MEGENGAN! Bagi Apem di Kecamatan Kota Jelang Puasa (Flashback)
KediriNews.com – Tradisi Megengan adalah salah satu bentuk perayaan unik yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi ini memiliki makna mendalam, yaitu untuk menahan nafsu dan mempersiapkan diri secara lahir dan batin dalam menjalani ibadah puasa. Salah satu bentuk pelaksanaan tradisi Megengan adalah pembagian apem kepada kerabat atau tetangga, yang menjadi simbol permohonan ampunan dan kebersamaan.
Dalam konteks kecamatan kota, tradisi Megengan sering kali dilakukan dengan cara mengarak gunungan apem yang dihiasi dengan berbagai jenis kue tradisional. Kegiatan ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antar warga. Seorang tokoh masyarakat di kecamatan tersebut, Bapak Suryadi, mengatakan, “Megengan bukan hanya tentang membagikan apem, tapi juga tentang saling memaafkan dan merajut hubungan yang lebih baik sebelum Ramadan tiba.”
Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kesadaran akan pentingnya persaudaraan dalam agama Islam. Dalam prosesnya, masyarakat terlibat secara aktif, baik dalam pembuatan kue maupun dalam perebutan apem yang diperebutkan oleh warga. Hal ini menciptakan suasana yang hangat dan penuh makna.
-
Pembagian Apem sebagai Simbol Keberkahan
Apem, yang merupakan kue tradisional dari Jawa, memiliki makna filosofis dalam tradisi Megengan. Kata “apem” dalam bahasa Jawa berarti “ampunan”, sehingga pembagian apem menjadi simbol permohonan maaf dan harapan agar dosa-dosa dapat diampuni. Selain itu, apem juga melambangkan keberkahan dan rezeki yang akan diperoleh selama bulan Ramadan. -
Proses Gotong Royong dalam Pembuatan Kue
Masyarakat biasanya membuat apem secara bersama-sama, baik di balai desa, rumah warga, atau tempat-tempat umum lainnya. Proses ini tidak hanya sekadar memasak, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan. Bahkan, beberapa UMKM di kecamatan kota ikut berpartisipasi dengan menyediakan kue-kue basah atau tradisional yang dibutuhkan dalam acara ini. -
Kegiatan Kirab dan Pawai
Setelah apem siap, kegiatan kirab atau pawai dimulai. Gunungan apem diarak keliling kota, mulai dari pusat pemerintahan hingga tempat-tempat strategis. Acara ini dimeriahkan oleh berbagai kesenian lokal, seperti Marching Band dan pertunjukan kesenian tradisional. Suasana pawai ini membawa energi positif dan kegembiraan bagi seluruh peserta. -
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah setempat sering kali turut serta dalam memfasilitasi acara Megengan. Misalnya, pelepasan kirab dilakukan oleh pejabat setempat, seperti Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Perikanan. Di sisi lain, partisipasi masyarakat sangat penting, karena tanpa dukungan warga, tradisi ini tidak akan bisa bertahan. -
Makna Spiritual dan Budaya
Tradisi Megengan tidak hanya sekadar upacara adat, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Ibadah doa dan ziarah ke makam dilakukan sebagai bentuk pengingat akan kematian dan pentingnya persiapan diri menjelang Ramadan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal yang semakin langka di tengah perkembangan modern.
Meski demikian, tantangan juga muncul dalam melestarikan tradisi ini. Perubahan sosial dan ekonomi, serta pengaruh budaya asing, membuat sebagian generasi muda kurang memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Megengan. Namun, dengan dukungan pemerintah dan komunitas, tradisi ini tetap hidup dan berkembang.
Kesimpulan dari tradisi Megengan adalah bahwa ia bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga cerminan dari kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa Timur. Melalui pembagian apem, masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara lahir, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan dan persaudaraan.