Aroma Cuan Minyak Menguat, Trump Batalkan Serangan Kedua AS ke Venezuela
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat membatalkan serangan keduanya ke Venezuela
- Presiden Trump menyiratkan hal itu karena Venezuela mulai membebaskan tahanan politik
- Trump lalu menggaungkan dorongan agar para investor kaya asal AS berinvestasi di minyak Venezuela senilai 100 miliar dolar AS.
Amerika Serikat (AS) rupanya memiliki rencana untuk melaksanakan serangan kedua ke Venezuela setelah serangan pertama yang berujung penangkapan Presiden negara tersebut, Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026) silam.
Serangan kedua militer AS ke Venezuela ini disebut-sebut untuk “membersihkan” proksi-proksi Maduro demi perombakan total struktur eksekutif di Venezuela.
Serangan yang direncanakan ini belakangan dibatalkan seiring pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang mengatakan Venezuela telah “memulai proses” pembebasan tahanan politik.
Alasan lain pembatalan serangan ini adalah Washington sudah terlibat dalam pembicaraan diplomatik dan energi dengan Caracas.
“Venezuela telah “memulai proses” pembebasan tahanan politik,” kata Trump menurut laporan media, Minggu (11/1/2026)
Pembicaraan diplomatik dan terkait energi ini menjadi jalan bagi Washington untuk menyesuaikan kembali pendekatannya terhadap Caracas.
Trump mengatakan, pembatalan serangan kedua militer AS ke Venezuela tersebut menyusul kontak antara pejabat AS dan Venezuela dan terjadi ketika delegasi AS tiba di Caracas pada Jumat kemarin.
“Delegasi AS datang untuk melakukan apa yang digambarkan oleh otoritas Venezuela sebagai “penilaian teknis dan logistik” yang bertujuan untuk memperbarui hubungan diplomatik,” menurut laporan CBS News.
Sejumlah ulasan menilai, AS membatalkan serangan karena aroma kesepakatan dari pengelolaan minyak Venezuela makin menguat.
“Trump juga mengatakan telah membatalkan gelombang kedua aksi militer terhadap Venezuela yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi, dan menyatakan kalau kerja sama antara kedua pihak telah “berjalan dengan baik”,” menurut laporan tersebut.
Trump menambahkan kalau dia berencana untuk bertemu dengan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, minggu depan.
Venezuela ‘Univestable’ Menurut CEO ExxonMobil
Upaya politik tersebut bertepatan dengan pertemuan di Gedung Putih pada Jumat antara Trump dan para eksekutif dari perusahaan-perusahaan minyak besar AS.
Pada kesempatan itu, Trump mendesak setidaknya investasi sebesar 100 miliar dolar AS untuk menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela, menurut BBC.
Trump mengatakan kepada para eksekutif perusahaan kaya AS ini kalau peningkatan produksi minyak dapat membantu menurunkan harga energi global, seperti yang dilaporkan BBC.
Keyakinan Trump ini dia gambarkan dengan mengatakan: “Kita siap berbisnis.”
Namun, para ekskutf perusahaan justru menyuarakan kehati-hatian, dengan menyebutkan risiko keamanan, hukum, dan investasi.
CEO ExxonMobil, Darren Woods, mengatakan kalau Venezuela saat ini “tidak layak untuk penanaman investasi,” merujuk pada pengalaman masa lalu perusahaan terkait penyitaan aset.
“Untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan membutuhkan beberapa perubahan yang cukup signifikan,” kata Woods, menurut BBC.
Chevron, perusahaan minyak besar AS terakhir yang masih beroperasi di Venezuela, menyumbang sekitar seperlima dari produksi negara tersebut saat ini, sementara Repsol dari Spanyol dan Eni dari Italia juga aktif di negara itu, menurut BBC.
Repsol mengindikasikan, mereka dapat melipatgandakan produksinya hingga tiga kali lipat jika kondisi yang tepat terpenuhi.
Gedung Putih mengatakan pihaknya sedang berupaya untuk secara selektif mencabut sanksi dan mengendalikan penjualan minyak dengan menyetorkan hasilnya ke rekening yang dikelola AS.
Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang mencegah pengadilan AS menyita pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di rekening Departemen Keuangan AS.
Terlepas dari optimisme yang diungkapkan oleh pemerintah AS, para analis mengatakan kepada BBC bahwa investasi skala besar kemungkinan tidak akan terjadi tanpa stabilitas politik dan jaminan hukum.
Para analis juga memperingatkan bahwa target $100 miliar yang ditetapkan Trump masih jauh dari realistis.
Menurut data BBC, Venezuela saat ini memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari, yang kurang dari 1 persen dari pasokan global.
“Akan sulit untuk melihat komitmen besar sebelum kita memiliki situasi politik yang sepenuhnya stabil,” kata Claudio Galimberti dari Rystad Energy seperti dikutip BBC.
(oln/andl/bbc/cbs/*)





