–Beberapa orang mungkin sering merasa sedih atau frustasi tanpa mengetahui alasannya.
Bahkan secara diam-diam mereka berusaha terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam hati mereka penuh rasa tidak puas atau lelah.
Ini karena orang yang merasa sedih secara tersembunyi bukan hanya karena ada masalah besar, tapi karena beberapa kebiasaan yang dilakukannya sendiri.
Menurut psikologi, orang yang sering merasa sedih dan frustasi cenderung memiliki pola kebiasaan dan cara berpikir tertentu.
Kebiasaan ini seiring berjalannya waktu dapat membuat mereka kurang percaya diri dan merasa tidak mampu.
Dilansir dari Your Tango, ada sepuluh kebiasaan halus yang dapat membuat diri sendiri sering merasa sedih dan frustasi tanpa alasan yang jelas.
- Terbiasa Mengeluh
Mengeluh adalah kebiasaan yang sering dianggap wajar ketika sedang mengalami kesusahan atau masalah.
Dan mengeluh dapat memberikan rasa lega sementara, sehingga banyak orang terbiasa untuk mengeluh apapun yang terjadi.
Namun, jika seseorang terus-menerus mengeluh, ini justru membuat pola pikir mereka lebih fokus pada hal negatif.
Alih-alih melihat peluang dan hal baik, mereka justru merasa kurang dan tidak mampu melakukan apapun.
Ini membuat seseorang mudah putus asa dan menyerah meskipun hanya menghadapi tantangan sederhana.
Selain itu, selalu mengeluh membuat seseorang sulit untuk bersyukur, sehingga hidupnya terasa semakin berat.
- Selalu Menyalahkan Orang Lain
Ketika kita memperhatikan seseorang yang sulit merasa bahagia dan hidup sejahtera, kita akan memahami kebiasaan mereka yang sulit menerima tanggung jawab.
Ini karena mereka tidak bisa bertanggung jawab atas perilakunya, dan cenderung menyalahkan orang lain.
Atau bahkan mereka menyalahkan keadaan dan hidup di masa lalu, sehingga tanpa sadar itu membuat diri mereka kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Kebiasaan menyalahkan orang lain atau keadaan seiring berjalannya waktu membuat seseorang untuk menghadapi kesulitan hidup secara langsung.
Yang membuat mereka sulit untuk merasakan kedamaian dan kebahagiaan hidup sejati.
- Menyimpan Dendam
Dendam memang sulit untuk dilupakan, dan memaafkan orang lain tidak semudah yang dibayangkan.
Namun, jika kita terus-menerus menyimpan dendam dalam diri, kita justru akan lebih sulit merasa bahagia.
Ini karena dendam menyimpan rasa sakit hati, dan menyiksa diri sendiri karena orang yang kita benci belum tentu peduli dengan kita.
Selain itu, ketika kita enggan untuk memaafkan, emosi negatif selalu menguasai diri kita, yang membuat kita sulit untuk berpikiran terbuka.
Dan seiring berjalannya waktu, dendam yang kita pendam dapat mengganggu ketenangan diri kita sendiri, dan menghambat kemajuan kita.
- Mudah Merasa Iri
Iri hati adalah bentuk kebiasaan yang membuat kita kehilangan semangat dan rasa percaya diri.
Ini karena kita selalu membanding-bandingkan pencapaian diri sendiri dan orang lain secara terus-menerus.
Selain itu, jika kita mudah merasa iri kepada orang lain, kita akan sulit merasa cukup dan bahagia dalam hidup.
Meskipun kita telah mencapai banyak hal, kita justru lebih fokus pada orang lain daripada perkembangan diri kita sendiri.
Iri hati secara halus membuat diri kita rendah, dan merasa tidak mampu untuk menjadi lebih baik.
- Sering Menghakimi
Kritik dan saran memang hal yang wajar untuk diungkapkan kepada orang-orang yang dekat dengan kita.
Namun, kritik bisa berubah menjadi perilaku menghakimi jika kita terus-menerus merasa lebih baik dari orang lain.
Kebiasaan menghakimi sebenarnya datang dari rasa tidak aman dalam diri sendiri, sehingga kita sulit untuk menerima perasaan dan pengalaman orang lain.
Selain itu, kita justru lebih fokus kepada kekurangan orang lain daripada melihat sisi baik dari setiap orang.
Ini seiring berjalannya waktu dapat membuat diri kita sulit percaya kepada orang lain, sehingga kita sulit membangun ikatan yang bermakna.
- Suka Menunda-nunda
Menunda-nunda adalah kebiasaan orang yang sulit untuk mencapai kemajuan dan kebahagiaan.
Selain itu, orang yang terbiasa menunda bukan hanya karena malas, tapi bisa saja karena stres jangka panjang.
Mereka mungkin merasa banyaknya tuntutan dan beban yang berlebihan, sehingga mereka cenderung menunda.
Ini adalah bentuk reaksi yang wajar jika seseorang merasa terbebani, dan ingin menghindari beban tersebut.
Namun, menunda terus-menerus membuat seseorang merasa bersalah, cemas, dan frustasi karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Seiring berjalannya waktu, mereka akan sulit untuk menikmati hidup, dan merasakan kebahagiaan sejati.
- Berlebihan Menjelaskan Diri
Orang yang terlalu berlebihan dalam menjelaskan dirinya sendiri cenderung sulit merasa bahagia.
Ini karena mereka memiliki rasa cemas yang berlebihan terhadap penilaian dan pandangan orang lain.
Ketika seseorang terus-menerus berusaha meyakinkan orang lain, itu sebenarnya datang dari rasa tidak aman dalam diri.
Selain itu, terlalu berlebihan menjelaskan diri sendiri kepada orang lain justru membuat diri sendiri kelelahan secara emosional.
Yang secara bertahap dapat mengikis rasa percaya diri dan kebahagiaan diri sendiri secara keseluruhan.
- Sulit Menerima Kesalahan
Orang yang sulit meminta maaf adalah orang yang terus-menerus menyangkal kesalahannya sendiri.
Mereka mungkin menyalahkan orang lain atau keadaan, karena mereka tidak mampu memperbaiki kesalahannya.
Dan seiring berjalannya waktu, orang yang sulit menerima kesalahannya sendiri akan selalu dihadapkan dengan kesulitan dan konflik.
Ini membuat mereka sulit untuk merasa damai dan bahagia, karena mereka menumpuk kesalahan daripada menghadapinya.
- Terlalu Ingin Sempurna
Perfeksionis bisa jadi sifat teliti dan rasa ingin mencapai keunggulan, dan itu adalah hal yang baik.
Namun, jika seseorang terus-menerus ingin mencapai kesempurnaan, itu justru dapat mengikis kebahagiaannya sendiri.
Ini karena mereka cenderung menetapkan standar yang tidak realistis atau terlalu tinggi pada diri sendiri.
Seiring berjalannya waktu, ketika mereka tidak mampu mencapainya, itu justru membuat mereka merasa frustasi dan putus asa.
Oleh karena itu, demi mencapai kebahagiaan dalam hidup, mulailah untuk memahami kemampuan diri sendiri dan belajar dari kesalah.
Alih-alih fokus pada kesempurnaan, melakukan kesalahan kecil dapat membuat diri kita belajar dan berkembang.
- Tidak Ingin Berkembang
Orang yang sulit merasa bahagia cenderung tidak memiliki kemauan untuk belajar dan berkembang.
Mereka lebih suka berada di zona nyaman, sehingga mereka menutup segala peluang yang ada.
Ini membuat mereka berhenti belajar hal baru, sehingga mereka ketika dihadapkan dengan perubahan dapat menyebabkan frustasi.
Selain itu, orang yang tidak ingin berkembang cenderung merasa stagnan, sehingga tidak ada tujuan hidup yang ingin dicapai.
Seiring berjalannya waktu, hidup mereka akan lebih membosankan, dan sulit merasa bersyukur atas peluang dan kesempatan yang ada.





