Banjir susulan kembali hantam jembatan dan rumah warga di Kampung Gemboyah Linge

Ringkasan Berita:

  • Banjir susulan kembali menerjang Kampung Gemboyah, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (2/1/2026) malam.
  • Alimin menyampaikan, selain akses jembatan kembali putus, sebanyak 67 rumah warga ikut terdampak banjir dan sebagian besar masih mengungsi ke rumah kerabat atau tempat lain yang lebih aman.
  • Ia juga mengaku, sejak musibah banjir pertama terjadi belum pernah ada pimpinan daerah yang datang melihat langsung kondisi Kampung Gemboyah.

Laporan Wartawan Tribun Gayo Romadani | Aceh Tengah

, TAKENGON –Banjir susulan kembali menerjang Kampung Gemboyah, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (2/1/2026) malam.

Bencana itu menyebabkan jembatan penghubung antarkecamatan kembali putus serta berdampak pada puluhan rumah warga.

Jembatan yang terletak di Kampung Gemboyah tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung antara Kecamatan Jagong Jeget dan Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Sebelumnya, pada 26 November 2025 banjir bandang sempat meluluhlantakkan jembatan hingga memutus akses kendaraan roda dua dan roda empat.

Salah satu warga setempat, Alimin Linge kepada , Sabtu (3/1/2026), mengatakan pihak desa bersama warga sempat bersepakat memperbaiki jembatan secara swadaya dengan mengerahkan satu unit alat berat.

“Kami warga sepakat menyewa alat berat, meski masih berhutang kepada pemilik alat berat, termasuk biaya bahan bakar minyaknya,” kata Alimin.

Inisiatif tersebut sempat berjalan lancar hingga jembatan kembali bisa dilalui warga untuk aktivitas sehari-hari.

Namun, banjir susulan yang kembali terjadi justru menerjang jembatan tersebut dan menyebabkan akses kembali terputus.

Bahkan, permukiman warga di sekitar sungai ikut terdampak.

“Kami masih dihantui musibah banjir. Setiap hujan deras datang, warga selalu mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.

Jembatan Terancam Ambruk

Saat ini, jembatan tersebut tampak mengalami kerusakan parah akibat tergerus derasnya arus banjir.

Sebagian badan jembatan terlihat menggantung dan terancam ambruk.

Aliran sungai yang masih keruh kecokelatan menghantam langsung bagian bawah jembatan dan membawa material lumpur dan kerikil.

Lapisan tanah penyangga di ujung jembatan terkikis, sementara permukaan jembatan dipenuhi endapan lumpur sisa banjir.

Sejumlah warga tampak berkumpul di sekitar lokasi, menyaksikan kondisi jembatan yang kini tidak lagi aman dilalui kendaraan.

Aktivitas warga pun terhenti karena jembatan tersebut merupakan akses utama penghubung antarpermukiman di wilayah tersebut.

Alimin menyampaikan, selain akses jembatan kembali putus, sebanyak 67 rumah warga ikut terdampak banjir dan sebagian besar masih mengungsi ke rumah kerabat atau tempat lain yang lebih aman.

Ia juga mengaku, sejak musibah banjir pertama terjadi, belum pernah ada pimpinan daerah yang datang melihat langsung kondisi Kampung Gemboyah.

“Dari awal belum ada pimpinan daerah yang datang. Bahkan bantuan Rp 500 ribu untuk pembersihan rumah belum kami terima, sementara di daerah lain sudah disalurkan,” kata Alimin.

Bantuan Disalurkan pada Tahap II

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten Aceh Tengah, Majid SE MAP, menyampaikan bantuan bagi korban bencana di Kampung Gemboyah disalurkan pada tahap II.

Ia menjelaskan, Baitul Mal Aceh Tengah menyalurkan bantuan berdasarkan data yang disampaikan oleh pemerintah desa dan diverifikasi oleh pihak kecamatan.

Menurutnya, data korban dari Kampung Gemboyah baru diserahkan oleh Reje (Kepala Desa) Gemboyah dan Sekretaris Camat Linge pada Rabu (31/12/2025), setelah penyaluran bantuan tahap pertama selesai.

“Data masuk setelah penyaluran tahap pertama selesai karena bertepatan dengan hari akhir tahun 2025.

Data tersebut kami masukkan untuk penyaluran tahap kedua,” jelas Majid.

Ia menegaskan, Baitul Mal hanya menyalurkan bantuan berdasarkan data korban yang diserahkan dan telah diverifikasi oleh pemerintah desa serta kecamatan.

Pada tahap pertama tahun 2025, Baitul Mal Aceh Tengah menyalurkan bantuan kepada 3.361 kepala keluarga dengan jumlah 1.680.500.000 yang tersebar di 14 kecamatan di Aceh Tengah.

Bantuan tersebut diberikan sebesar Rp 500 ribu per KK untuk pembersihan rumah pascabencana yang bersumber dari infak.

Sementara bantuan tahap II yang belum terealisasi akan kembali disalurkan pada tahun 2026 kepada seluruh kecamatan terdampak sesuai data yang telah diverifikasi.

“Kami sedang mengupayakan dan mengusulkan percepatan pengesahan anggaran agar bantuan ini bisa segera disalurkan kepada warga terdampak,” pungkas Majid. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *