Ringkasan Berita:
- Hairul Bani Takwa (26) dan Indri Yria Riski (22) ditemukan tewas bersimbah darah di rumah mereka, Kampung Blang Tampu, Bener Meriah, setelah diserang pelaku RF (24) yang awalnya berniat mencuri kopi.
- Kediaman pasangan ini sudah berulang kali dibobol maling sebelumnya, dengan kerugian berupa uang tabungan, tabung gas, hingga surat nikah juga ikut raib.
Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami | Bener Meriah
, REDELONG – Di balik rimbunnya pepohonan kopi dan kabut tebal yang menyelimuti Kabupaten Bener Meriah malam itu seolah membawa kabar duka.
Di sebuah rumah sederhana di Kampung Blang Tampu, Kecamatan Bukit, Bener Meriah yang kini dipasangi garis polisi, sepasang suami istri ditemukan tak lagi bernyawa.
Bukan sekadar kematian biasa, kepergian mereka menyisakan luka mendalam bagi tetangga yang selama ini mendengar keluh kesah pasangan suami istri muda, Hairul Bani Takwa (26) dan Indri Yria Riski (22).
Pasangan ini ditemukan tak bernyawa pada Senin (5/1/2026) lalu sekira pukul 02.30 dini hari, dalam kondisi bersimbah darah dan saling berpelukan usai dihabisi oleh pelaku RF (24) yang kini mendekam di Polres Bener Meriah.
Niat pelaku awalnya untuk menggasak simpanan kopi milik korban.
Namun, takdir berkata lain, sebuah kaleng di ruang tamu tak sengaja terinjak, memicu suara gaduh yang memecah keheningan malam.
Hairul terbangun, dalam kepanikan karena aksinya dipergoki, RF yang sempat bersembunyi di balik terpal kehilangan akal sehat.
Ia menyambar balok kayu pengganjal pintu dan menyerang pasangan muda itu secara membabi buta hingga keduanya meninggal dunia.
Namun, sebuah fakta baru muncul, rumah kayu sederhana milik pasangan yang baru menikah kurang dari dua tahun tersebut rupanya telah lama menjadi langganan aksi pencurian.
Sering Disasar Maling
Susilawati merupakan tetangga terdekat korban, mengungkapkan, sebelum korban ditemukan meninggal dibunuh. Kediaman korban sudah beberapa kali terjadi aksi pencurian.
“Bukan sekali dua kali. Rumah itu sering sekali disasar maling. Kami sering mendengar keluhan mereka tentang barang yang hilang,” cerita Susi saat ditemui , Rabu (7/1/2026).
Menurut cerita Susi, akibat pencurian sebelumnya, uang tabungan 10 juta habis, tabung gas hingga surat nikah mereka pun ikut diambil.
“Heran juga kami pencuri ini, masak buku nikah mereka pun diambil, terus beras hingga bahan pokok mereka pun diambil,” tambahnya.
Selain itu, Susilawati juga masih mengingat jelas momen sehari sebelum kejadian.
Pada Minggu (4/1/2026), Hairul bersiap pergi mencari ikan ke sungai bersama suami Susi, Tuah Miko.
Namun, ada satu kalimat yang keluar dari lisan Hairul yang membuat Susi termenung.
“Tolong jaga dan titip istri saya baik-baik selama saya pergi,” ucap Hairul kala itu.
Bagi Susi, permintaan itu terasa asing. Selama ini, Hairul sering pergi mencari ikan bersama suaminya, namun tak pernah sekalipun ia menitipkan istrinya dengan nada seserius itu.
“Kali ini rasanya sangat lain,” ungkap Susi dengan suara bergetar.
Kemunculan Ular
Kejanggalan tidak berhenti di situ. Saat hendak mengambil jaring (dorang) di rumah orang tuanya sebelum berangkat, Hairul berpapasan dengan seekor ular.
Alih-alih merasa takut atau waspada, Hairul justru tertawa melihat hewan melata tersebut.
Firasat buruk kian menguat saat mereka tiba di sungai. Untuk kedua kalinya, seekor ular kembali menampakkan diri di hadapan mereka.
“Bang, ada ular lagi. Sudah dua kali ini. Kalau sampai ketemu sekali lagi, kita pulang saja ya, Bang,” ajak Hairul kepada Tuah Miko dengan nada cemas yang tiba-tiba muncul.
Tangisan Balita
Menjelang Magrib, di bawah guyuran hujan deras, mereka memutuskan pulang.
Malam itu, keceriaan sempat pecah saat mereka menyantap hasil tangkapan sungai di rumah Susi.
Pasangan Hairul dan Indri dikenal sangat menyayangi anak-anak, terutama anak Susi, mengingat dua tahun pernikahan mereka belum dikaruniai momongan.
Suasana hangat itu berubah mencekam saat pasangan tersebut berpamitan pulang.
Entah mengapa, anak balita Susi mendadak menangis dan pilu.
Ia memohon dan menahan agar Hairul dan Indri tidak meninggalkan rumah mereka malam itu.
“Anak saya menangis kencang sekali, meminta mereka jangan pulang. Tidak biasanya dia seperti itu. Ternyata, itu adalah pelukan dan pertemuan terakhir kami dengan mereka,” kenang Susi lirih.
Kini, rumah kayu milik korban yang dulunya hangat itu telah dipasangi garis polisi, menyisakan duka mendalam bagi warga Kampung Blang Tampu atas kepergian pasangan muda tersebut. (*)





