BERITA DIY – Istilah Extended Adolescence belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Selain itu, topik ini memicu perdebatan panjang tentang masa muda, kedewasaan, dan cara setiap orang menjalani hidupnya.
Di sisi lain, istilah ini kembali viral setelah disinggung oleh konten kreator muda dalam pembahasan menikah dan berbisnis di usia belia.
Lantas, Extended Adolescence adalah apa sebenarnya? Mengapa istilah ini kerap dikaitkan dengan generasi muda, khususnya Gen Z, dan dianggap memengaruhi cara pandang terhadap usia dewasa?
Pengertian Extended Adolescence
Secara sederhana, Extended Adolescence adalah fenomena masa remaja yang berlangsung lebih lama dari biasanya. Selain itu, fase transisi dari remaja menuju dewasa tidak lagi berhenti di usia akhir belasan tahun, tetapi bisa berlanjut hingga pertengahan usia dua puluhan atau bahkan lebih.
Dalam konteks ini, usia dewasa tidak lagi ditentukan semata oleh umur biologis. Di sisi lain, kedewasaan dinilai dari kesiapan finansial, kestabilan emosi, arah karier, dan kemampuan mengambil keputusan hidup jangka panjang.
Misalnya, banyak orang dewasa muda yang masih tinggal bersama orang tua, menunda pernikahan, atau fokus pada pendidikan dan eksplorasi diri. Semua itu kerap dikaitkan dengan Extended Adolescence.
Penyebab Munculnya Extended Adolescence
Fenomena Extended Adolescence tidak muncul tanpa sebab. Selain itu, perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan ikut mendorong perpanjangan masa transisi menuju dewasa.
- Pertama, tuntutan pendidikan semakin tinggi. Pendidikan tinggi kini dianggap sebagai kebutuhan dasar untuk bersaing di dunia kerja, sehingga banyak anak muda menunda bekerja penuh waktu.
- Kedua, perubahan pasar kerja juga berpengaruh. Di sisi lain, pekerjaan modern menuntut keterampilan yang kompleks, pengalaman, dan fleksibilitas. Akibatnya, masa eksplorasi karier menjadi lebih panjang.
- Ketiga, realitas ekonomi baru ikut berperan. Biaya hidup meningkat, harga hunian mahal, dan lapangan kerja tidak selalu stabil. Misalnya, kemandirian finansial menjadi lebih sulit dicapai di usia muda.
- Keempat, perkembangan otak manusia juga menjadi pertimbangan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa otak, khususnya bagian pengambilan keputusan, terus berkembang hingga usia pertengahan dua puluhan.
Ciri-Ciri Extended Adolescence
Fenomena Extended Adolescence memiliki beberapa karakteristik yang mudah dikenali. Selain itu, ciri-ciri ini sering muncul secara bersamaan.
- Misalnya, ketergantungan finansial pada orang tua berlangsung lebih lama. Di sisi lain, fokus utama individu adalah pengembangan diri, pendidikan, dan pencarian karier yang sesuai minat.
- Selain itu, banyak orang menunda peran dewasa tradisional seperti menikah, memiliki anak, atau membeli rumah. Semua ini dipandang sebagai bagian dari proses menemukan jati diri sebelum benar-benar mandiri.
Tak heran jika usia 25 tahun kini sering disebut sebagai “usia 18 baru” dalam konteks sosial modern.
Extended Adolescence dan Kontroversi di Media Sosial
Istilah Extended Adolescence kembali ramai setelah disinggung oleh konten kreator Azkiave, yang menikah di usia 19 tahun. Dalam unggahan Instagram @azkiave pada 29 Desember 2025, ia menyampaikan pandangannya tentang menikah muda dan berbisnis di usia belia.
Menurut Azkiave, generasi muda saat ini dimanjakan oleh fenomena Extended Adolescence. Selain itu, ia menilai standar sosial modern membuat Gen Z enggan mengambil langkah serius dalam hidup.
Ia menyebut narasi seperti “masih muda, santai dulu” sebagai bagian dari budaya yang menunda kedewasaan. Di sisi lain, ia mengaitkan pandangannya dengan nilai agama yang menekankan tanggung jawab sejak akil, baligh, dan mukalaf.
Respons Netizen yang Beragam
Pendapat tersebut memicu perdebatan di kolom komentar. Selain itu, banyak netizen menilai pandangan tersebut terlalu menyederhanakan realitas hidup yang kompleks.
Misalnya, sebagian warganet menyampaikan bahwa tidak semua orang ingin atau siap menjadi dewasa melalui pernikahan. Di sisi lain, perjalanan hidup setiap individu dinilai unik dan tidak bisa diseragamkan.
Ada pula yang menyoroti pemilihan diksi dan meminta agar isu agama tidak digeneralisasi. Perdebatan ini menunjukkan bahwa Extended Adolescence dipahami secara berbeda oleh tiap orang.
Extended Adolescence dalam Perspektif Ilmiah
Mengutip Scientific American, Extended Adolescence menggambarkan periode di mana individu masih bergantung secara finansial dan emosional lebih lama dari batas usia remaja tradisional.
Selain itu, fase ini sering diisi dengan eksplorasi identitas, pengalaman hidup, dan pencarian makna. Di sisi lain, fokus pada pengembangan diri dianggap sebagai respons terhadap tuntutan zaman yang semakin kompleks.
Fenomena ini banyak terjadi karena faktor sosial ekonomi, tekanan budaya, kondisi pasar kerja, hingga perubahan nilai hidup generasi muda.
Apakah Extended Adolescence Hal Negatif?
Pada dasarnya, Extended Adolescence bukanlah fenomena negatif. Selain itu, fase ini mencerminkan dinamika kehidupan manusia yang terus berubah.
Di sisi lain, perpanjangan masa transisi menuju dewasa memberi ruang bagi individu untuk mengenal diri sendiri dengan lebih matang. Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama jika fase ini berlangsung tanpa arah dan tanggung jawab.
Yang terpenting, setiap individu memiliki ritme hidup yang berbeda. Oleh karena itu, Extended Adolescence sebaiknya dipahami sebagai konteks sosial, bukan label untuk menghakimi pilihan hidup orang lain.
Jadi, Extended Adolescence adalah gambaran tentang perubahan cara manusia memasuki fase dewasa di era modern. Selain itu, istilah ini menjelaskan mengapa banyak orang muda memilih menunda peran dewasa tradisional demi persiapan yang lebih matang.***





