KediriNews.com – Banjir bandang yang melanda Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, pada 5 Desember 2025, mengakibatkan jembatan penghubung desa putus total. Peristiwa ini menimbulkan keresahan di kalangan warga sekitar dan mengganggu akses transportasi antar wilayah. Dikutip dari laporan BPBD Kabupaten Kediri, banjir bandang terjadi akibat curah hujan tinggi yang berlangsung dalam waktu singkat, sehingga mengakibatkan aliran air sungai melebihi kapasitasnya.
“Banjir bandang terjadi karena intensitas hujan yang sangat tinggi, khususnya di daerah dataran tinggi seperti Desa Parang Kecamatan Banyakan. Kondisi ini memicu aliran air yang deras dan cepat, sehingga menyebabkan tanggul sungai Kolokoso di Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan, jebol,” ujar Stefanus Djoko Sukrisno, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri.
Akibat Banjir Bandang

Peristiwa banjir bandang tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat setempat. Jembatan penghubung desa yang putus total menghambat pergerakan warga dan distribusi bantuan logistik. Selain itu, areal persawahan di sekitar Desa Kaliboto juga terendam air, sehingga mengancam produksi pertanian masyarakat.
“Kami sedang melakukan pembersihan material lumpur dan sampah yang tersumbat di DAM di Desa Cerme Kecamatan Grogol serta menangani tanggul jebol di Kaliboto. Saat ini, fokus kami adalah membersihkan area yang tergenang dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi,” tambah Stefanus.
Kondisi Terkini

Menurut data terbaru, banjir bandang di Kecamatan Tarokan tidak hanya menghancurkan jembatan, tetapi juga merusak beberapa infrastruktur lainnya. Beberapa jalan utama di sekitar lokasi banjir tertutup material lumpur dan batang pohon yang terbawa arus air. Meskipun banjir sudah surut, kondisi jalan masih belum sepenuhnya layak dilalui.
Selain itu, masyarakat di sekitar lokasi banjir mengeluhkan kesulitan dalam mendapatkan pasokan air bersih dan makanan. BPBD Kabupaten Kediri telah menyiapkan posko dapur umum untuk membantu kebutuhan konsumsi warga. Namun, para korban banjir lebih memilih mengungsi ke rumah keluarga atau tetangga sekitar.
Upaya Pemulihan
Pemerintah daerah dan lembaga penanggulangan bencana telah mempercepat langkah pemulihan di Kecamatan Tarokan. Tim evakuasi dan pembersihan terus beroperasi untuk mengembalikan kondisi lingkungan ke normal. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah cuaca yang masih tidak stabil dan risiko banjir susulan.
“Kami akan terus memantau perkembangan cuaca dan memastikan bahwa masyarakat tetap waspada terhadap ancaman bencana. Kami juga akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak,” ujar Stefanus.
Kesimpulan
Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Tarokan pada 5 Desember 2025 menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah tentang pentingnya mitigasi bencana. Kerusakan infrastruktur seperti jembatan penghubung desa yang putus total menunjukkan betapa rentannya wilayah dataran rendah terhadap bencana alam. Dengan upaya pemulihan yang masif, diharapkan masyarakat dapat segera pulih dan kembali menjalani kehidupan normal.





