KediriNews.com – Heboh! Munculnya Ikan ‘Aligator’ di Sungai Brantas Kediri, Bahayakan Ekosistem Lokal?

Pengunjung yang biasa berbelanja ikan segar di sekitar Sungai Brantas, Kediri, Jawa Timur, kini dihebohkan oleh munculnya sebuah ikan yang tidak biasa. Ikan yang dikenal sebagai “aligator” atau Alligator gar tiba-tiba muncul di area perairan tersebut, memicu kekhawatiran terhadap ekosistem lokal. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang, warga dan peneliti mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari keberadaan spesies asing ini.

Sungai Brantas, yang menjadi sumber kehidupan bagi ribuan penduduk sekitar, selama ini dikenal dengan kekayaan ikan lokal seperti rengkik, wader, dan nila. Namun, fenomena alam seperti pladu (pengurasan air waduk) sering kali membawa berbagai jenis ikan ke permukaan. Pada tahun ini, kondisi pladu tercatat lebih baik dibanding tahun sebelumnya, dengan volume ikan yang lebih banyak. Namun, keberadaan ikan aligator menimbulkan pertanyaan besar tentang apakah ini adalah ancaman baru bagi lingkungan.

[IMAGE: Ikan aligator di sungai brantas kediri]

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan aligator bukanlah spesies asli Indonesia. Jenis ikan ini termasuk dalam daftar larangan pemasukan, pembudidayaan, peredaran, dan pengeluaran karena potensi bahayanya terhadap ekosistem perairan. Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, Pung Nugroho Saksono, menjelaskan bahwa ikan aligator bersifat buas dan bisa merusak populasi ikan lain jika lepas ke perairan umum.

“Jika ikan ini lepas ke perairan umum, bisa mengancam penurunan populasi ikan lainnya dan akan merusak ekosistem perairan tersebut,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus-kasus serupa telah terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Contohnya, di Waduk Sermo, Daerah Istimewa Yogyakarta, populasi ikan red devil telah mengalahkan ikan endemik waduk tersebut. Di Waduk Wonorejo dan sungai-sungai di Palembang, invasi ikan-ikan asing juga mengancam keberlanjutan ekosistem setempat.

Di Kediri, situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran para peneliti dan aktivis lingkungan. Jofan Ahmad dari Komunitas Penyayang Ikan Perairan Nusantara (Kopipa) mengatakan bahwa Sungai Brantas kini dalam kondisi kritis akibat pencemaran. Ia menyoroti bahwa penurunan jumlah ikan lokal seperti ikan papar atau belida sudah sangat signifikan.

“Secara tidak langsung, daerah juga kehilangan jati diri atau identitas lokalnya,” katanya.

[IMAGE: Ikan aligator di sungai brantas kediri]

Ecoton, lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan, mencatat bahwa di Sungai Brantas hilir saat ini hanya tercatat 7 jenis ikan lokal, jauh lebih sedikit dibanding 10 tahun lalu yang mencapai 13 jenis. Hal ini menunjukkan penurunan drastis dalam keragaman hayati perairan.

Prigi Arisandi, peneliti ikan Sungai Brantas dan founder Ecoton, menambahkan bahwa ketidakseimbangan rasio jenis kelamin ikan di sungai juga menjadi indikasi adanya gangguan hormon. Kondisi ini bisa disebabkan oleh limbah industri dan domestik yang mengandung bahan kimia EDC (Endocrine Disruptor Chemicals) yang memicu intersex pada ikan.

“Jika terus berlanjut, populasi ikan dapat terganggu dan mengancam ekosistem sungai secara keseluruhan,” tegasnya.

Dengan situasi ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama dalam menjaga kebersihan Sungai Brantas. Tindakan preventif seperti peningkatan pengawasan limbah industri, edukasi masyarakat, serta pelibatan komunitas lokal dalam perlindungan lingkungan menjadi langkah krusial.

Sebagai masyarakat, kita harus tetap waspada terhadap keberadaan ikan-ikan asing di lingkungan kita. Keberadaan ikan aligator di Sungai Brantas, meskipun masih dalam tahap pengamatan, menjadi peringatan bahwa ekosistem kita bisa saja terancam oleh faktor-faktor eksternal. Dengan kesadaran dan kolaborasi, kita dapat menjaga keberlanjutan alam dan sumber daya yang menjadi bagian dari identitas kita.

Pos terkait