GULALI JADOEL! Bentuk Ayam Tiup Peluit di Kecamatan Gurah pada 15 Juni 2025
KediriNews.com – Di tengah semangat kebudayaan yang terus berkembang, masyarakat Kecamatan Gurah akan menggelar perayaan unik yang dinamakan ‘GULALI JADOEL! Bentuk Ayam Tiup Peluit’ pada 15 Juni 2025. Acara ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang kaya akan makna dan nilai tradisional. “Perayaan ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya masyarakat Gurah, sekaligus memperkuat identitas lokal melalui ritual dan pertunjukan yang berbasis kearifan lokal,” ujar Ketua Panitia Acara, Budi Santoso.
Dalam wawancara dengan KediriNews.com, Budi menjelaskan bahwa acara ini merupakan bentuk penghargaan terhadap tradisi lama yang mulai langka di era modern. “Bentuk ayam tiup peluit adalah simbol dari kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan alam dan kesuburan tanah. Ini juga menjadi cara untuk menyampaikan doa kepada Tuhan atas keberhasilan pertanian dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Sejarah dan Makna Tradisi
Tradisi ‘GULALI JADOEL!’ memiliki akar sejarah yang dalam. Dalam bahasa Jawa, “gulali” merujuk pada sesuatu yang berbunyi atau mengeluarkan suara, sedangkan “jadoel” mengandung arti “lama” atau “tradisional”. Bersamaan dengan itu, bentuk ayam tiup peluit mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan alam dan harapan akan hasil panen yang baik.
Menurut sumber dari Buku Upacara Adat Jawa Timur Disbudpar Jatim 1996, tradisi ini sering digelar sebagai bentuk rasa syukur setelah musim tanam selesai. “Ayam tiup peluit tidak hanya sekadar hiasan, tetapi juga merupakan simbol keberkahan dan perlindungan dari roh-roh leluhur,” jelas salah satu tokoh adat di Desa Ngumbul, Kecamatan Delopo, Kabupaten Madiun.
Prosesi dan Keterlibatan Masyarakat
Acara ini akan diadakan di halaman Desa Gurah, yang dipilih karena lokasinya strategis dan dekat dengan situs-situs sejarah penting seperti Candi Tondowongso dan Situs Adan-Adan. Prosesi akan dimulai dengan upacara adat yang diiringi oleh gamelan dan tarian tradisional. Selain itu, masyarakat juga akan membawa berbagai benda-benda bernilai spiritual, seperti tumpeng dan palawija, sebagai bentuk permohonan kesuburan tanah dan kesejahteraan.
- Pembukaan dengan Lagu dan Tari
- Pemanggung akan membuka acara dengan lagu dan tari tradisional.
-
Penari menggunakan pakaian adat khas Jawa Timur.
-
Pembacaan Doa dan Simbolisme Ayam Tiup Peluit
- Tokoh adat akan membacakan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
-
Ayam tiup peluit ditempatkan di tempat terbuka sebagai simbol keberkahan.
-
Pertunjukan Budaya dan Hiburan
- Pertunjukan wayang purwa dan seni rakyat akan dilakukan.
- Masyarakat diajak ikut serta dalam prosesi pembuatan ayam tiup peluit.
Pentingnya Pelestarian Budaya
Dalam konteks pelestarian budaya, acara ini menjadi momen penting untuk menunjukkan betapa pentingnya menjaga tradisi yang sudah ada. Menurut peneliti budaya dari Universitas Negeri Malang, Dr. Rina Wijayanti, “Tradisi seperti ini tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda tentang nilai-nilai kehidupan yang lebih dalam.”
“Melalui acara ini, masyarakat bisa belajar bahwa budaya bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga cara untuk menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan,” tambahnya.


Kesimpulan dan Harapan
Acara ‘GULALI JADOEL! Bentuk Ayam Tiup Peluit’ di Kecamatan Gurah pada 15 Juni 2025 diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam pelestarian budaya lokal. Dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, acara ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan pemersatu masyarakat. Semoga tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi bagian dari identitas kebanggaan masyarakat Jawa Timur.