Kontras pernyataan pihak kampus dengan polisi soal kematian Evia Maria, dosen DM belum diperiksa

Ringkasan Berita:

  1. Unima membebastugaskan dosen Danny Masinambow menyusul viralnya dugaan kekerasan seksual terhadap mahasiswi Evia Maria (21), yang ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar indekosnya di Kota Tomohon.
  2. Pihak kampus menyatakan telah melakukan pemeriksaan internal, sementara kepolisian menegaskan penyelidikan masih berjalan dan terlapor belum diperiksa meski laporan keluarga korban telah diterima.
  3. Polda Sulawesi Utara mendalami dugaan kekerasan seksual dan kemungkinan tindak pidana lain.

 

Pernyataan pihak kampus Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara dengan pihak kepolisian terkait kematian Evia Maria dinilai kontras.

Diketahui Evia Maria merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima asal Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.

Evia Maria ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar indekosnya di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, pada Selasa (30/12/2025).

Peristiwa ini sontak jadi sorotan warga Sulut. Bukan hanya soal kematian tak wajar Evia Maria, namun juga terkait dugaan kasus pelecehan yang menyeret nama Unima.

Pihak kampus Unima pun kini membebastugaskan Danny Masinambow (DM) sebagai dosen di kampus tersebut.

Tak hanya itu, pihak Unima pun telah mengambil langkah cepat dengan melakukan pemeriksaan internal terhadap Danny Masinambow.

Pemeriksaan dilakukan pada Rabu (31/12/2025), sebelum akhirnya pihak kampus memutuskan untuk membebastugaskan Danny Masinambow dari aktivitas mengajar.

Beda Keterangan Pihak Kampus, Polsek Tomohon dan Polda Sulut

Kepala Humas Unima, Titof Tulaka, mengatakan bahwa setelah menjalani pemeriksaan internal di lingkungan kampus, oknum dosen tersebut langsung menuju kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Setelah diperiksa di kampus, oknum tersebut langsung menuju ke polisi untuk pemeriksaan,” ujar Titof saat diwawancarai, Kamis (1/1/2026).

Menurut Titof, pemeriksaan tersebut merupakan tindak lanjut atas adanya panggilan dari kepolisian terkait dugaan pelecehan yang dialami mahasiswi.

Namun, keterangan pihak kampus tersebut berbeda dengan penjelasan dari kepolisian.

Kapolsek Tomohon Tengah, Iptu Stenly Tawalujan, menyatakan pihaknya tidak menerima laporan maupun melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.

“Laporan tidak masuk ke kami. Dia diperiksa ke Polda Sulut,” ujar Iptu Stenly saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (2/1/2026).

Sementara itu, Polda Sulawesi Utara menyatakan bahwa proses penyelidikan atas kasus meninggalnya mahasiswi Unima tersebut masih terus berjalan.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulut telah menindaklanjuti laporan yang masuk, termasuk dugaan keterlibatan oknum dosen Unima tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulut, Kombes Pol Suryadi, menegaskan bahwa hingga saat ini terlapor belum menjalani pemeriksaan.

“Laporan sudah kami terima dan ditindaklanjuti, namun terlapor belum diperiksa,” kata Kombes Pol Suryadi kepada wartawan, Jumat (2/1/2026).

Suryadi menambahkan, pihak kepolisian akan menangani perkara tersebut secara profesional dan tidak tebang pilih.

“Siapa pun yang dilaporkan akan kami perlakukan sama di hadapan hukum. Apabila ditemukan cukup bukti, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Suryadi.

Lanjut Suryadi, kepolisian telah menerima laporan keluarga Evia Maria yang diterima pada 31 Desember 2025 sekitar pukul 13.16 WITA. 

Dalam laporan tersebut tercantum dugaan tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana Pasal 6 Undang-Undang TPKS Nomor 12 Tahun 2022, serta dugaan tindak pidana pembunuhan.

Suryadi mengungkapkan, sebelum laporan dibuat, korban lebih dulu ditemukan meninggal dunia dengan posisi tergantung di kamar indekos lantai dua di Kota Tomohon. 

Tim Polres Tomohon bersama tim Inafis telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk alat yang digunakan korban.

“Selanjutnya dilakukan visum luar dan otopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Manado,” jelasnya.

Ia menyebutkan, penyidik saat ini tengah mempersiapkan pemeriksaan terhadap saksi-saksi serta mengumpulkan bukti terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual. 

Bukti awal yang diserahkan pelapor berupa salinan tulisan korban yang menyebutkan dugaan peristiwa kekerasan seksual terjadi pada 12 Desember 2025 di dalam mobil terduga oknum dosen Danny Masinambow. 

Korban diketahui menulis surat pernyataan pada 16 Desember 2025, sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia pada 30 Desember 2025.

Terkait pemeriksaan terhadap terduga oknum dosen, Suryadi mengatakan hingga Jumat kemarin, Danny Masinambow belum dimintai keterangan. 

Namun, pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan rektorat Unima serta Satgas PPKPT kampus yang diketahui telah lebih dulu menindaklanjuti laporan tersebut.

“Motif sementara yang kami dalami, korban diduga mengalami depresi akibat dugaan pelecehan seksual yang dialaminya. 

Korban sempat bercerita kepada rekannya dan menuangkannya dalam surat,” ungkap Suryadi.

Polda Sulut menegaskan akan terus mendalami kasus ini dengan melibatkan pihak kampus, Satgas PPKPT, serta stakeholder terkait guna mengungkap peristiwa tersebut secara menyeluruh. 

Berikut adalah 5 soal kematian Evia Maria yang berhasil dirangkum Tribunmanado.co.id, Sabtu 3 Desember 2025.

1. Kronologi Awal Jasad Evia Ditemukan di Indekost Matani Satu Tomohon

Dari informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. 

Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR, yang tinggal di Kelurahan Matani Satu, menerima panggilan dari salah satu penghuni kost.

Dalam panggilan tersebut, YR diberitahu bahwa ada seorang penghuni yang ditemukan meninggal.

Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost.

Setibanya di tempat kejadian, YR melihat Evia Maria berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal.

Selanjutnya, YR menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut.

Tak berselang lama, personel Polsek Tomohon Tengah langsung mendatangi lokasi kejadian. 

Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan, bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

2. Disemayamkan di Minahasa Utara

Jenazah Evia Maria disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut.

Jenazah Evia kini disemayamkan di kediaman Kel. Pdt Roos Merry Kabuhung.

Pendeta Roos merupakan tante Evi Maria yang melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget. 

Keluarga berencana membawa pulang, jenazah Evi Maria ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, Sulut Rabu (31/12/2025) pagi ini. 

Meskipun demikian, rencana ini batal menyusul keputusan jenazah Evi akan diotopsi. 

Pantauan Tribunmanado.co.id di rumah duka, puluhan orang datang melayat.

Beberapa di antaranya bagian dari Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado. 

Ayah Evia, Antonius Mangolo dan adiknya, Revan serta kerabat lainnya telah tiba di Manado sejak Rabu dinihari. 

“Kami berencana membawa pulang anak kekasih pagi ini tapi rencana berubah karena katanya mau otopsi” ujar paman Evia, Jhonli Mangolo di rumah duka. 

3. Jenazah Evia Maria Mangolo Akan Jalani Otopsi, Keluarga Temukan Lebam Biru di Tubuh

Jenazah Evia Maria Mangolo, mahasiswi Unima yang meninggal di tempat kos di Tomohon, akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, pada Rabu (31/12/2025).

Otopsi diputuskan oleh keluarga setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di tubuh jenazah.

Ketsia, tante dari Evia bercerita, pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut ia memperoleh sebuah dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah.

“Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya.

Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas.

“Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi,” katanya.

Ia menuturkan, ayah dari almarhum sudah tiba sejak Rabu dini hari.

Rabu pagi, ia bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi.

Dia menerangkan, sesungguhnya jenazah direncanakan pulang pada Kamis.

Namun batal karena ada otopsi.

Ketsia menuturkan, pihaknya menyerahkan penanganan kematian itu pada pihak berwajib.

4. Unggah Story Menyentuh Sebelum Natal

Evia Maria, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal di Tomohon dikenal sebagai sosok yang baik, rajin, pintar dan agak pendiam.

Hal ini diutarakan Ketsia, tante korban kepada Tribunmanado.com di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut, Rabu (31/12/2025).

“Ia memang pendiam, tapi rajin,” katanya.

Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok.

Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas.

“Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya,” katanya.

Sebut dia, Evia juga pintar.

Selain itu baik hati.

Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar.

Dikatakannya, ia sempat menelepon Evia, apakah hendak pulang saat Natal.

“Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket,” katanya.

Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu.

Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos.

“Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia),” katanya.

Ia mengatakan, sang ponakan sempat mengunggah story tengah mandi di pantai bersama adiknya sebelum Natal.

Lalu menyusul story lainnya.

“Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama,” katanya.

5. Keluarga Ungkap Kejanggalan Dalam Kasus Meninggalnya Evia Maria, Kuasa Hukum: Luka dan Posisi Kain

Kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali, mengungkapkan bahwa keluarga telah sepakat untuk melakukan otopsi guna memastikan penyebab kematian Evia secara medis dan hukum.

“Untuk menghindari berbagai penafsiran dan spekulasi, keluarga memutuskan jenazah dilakukan otopsi,” ujar Cyprus Tatali saat ditemui di rumah duka Perum CBA Gold, Mapanget, Minahasa Utara, Jumat (2/1/2026).

Ia menjelaskan, ayah korban telah membawa jenazah Evia untuk menjalani proses otopsi beberapa hari lalu.

Cyprus menyebutkan, terdapat sejumlah tanda yang dinilai tidak wajar, di antaranya luka lebam di beberapa bagian tubuh korban.

Selain itu, posisi kain yang ditemukan pada tubuh Evia juga dinilai janggal dan menimbulkan pertanyaan.

Terdapat luka lebam di beberapa bagian tubuh Evia. 

“Untuk posisi kain juga agak janggal,” kata Cyprus Tatali.

Dengan otopsi, ia mengatakan, segalanya akan terang benderang. 

Ia menerangkan pihak keluarga ingin menegakkan kebenaran. 

“Jika memang itu bukan bunuh diri, siapa pelakunya,” kata dia. 

DISCLAIMER: Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Di Manado anda bisa menghubungi pihak RSJ PROF. DR. V. L. Ratumbuysang. 

Artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *