Kota Kediri kembali dihebohkan oleh kejadian cuaca ekstrem yang terjadi pada Senin (11/11/2024). Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur selama kurang lebih 2 jam menyebabkan banjir di sejumlah titik dan kerusakan pada infrastruktur. Salah satu insiden paling menonjol adalah ambruknya atap sekolah akibat diterjang angin puting beliung, sehingga membuat siswa lari berhamburan.
Kejadian tersebut terjadi di Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Angin puting beliung yang tiba-tiba menerjang menyebabkan atap sekolah rusak parah. Para siswa yang sedang berada di dalam ruangan langsung panik dan berlarian keluar. Tak hanya itu, beberapa genteng rumah juga jatuh, sementara atap seng tersingkap akibat tiupan angin kencang.
“Awalnya hujan deras, tapi tiba-tiba angin kencang menerjang. Kami langsung keluar karena takut atap akan roboh,” ujar salah satu siswa yang menjadi korban.

Dampak dari angin puting beliung tidak hanya terasa di sekolah, tetapi juga merusak sejumlah bangunan dan infrastruktur lainnya. Di Jalan Mayor Bismo (Semampir), Kelurahan Ngampel, Kelurahan Mrican, dan Kelurahan Mojoroto, banyak rumah mengalami kerusakan. Selain itu, beberapa pohon tumbang, termasuk pohon sono di Jalan KH A. Dahlan dan pohon trembesi di Pesantren. Tiang listrik juga roboh, menyebabkan pemadaman listrik sementara.
Petugas gabungan dari DLHKP Pemkot Kediri, BPBD Kota Kediri, serta Kepolisian bersama masyarakat tengah berusaha melakukan penanganan dampak bencana. Mereka fokus pada pembersihan material pohon tumbang dan perbaikan akses jalan agar dapat digunakan kembali.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Joko Arianto, menjelaskan bahwa tim BPBD telah melakukan pemantauan dan tindakan mitigasi sejak sore hari. “Semua kerusakan masih dalam asesmen petugas. Mohon doanya agar segera teratasi,” katanya.
Cuaca ekstrem seperti ini tidak terlepas dari fenomena alam yang sering terjadi di masa pancaroba. BMKG mencatat bahwa wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa, masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem hingga Maret-April 2024. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan suhu laut dan perubahan iklim yang semakin memengaruhi pola cuaca.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa peningkatan intensitas curah hujan dan angin kencang merupakan indikasi adanya perubahan iklim. Wilayah perkotaan, termasuk Kediri, semakin rentan terhadap cuaca ekstrem karena efek pulau panas perkotaan.
Meski demikian, masyarakat Kediri tetap waspada dan siap menghadapi cuaca ekstrem. Sejumlah warga mengaku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, terutama saat musim hujan tiba. Namun, insiden kali ini dianggap lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dengan adanya bencana alam ini, diharapkan pemerintah dan masyarakat bisa bekerja sama untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Kedepannya, penting untuk memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman cuaca ekstrem.





