KediriNews.com – Calon jamaah haji di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini tengah menjalani proses perekaman biometrik sebagai bagian dari persiapan keberangkatan untuk tahun 2026. Proses ini dilakukan sebagai salah satu syarat wajib dalam pengajuan visa haji ke Kerajaan Arab Saudi.
Menurut Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, proses perekaman biometrik meliputi data sidik jari, foto wajah, serta informasi identitas calon jemaah haji. Data tersebut akan langsung terintegrasi dengan sistem pengajuan visa haji yang digunakan oleh pihak berwenang di Arab Saudi.
“Alhamdulillah, proses perekaman biometrik sudah dimulai di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur, termasuk Kediri. Kami mengimbau agar calon jemaah haji yang masuk daftar keberangkatan tahun 2026 segera mengikuti proses ini di Kantor Kemenag setempat,” ujar Kepala Bidang PHU Kediri, H. Aminuddin.
Perekaman biometrik ini menjadi langkah penting untuk mempercepat dan mempermudah proses pengurusan visa haji. Dengan adanya data biometrik yang terintegrasi, diharapkan proses administrasi bisa lebih efisien dan transparan.
Proses perekaman biometrik dilakukan secara bertahap, dengan sistem antrian yang teratur dan didampingi oleh petugas. Hal ini dilakukan guna memastikan kenyamanan dan kelancaran bagi jemaah, terutama para lansia yang mungkin kurang mahir dalam menggunakan teknologi.
H. Aminuddin menambahkan, meskipun pengumuman resmi daftar jemaah haji tahun 2026 belum dilakukan, masyarakat dapat mengecek estimasi tahun keberangkatan mereka melalui aplikasi Satu Haji. Mereka yang masuk dalam estimasi keberangkatan 2026 itulah yang saat ini mulai diproses perekaman biometriknya sebagai bentuk antisipasi dan mitigasi awal.

Selain itu, Kemenag Kediri juga memberikan layanan pendampingan bagi jamaah yang kesulitan dalam melakukan perekaman mandiri. Meski proses ini sebenarnya bisa dilakukan secara mandiri melalui aplikasi Saudi Visa Bio, namun untuk memudahkan jamaah, khususnya yang tidak terlalu familiar dengan teknologi, Kemenag menyediakan layanan bimbingan di kantor.
“Rekam biometrik ini harusnya dilakukan secara mandiri oleh jamaah, tapi dalam rangka memudahkan jamaah, mengingat majemuknya kondisi jamaah haji Indonesia, ada yang mungkin masih gagap teknologi (gaptek), maka kami langsung membantu jamaah melakukan perekaman di Kantor Kemenag,” tambah H. Aminuddin.

Dalam proses perekaman, jamaah diminta mempersiapkan beberapa dokumen seperti paspor haji yang asli dan KTP. Selain itu, jamaah juga perlu mengunduh aplikasi Saudi Visa Bio di Playstore atau App Store, kemudian melakukan pendaftaran dengan melampirkan sejumlah syarat yang diperlukan.
H. Aminuddin berharap dalam proses perekaman visa biometrik ini tidak menemui kendala. “Dari pantauan kami, rekam biometrik untuk satu orang cukup 30 menit sampai satu jam, namun kami berharap tidak ada yang terkendala dalam prosesnya,” katanya.
Target utama dari proses perekaman biometrik ini adalah selesainya seluruh data jamaah haji Kediri pada Desember 2025 tanpa kendala. Dengan demikian, proses pengajuan visa haji akan lebih cepat dan efisien, sehingga jemaah bisa lebih siap dalam menjalani ibadah haji di Tanah Suci.
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam memberikan layanan terbaik kepada jemaah, mulai dari tahap persiapan hingga pemberangkatan ke Tanah Suci.





