Rayakan Tahun Baru 2026, Komunitas Luminesa gelar layar tancap bersama warga

Memasuki awal tahun 2026, sebuah inisiatif kebudayaan lahir di Jakarta sebagai respons atas perubahan cara masyarakat menikmati hiburan dan mengakses pengetahuan.

Forum Peduli Literasi Masyarakat resmi memperkenalkan Komunitas Luminesa, sebuah wadah baru yang menaruh perhatian pada pengembangan literasi melalui medium audio visual.

Kehadiran Luminesa menandai upaya serius untuk menjadikan film dan praktik menonton sebagai sarana edukasi, refleksi sosial, sekaligus penguatan hubungan antarwarga.

Sebagai langkah awal, Luminesa menggelar kegiatan pemutaran layar tancap di Jalan Petamburan IV pada perayaan Tahun Baru, 1 Januari 2026.

Aktivitas ini bukan sekadar menghadirkan tontonan gratis di ruang terbuka, melainkan sebuah pendekatan kultural untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat Jakarta terhadap tradisi menonton bersama yang dulu pernah hidup di berbagai sudut kota.

Layar tancap, yang sempat menjadi bagian penting dari kehidupan sosial warga, kini dihidupkan kembali sebagai ruang perjumpaan dan dialog.

Founder Komunitas Luminesa, Dahlan, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan atas pola konsumsi hiburan yang kian terfragmentasi.

Menurutnya, kemajuan teknologi memang memberi kemudahan, tetapi di sisi lain mendorong pengalaman menonton menjadi semakin individual dan terisolasi.

“Di tengah perubahan pola konsumsi hiburan yang semakin personal dan berbasis gawai, Luminesa mencoba menghadirkan kembali layar tancap sebagai ruang bersama. Ini bukan hanya soal menonton film, tetapi juga membangun literasi dan keakraban sosial,” ujar Dahlan.

Film Lawas Diputar di Layar Tancap Warga

Dalam pemutaran perdana tersebut, Luminesa memilih dua film klasik Betawi, yakni Buaye Gile dan Musuh Bebuyutan, yang dibintangi oleh Benyamin Sueb. Sosok Benyamin dipandang sebagai ikon kebudayaan Jakarta yang karyanya melekat kuat dalam ingatan masyarakat.

Melalui film-film tersebut, Luminesa ingin menjembatani generasi lintas usia, khususnya mengenalkan generasi Z dan anak muda pada sejarah, humor, serta realitas sosial Jakarta tempo dulu melalui bahasa sinema.

Bagi Luminesa, film tidak diposisikan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai teks budaya yang sarat makna. Kegiatan layar tancap dirancang sebagai praktik literasi audiovisual, di mana penonton diajak untuk membaca, menafsirkan, dan mendiskusikan isi film secara kolektif.

“Menonton film bersama adalah pengalaman sosial. Ia membuka ruang dialog, menumbuhkan empati, dan mempererat rasa kebersamaan,” tutur Dahlan. Ia menambahkan bahwa layar tancap memungkinkan warga kembali saling menyapa dan berbagi cerita dalam satu ruang yang setara.

Lebih jauh, layar tancap dinilai memiliki peran penting dalam membangun kohesi sosial. Proses penyelenggaraannya melibatkan warga sejak tahap awal, mulai dari menata lokasi, menyiapkan perlengkapan pemutaran, hingga makan bersama setelah film selesai.

Keterlibatan ini secara alami menumbuhkan semangat gotong royong dan rasa memiliki terhadap kegiatan bersama.

Interaksi langsung antarwarga yang terbangun menjadi penawar bagi kecenderungan hiburan digital yang tertutup dan individual.

Dari perspektif literasi, film dipandang sebagai medium pembelajaran yang kontekstual dan mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Narasi visual memungkinkan penonton memahami realitas sosial, nilai kemanusiaan, dan dinamika budaya dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Diskusi ringan pasca pemutaran film menjadi bagian penting dari kegiatan, karena memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan pandangan, bertanya, dan melatih keberanian berpendapat.

Inisiatif Luminesa juga sejalan dengan pendekatan literasi masa kini yang menekankan pentingnya literasi visual dan media. Di tengah derasnya arus informasi berbasis gambar dan video, kemampuan memahami pesan audiovisual menjadi kompetensi penting.

Luminesa memandang layar tancap sebagai bentuk literasi yang inklusif dan membumi, karena mampu menjembatani hiburan, pendidikan, dan interaksi sosial dalam satu ruang publik yang egaliter.

Ke depan, Komunitas Luminesa tidak berhenti pada pemutaran film semata. Mereka telah merancang program lanjutan berupa lokakarya film bagi anak muda, yang difokuskan pada pelatihan intensif pembuatan film.

Program ini diharapkan dapat melahirkan generasi baru yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga produsen pengetahuan melalui karya audiovisual.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *