Di tengah tantangan pertanian modern, petani di Kabupaten Kediri menunjukkan kinerja luar biasa dengan menghasilkan ratusan juta rupiah dari budidaya melon. Pada 15 Desember 2025, keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dan teknologi bisa membawa perubahan besar dalam sektor pertanian.
Sejak awal tahun 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan menggagas proyek budidaya melon hidroponik di lahan idle UPTD Benih Pare seluas 800 meter persegi. Proyek ini tidak hanya menjadi solusi untuk memanfaatkan lahan yang terbuang, tetapi juga menjadi pemicu bagi generasi muda untuk tertarik berkebun dengan cara modern.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan rintisan untuk memberikan motivasi kepada generasi muda agar mulai tertarik bertani dengan metode modern.
“Panen perdana greenhouse melon hidroponik. Ini sebagai rintisan dari kami agar anak-anak muda, ini di belakangnya Mbak Wabub. Kemarin sudah mengikuti kegiatan dari memulai sampai hari ini. Sehingga nanti kami berharap setelah lulus, sambil kuliah bisa menanam melon. Harapan kami itu,” ujarnya.

Proyek ini berhasil menghasilkan 3,5 ton melon dengan harga jual mencapai Rp25.000 per kilogram dari petani. Harga ini lebih tinggi dibandingkan melon konvensional, sehingga memberikan penghasilan yang signifikan bagi para petani.
Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan uji coba tiga jenis melon hidroponik, yaitu Golden Apolo, Inathon, dan Huni Glups. Ia berharap, pengembangan pertanian modern seperti ini menjadi pemicu bagi petani muda agar dapat memanfaatkan teknologi pertanian tanpa harus bekerja berat di sawah.
“Harapan Mas Bupati, kegiatan ini bisa menjadi trigger bagi petani muda. Mereka tidak harus turun ke sawah bawa cangkul, karena dengan teknologi seperti ini, sambil sekolah pun bisa bertani dan menghasilkan,” ujarnya.
Vinorita, Fungsional POPT Dispertabun, menjelaskan bahwa keunggulan melon hidroponik dibandingkan tanaman konvensional adalah lebih efisien dalam pengendalian hama dan aman di musim hujan.
“Kalau kita di lahan, kita harus menyemprot bolak-balik. Kalau ini, pengendalian OPT kita hanya berdasarkan ada serangan atau tidak. Jadi lebih murah di sini, hanya saja biaya awalnya besar,” katanya.

Selain itu, budidaya melon hidroponik di Kediri juga dilakukan oleh petani milenial di Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota. Mereka menanam berbagai varietas unggulan seperti Inthanon, Sweet Hami, Sweetnet 9, Lavender, Fujisawa, dan Sweet Citrus. Total produksi mencapai kurang lebih 2,5 ton dengan rata-rata berat panen per buah 1,5 kilogram.
Seluruh proses budidaya dilakukan tanpa pestisida kimia, melainkan menggunakan pestisida alami serta pupuk AB Mix. Sistem fertigasi berbasis gravitasi tanpa listrik diterapkan dengan media tanah dalam greenhouse. Produk melon ini juga telah lulus uji laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG) dan mengantongi sertifikat Good Agricultural Practices (GAP.01-35.71.1-I.039).
Menurut penyuluh pertanian setempat, Agus Fatony, kualitas produksi harus terus dijaga secara berkelanjutan.
“Kami harapkan petani dapat terus menjaga kualitas produksi melon hidroponik secara berkelanjutan, memenuhi standar keamanan pangan, serta memperluas jaringan pemasaran,” ujarnya.
Pemasaran melon premium bebas pestisida ini menyasar konsumen langsung (end user) dan reseller. End user tersebar di Malang, Tuban, Lamongan, dan Pati, sementara reseller mendistribusikan hingga ke Bali, Garut, dan Cilacap.
Keberhasilan ini diharapkan dapat memperkuat peran petani millenial dalam membangun pertanian modern yang sehat, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Kehadiran melon hidroponik di Kediri bukan hanya sekadar inovasi pertanian, tetapi juga menjadi simbol kemajuan ekonomi lokal. Dengan pendapatan ratusan juta rupiah, para petani Kediri menunjukkan bahwa pertanian modern bisa menjadi sumber penghidupan yang stabil dan menguntungkan.





