Harga emas menguat di awal 2026, isu global dan kebijakan The Fed angkat sentimen pasar

– Pasar emas dunia mengawali 2026 dengan momentum yang tetap solid.

Logam mulia ini meneruskan penguatan besar yang telah terbentuk sepanjang 2025, dipacu oleh kombinasi meningkatnya tensi geopolitik global serta ekspektasi pelaku pasar terhadap pelonggaran suku bunga di Amerika Serikat.

Situasi tersebut membuat emas terus dipandang sebagai instrumen perlindungan nilai yang diminati di tengah ketidakpastian ekonomi internasional.

Pada perdagangan Sabtu, 3 Januari 2026, harga emas spot terpantau bergerak stabil di kisaran USD 4.313,29 per ons. Meski demikian, pada awal sesi perdagangan harga sempat melonjak dan menyentuh level USD 4.402,06 per ons.

Sebelumnya, emas batangan telah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di posisi USD 4.549,71 per ons pada 26 Desember, sekaligus menorehkan kenaikan spektakuler sekitar 64% sepanjang 2025.

Berbeda dengan pasar spot, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari justru ditutup melemah tipis 0,3% ke level USD 4.329,6 per ons.

Faktor Utama Kenaikan Harga Emas

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai perhatian pasar saat ini masih tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Ia menjelaskan bahwa diskusi mengenai potensi pemangkasan suku bunga pada Maret serta kemungkinan penurunan lanjutan di akhir tahun, ditambah kekhawatiran terkait risiko tarif dan persoalan utang AS, menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas, perak, platinum, dan paladium.

Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan menurunkan suku bunga setidaknya dua kali, masing-masing sebesar seperempat poin.

Kondisi tersebut membuat emas, yang tidak menawarkan imbal hasil bunga, menjadi relatif lebih menarik dibandingkan instrumen investasi berbasis suku bunga.

Selain faktor kebijakan moneter, penguatan emas juga ditopang oleh situasi geopolitik global. Sebagai aset safe haven, emas memperoleh keuntungan dari meningkatnya ketegangan di Iran, belum tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, serta konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Dari sisi analisis teknikal, peluang kenaikan harga emas dinilai masih terbuka. Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyampaikan bahwa secara teknis target kenaikan berikutnya bagi kontrak berjangka emas Februari adalah penutupan harga di atas level resistensi kuat pada rekor tertinggi kontrak, yakni di kisaran USD 4.584.

Tak hanya emas, pasar fisik logam mulia juga menunjukkan perkembangan menarik. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua bulan terakhir, emas fisik diperdagangkan dengan harga premium di India dan China, yang mencerminkan kembali menguatnya permintaan di dua pasar utama tersebut.

Pergerakan Perak dan Logam Mulia Lain Ikut Menguat

Sementara itu, harga perak di pasar spot naik 0,7% ke posisi USD 71,77 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 83,62.

Platinum bahkan melonjak 3,5% menjadi USD 2.125,80 per ons, setelah sebelumnya mencetak level tertinggi di USD 2.478,50 per ons. Sepanjang 2025, kinerja perak dan platinum tercatat melampaui emas.

Harga perak melonjak lebih dari 147%, didorong statusnya sebagai mineral strategis di AS, keterbatasan pasokan, serta rendahnya persediaan di tengah kuatnya permintaan industri dan investasi. Platinum juga mencatat kenaikan tajam sekitar 127% dalam setahun terakhir.

Palladium turut mengalami penguatan hampir 2% ke level USD 1.636,43 per ons. Sepanjang 2025, logam ini membukukan kenaikan sekitar 76%, yang menjadi lonjakan tahunan tertinggi dalam 15 tahun terakhir.

Meski reli signifikan terjadi menjelang akhir tahun, analis memperkirakan seluruh logam mulia berpotensi mengalami koreksi mingguan akibat aksi ambil untung investor.

Di dalam negeri, dinamika pasar logam mulia tercermin pada pergerakan harga perak Antam. Memasuki awal 2026, harga perak murni produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menunjukkan penguatan cukup tajam.

Pada Jumat, 2 Januari 2026, harga perak Antam tercatat naik menjadi Rp44.565 per gram, atau meningkat Rp700 dibandingkan hari sebelumnya. Pergerakan ini menarik perhatian pelaku pasar dan investor ritel.

Sebelumnya, pada Kamis, 1 Januari 2026, harga perak Antam masih berada di level Rp43.865 per gram setelah sempat tertekan.

Fluktuasi tersebut kembali menegaskan karakter pasar logam mulia yang sensitif terhadap berbagai faktor ekonomi global dan domestik, sekaligus memperkuat posisinya sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *