, KUDUS– Pasar modern atau swalayan kini semakin menjadi incaran konsumen.
Tempat yang nyaman dan bersih menjadi daya tawar bagi masyarakat untuk memilih belanja di pasar modern dibandingkan pasar tradisional.
Potret di lapangan menggambarkan bahwa konsumen di pasar modern semakin meningkat seiring bertambahnya waktu.
Data di sejumlah pasar modern mempertegas bahwa konsumennya terus tumbuh efek dari berbagai program yang dijalankan.
Selain memiliki daya tawar lokasi belanja yang nyaman, pasar modern juga menggencarkan sistem tarik konsumen dengan berbagai promo produk.
Biasanya dimulai dengan promo mingguan, bulanan, tahunan, hingga promo di waktu khusus.
Sejumlah warga Kudus mengakui bahwa beberapa produk yang dijual di pasar atau toko modern lebih murah dibandingkan harga di pasar tradisional.
Utamanya pada produk buah-buahan, produk perlengkapan rumah tangga, hingga telur ayam yang sering kali masuk dalam daftar menu diskon.
Seorang warga Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Ari Widiyawati, tidak memungkiri bahwa dirinya juga suka berbelanja di pasar atau toko modern.
Meski demikian, pasar modern bagi Widiyawati hanya sebagai tempat berburu promo atau diskon produk.
Dia tetap saja kembali ke pasar tradisional untuk menuhi mayoritas kebutuhan harian, seperti sayur, lauk pauk, beras, juga keperluan bumbu dapur.
“Masih lebih senang belanja di pasar tradisional. Seperti beras lebih murah, sayuran lebih fresh dan banyak pilihannya,” kata Ari kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.
“Kalahnya dengan promo, biasanya harga produk di swalayan jadi lebih murah, tapi tidak semua produk,” sambungnya.
Malas antre
Sebenarnya, Ari mengaku, lebih senang belanja di pasar tradisional.
Persoalan tawar menawar bagi dia merupakan hal yang wajar.
Dia juga lebih suka belanja di pasar tradisional yang tidak perlu antre, sedangkan pasar modern sering kali harus mengantre panjang dalam pembayaran di kasir.
“Ke pasar modern nunggu promo gede saja. Biasanya buah yang sering kali ada promo. Telur ayam juga sering ada promo,” kata Ari.
“Kalau lagi males, ya nunggu pedagang keliling saja,” lanjutnya.
Ketertarikannya belanja di pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern nampaknya tidak menggoyahkan sebagian kaum milenial.
Ida Apriliana, contohnya, perempuan 24 tahun asal Karangbener tersebut lebih tertarik dengan pasar tradisional.
Sesekali dia pergi belanja di pasar modern untuk mengambil promo yang ditawarkan.
Tetap saja nantinya kembali untuk melengkapi belanjaan di pasar tradisional.
“Sering ke pasar modern untuk beli buah, daging dan ikan. Ke pasar modern biasanya di waktu tertentu karena ada yang buka sampai malam. Kalau pasar tradisional adanya pagi sampai siang hari, seringnya buat kerja,” jelasnya.
Makin menurun
Pedagang pasar tradisional, Tutik Asiani, juga tidak menyangkal bahwa konsumen pasar tradisional semakin hari semakin menurun.
Pedagang kini hanya mengandalkan weekend dan hari libur nasional, serta momen-momen tertentu saja yang ramai pembeli.
Meski demikian, pasar tradisional menurut dia belum sepenuhnya ditinggalkan pembeli.
Artinya, kehadiran pasar tradisional masih diminati masyarakat dan menjadi jujukan belanja masyarakat.
Tutik tidak menyangkal bahwa ada pedagang pasar tradisional yang dengan sengaja menaikkan harga jual untuk mendapatkan hasil lebih banyak.
Akibatnya harga-harga di pasar tradisional terpantau pembeli lebih mahal, pada akhirnya beralih ke pasar modern.
Meski demikian, Tutik menegaskan bahwa masih ada pedagang yang jujur menjual dagangannya dengan sewajarnya.
Artinya, berjualan tanpa harus mendongkrak harga jual di atas batas wajar.
“Soal peminat masih ada, meskipun berkurang tidak sebanyak dulu. Karena pembeli kan selera. Kalau toko saya, yang beli pelanggan. Kalau naik ya naik kalau turun ya turun,” ucapnya.
Sebagai pedagang, Tutik menyadari bahwa konsumen yang berbelanja di pasar tradisional mayoritas untuk dijual kembali, termasuk untuk modal berjualan produk tertentu.
Sementara konsumen yang tertarik belanja di pasar modern atau swalayan, biasanya mencari kebutuhan pokok untuk digunakan atau dikonsumsi diri.
“Soal kualitas, pasar tradisional gak kalah dengan pasar modern. Terutama di sayuran, setiap hari pasti ganti, cuma tidak ada packaging seperti di pasar modern,” tuturnya. (Saiful Ma’sum)





