Kota Kediri, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan setelah Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati atau yang akrab disapa Mbak Wali, menemukan sampah menumpuk di saluran air pusat kota saat melakukan sidak. Kejadian ini terjadi pada hari Rabu (18/5/2025) ketika ia mengunjungi area bawah jembatan Sungai Kedak yang dikenal sebagai titik rawan penyumbatan.
Menurut informasi yang diperoleh, sampah yang ditemukan berupa plastik, kayu, dan potongan bambu yang terbawa arus. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena bisa mengganggu aliran air dan meningkatkan risiko banjir, terlebih jika curah hujan tinggi seperti beberapa hari terakhir.
Mbak Wali menyampaikan kekecewaannya atas kondisi tersebut. “Saya sangat murka melihat kondisi ini. Ini bukan hanya masalah kebersihan, tapi juga kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya dengan nada tegas.

Menindaklanjuti laporan warga, pemerintah Kota Kediri langsung bertindak cepat dengan mengerahkan tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP), Dinas PUPR, serta BPBD untuk membersihkan saluran air tersebut. Tim ini telah melakukan survei awal sebelumnya dan menemukan bahwa sampah yang menyumbat aliran tidak hanya berupa plastik, tetapi juga material lain yang sulit terurai.
Kepala DLHKP Kota Kediri, Imam Muttakin, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya memilah sampah di tingkat rumah tangga. “Kami mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Selain itu, bank sampah juga menjadi salah satu strategi yang kami dorong,” katanya.

Mbak Wali juga mengingatkan masyarakat akan permasalahan sampah yang semakin serius. Ia menekankan bahwa sampah rumah tangga masih mendominasi jumlah timbulan sampah di Kota Kediri. “Plastik sekali pakai yang sulit terurai menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Kami harap masyarakat dapat lebih sadar dan proaktif dalam mengelola sampah,” ujarnya.
Selain itu, Wali Kota termuda ini juga menyoroti pentingnya partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti Lomba Zero Waste Kelurahan dan program Sapta Cita menjadi bagian dari upaya mewujudkan Kota Kediri MAPAN, khususnya dalam menciptakan lingkungan yang indah dan berkelanjutan.
“Kami juga mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk menanam tanaman. Meskipun lahan di perkotaan terbatas, penanaman menggunakan polybag bisa menjadi solusi,” tambahnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus sampah yang ditemukan oleh Mbak Wali di saluran air pusat kota Kediri menunjukkan bahwa masalah kebersihan dan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan nyata bagi kota-kota besar. Di Jakarta Barat, misalnya, warga juga diimbau untuk tidak membuang sampah ke saluran air karena dapat merusak pompa penanggulangan banjir.
“Jika pompa rusak, genangan air akan sulit dialirkan, sehingga berpotensi menyebabkan banjir di permukiman warga,” ujar Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Kediri, di mana TPA kota hampir mencapai puncak kapasitasnya. Setiap hari, sekitar 150-160 ton sampah masuk ke TPA. Oleh karena itu, pendekatan preventif melalui edukasi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah ini.
Mbak Wali berharap, dengan langkah-langkah yang dilakukan, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan bisa meningkat. “Mari kita bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Karena kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.





