yang ingin merenung atau mencari ketenangan.







