BERITA DIY – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat Indonesia, sering kali kita memiliki persepsi keliru tentang bagaimana seseorang menjadi penyandang disabilitas.
Bayangan yang muncul di benak banyak orang biasanya berkutat pada peristiwa dramatis: kecelakaan lalu lintas yang parah, cedera kerja yang fatal, atau kondisi yang dibawa sejak lahir. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan wajah yang berbeda.
Di banyak keluarga, disabilitas sering kali “datang pelan-pelan”, mengetuk pintu lewat penyakit yang dianggap biasa, dibiarkan menahun tanpa pengobatan, hingga akhirnya merenggut fungsi gerak, penglihatan, atau pendengaran seseorang.
Memahami data disabilitas bukan sekadar membaca deretan angka statistik di atas kertas. Data ini adalah cerminan dari kualitas hidup, akses kesehatan, dan tingkat keselamatan di lingkungan kita.
Dua rujukan utama yang menjadi peta navigasi untuk memahami kondisi ini di Indonesia saat ini adalah Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, serta data prevalensi yang merujuk pada Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023.
Namun, sebelum kita menelan mentah-mentah angka-angka tersebut, penting untuk menyadari bahwa “disabilitas” bisa dipotret dari sudut pandang yang berbeda.
Perbedaan definisi dan metode survei antara SKI dan BPS sering kali menghasilkan angka yang tidak kembar, namun keduanya saling melengkapi untuk menceritakan kisah utuh tentang kondisi disabilitas di tanah air.
Penyakit Menahun: Pintu Masuk Utama Disabilitas
Selama ini, narasi bahwa disabilitas adalah suratan takdir atau “nasib” masih sangat kuat. Namun, data SKI 2023 memberikan tamparan realitas yang cukup keras bagi kita semua. Disabilitas ternyata memiliki pola yang bisa dibaca dan, yang lebih penting, bisa dicegah.
Berdasarkan hasil survei tersebut, disabilitas di Indonesia tidak didominasi oleh kecelakaan, melainkan oleh penyakit.
Ini adalah sinyal peringatan serius bagi sistem kesehatan masyarakat. Ketika penyakit kronis tidak terkelola dengan baik, ia bermutasi menjadi disabilitas fungsional.
Seseorang yang awalnya hanya memiliki tekanan darah tinggi, lama-kelamaan bisa mengalami stroke yang melumpuhkan sebagian tubuhnya. Seseorang yang “hanya” gula darahnya tinggi, bisa berakhir dengan gangguan penglihatan permanen atau amputasi.
Dalam laporan ringkasan SKI 2023 yang diolah oleh Databoks, terlihat jelas bahwa faktor penyakit mendominasi sebagai penyebab utama disabilitas pada penduduk usia 15 tahun ke atas, jauh melampaui faktor kecelakaan atau cedera.
Ini mengubah paradigma penanganan disabilitas dari sekadar rehabilitasi pasca-kejadian menjadi pengendalian penyakit sejak dini.
Hipertensi dan Diabetes: “Silent Killer” Pemicu Keterbatasan
Jika penyakit adalah “tersangka utama”, lantas penyakit jenis apa yang paling bertanggung jawab? Data SKI 2023 menyoroti dominasi Penyakit Tidak Menular (PTM).
Penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, dan diabetes sering kali tidak menunjukkan gejala yang menakutkan di tahap awal. Orang masih bisa bekerja, bepergian, dan merasa bugar. Namun, pengabaian terhadap kontrol kesehatan rutin membuat penyakit-penyakit ini bekerja dalam senyap merusak organ vital.
Dalam rincian data yang dipublikasikan, hipertensi dan stroke menempati posisi yang sangat tinggi sebagai kontributor disabilitas. Stroke, misalnya, secara langsung menyerang sistem saraf yang mengontrol gerak tubuh.
Sementara katarak, yang juga masuk dalam daftar tinggi, secara perlahan menutup jendela dunia seseorang, membatasi mobilitas dan produktivitas mereka secara signifikan.
Dominasi penyakit tidak menular ini menegaskan bahwa gaya hidup, pola makan, dan akses terhadap obat-obatan rutin memegang kunci vital dalam menekan angka disabilitas baru di Indonesia.
Rincian Data SKI 2023 dan BPS 2023
Setelah memahami konteks di atas, berikut adalah inti jawaban mendetail berdasarkan data yang dihimpun dari laporan SKI 2023 dan rujukan BPS 2023:
1. Penyebab Tertinggi Disabilitas Menurut SKI 2023
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, penyebab tertinggi disabilitas di Indonesia adalah Penyakit.
-
Penyakit: Menyumbang angka terbesar yakni 59%.
-
Kecelakaan/Cedera/Kekerasan: Berada di urutan kedua dengan proporsi 26%.
-
Kelainan Bawaan: Menyumbang sebesar 14%.
-
Tidak Tahu: Sebesar 1%.
Lebih spesifik lagi, dalam kategori penyakit yang menjadi penyebab disabilitas, Penyakit Tidak Menular mendominasi sebesar 53,5%. Jenis penyakit yang paling banyak dilaporkan sebagai penyebab (berdasarkan multiple response atau kategori terkait) antara lain:
-
Kelainan bawaan (dalam konteks penyakit): 46,9%
-
Hipertensi: 22,2%
-
Stroke: 20,2%
-
Katarak: 19,5%
-
Diabetes Melitus: 10,5%
2. Prevalensi Penyandang Disabilitas Menurut Data BPS 2023
Untuk menjawab seberapa banyak jumlah penyandang disabilitas, data yang menjadi rujukan pemerintah (seperti dikutip oleh Kemenko PMK dan Kementerian PUPR) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat:
-
Jumlah estimasi penyandang disabilitas di Indonesia adalah sekitar 22,97 juta jiwa.
-
Angka tersebut setara dengan 8,5% dari total populasi penduduk Indonesia.
Data-data ini mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada masyarakat dan pemangku kebijakan. Bahwa pencegahan disabilitas di Indonesia saat ini harus dimulai dari pengendalian penyakit tidak menular.
Angka 22,97 juta jiwa bukanlah jumlah yang sedikit. Mereka membutuhkan akses layanan yang inklusif, mulai dari infrastruktur publik hingga kesempatan kerja.
Namun, untuk mencegah angka ini terus bertambah di masa depan, kesadaran untuk rutin memeriksa tekanan darah, gula darah, dan menjaga keselamatan diri harus menjadi budaya baru. Disabilitas bukan hanya soal nasib, melainkan juga soal bagaimana kita merawat kesehatan tubuh sebelum terlambat.***
