KediriNews.com – Festival Waisak 2025 kembali menjadi momen penting dalam kalender budaya dan spiritual masyarakat Indonesia. Salah satu acara yang paling dinantikan adalah pelepasan lampion di Candi Borobudur, Magelang. Dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak, acara ini menjadi simbol kekayaan budaya dan agama Buddha yang terus dilestarikan.
“Setiap tahun, festival lampion menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Waisak. Ini bukan hanya ritual, tapi juga bentuk penghormatan terhadap ajaran Buddha,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Lampion Waisak Nasional, Fatmawati, seperti dilansir dari Disway.id. “Lampion yang diterbangkan merupakan simbol cahaya kebijaksanaan dan welas asih.”
Jadwal dan Lokasi Festival Lampion
Festival Lampion Waisak 2025 akan diselenggarakan pada Senin, 12 Mei 2025, tepat pada puncak perayaan Waisak. Acara ini akan berlangsung di dua sesi, yaitu:
- Sesi pertama: Pukul 18.00-20.00 WIB
- Sesi kedua: Pukul 21.00-23.00 WIB
Open gate untuk sesi pertama dimulai pukul 16.30-17.30 WIB, sedangkan untuk sesi kedua pukul 20.00-21.00 WIB. Lokasi utama pelepasan lampion berada di Lapangan Marga Utama dan Taman Lumbini Candi Borobudur.
Tema dan Makna Cahaya Kedamaian
Tema yang diusung dalam Festival Lampion Waisak 2025 adalah Light of Peace atau Cahaya Kedamaian. Tema ini menjadi benang merah dalam seluruh rangkaian acara. “Tema ini mengandung harapan bahwa cahaya kebijaksanaan dan welas asih ajaran Buddha dapat menerangi dunia serta membawa pesan perdamaian ke seluruh penjuru bumi,” jelas Fatmawati.

Harga Tiket dan Persyaratan
Untuk mengikuti Festival Lampion Waisak 2025, setiap peserta harus membeli tiket seharga Rp 500 ribu per orang. Tiket ini sudah termasuk masuk ke Candi Borobudur. Selain itu, peserta wajib mengenakan dresscode warna putih dan sopan.
Fatmawati menjelaskan bahwa lampion yang digunakan berasal dari Thailand. “Lampion ini aman dan ramah lingkungan karena terbuat dari kertas tipis yang mudah terbakar,” tambahnya.
Rangkaian Acara Sebelum Pelepasan Lampion
Sebelum acara pelepasan lampion, para peserta akan diajak untuk ikut serta dalam meditasi dan menulis doa. Setiap peserta akan diberikan kertas untuk menuliskan doa dan harapan mereka, yang kemudian ditempelkan di lampion sebelum diterbangkan.
“Acara ini dimulai dengan pembacaan paritta-paritta suci agama Buddha. Kami bermeditasi malam Waisak yang syahdu dan sangat sakral,” ujar Fatmawati.

Perayaan di Tempat Lain
Meskipun Festival Lampion Waisak 2025 lebih dikenal di Candi Borobudur, perayaan Waisak juga dirayakan di berbagai daerah di Indonesia. Contohnya, di The Springs Club, Gading Serpong, Tangerang, para relawan Tzu Chi menyelenggarakan acara Tri Suci Waisak yang penuh makna.
Di acara tersebut, para peserta tidak hanya melakukan prosesi basuh kaki ibu, tetapi juga mengikuti ceramah dan doa bersama. “Menenangkan hati dan membahagiakan kedua orang tua kita, itulah berbakti,” kata Master Cheng Yen dalam perenungan yang diambil dari sumber berita Tzu Chi.
Kesimpulan
Festival Waisak 2025, khususnya pelepasan lampion di Candi Borobudur, menjadi simbol kekayaan budaya dan spiritual bangsa Indonesia. Dengan tema Cahaya Kedamaian, acara ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga ajang untuk merenungkan nilai-nilai kebijaksanaan dan welas asih ajaran Buddha.
Bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman unik dan mendalam, Festival Lampion Waisak 2025 menjadi salah satu acara yang patut dikunjungi. Dengan persiapan matang dan peserta yang antusias, acara ini diharapkan bisa menjadi momen bersejarah bagi umat Buddha dan masyarakat luas.





