KediriNews.com – Dalam rangka memperkuat ekonomi kreatif dan memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemerintah kabupaten Magelang menggelar acara “DIMSUM MENTAI!” yang akan berlangsung di Kecamatan Kota pada 10 Desember 2025. Acara ini menjadi ajang promosi bagi para pedagang jajanan kaki lima yang ingin naik kelas dengan menghadirkan inovasi kuliner modern tanpa meninggalkan ciri khas lokal.
Ajang ini tidak hanya sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menjadi wadah untuk membuka peluang bisnis baru bagi UMKM yang sebelumnya hanya menjual produk sederhana. Salah satu contoh sukses adalah Jamur Borobudur, yang awalnya hanya menjual dimsum ayam jamur biasa, kini telah berkembang menjadi dimsum mentai yang viral di kalangan generasi muda. “Kami bikin 300 porsi. Alhamdulillah ini sudah habis,” kata pemilik usaha Isna Yuliani, seperti dilansir dari laporan Harian Kompas.
Inovasi Kuliner sebagai Bentuk Pemberdayaan UMKM
Dalam acara tersebut, para pelaku UMKM akan diberi kesempatan untuk menampilkan produk mereka dalam bentuk yang lebih menarik dan profesional. Program Bank Jateng Pawone, yang telah berjalan sejak tahun 2024, menjadi salah satu pilar utama dalam pembinaan UMKM kuliner. Melalui program ini, pelaku usaha diberikan pelatihan terkait pengembangan produk, pengemasan, dan pemasaran. Hasilnya, banyak UMKM yang berhasil melahirkan inovasi seperti dimsum mentai, sate wagyu, atau cilok mozarella yang bisa bersaing dengan produk restoran mahal.
“Sejak mengikuti Pawone, banyak sekali perkembangan yang saya rasakan. Banyak ilmu yang kita dapat, misalnya menghitung HPP dan cara penyajian yang bagus,” ujar Widya Kusuma Wati, pemilik stan Pawon Melesat yang menjual ayam bakar rempah.
Tren Street Food Couture di Tengah Perubahan Era
Berdasarkan riset Unilever Food Solutions (UFS), tren street food couture mulai mendominasi dunia kuliner Indonesia. Sebanyak 79 persen masyarakat menyukai jajanan kaki lima karena harganya terjangkau, variasinya banyak, dan rasanya nikmat. Namun, kini street food tidak lagi identik dengan harga murah dan suasana kaki lima. Justru, kini jajanan ini hadir dengan tampilan yang estetik, bahan premium, dan konsep yang modern.
“Street food couture bukan berarti membuat harga jajanan kaki lima menjadi lebih mahal. Selain bahan dan teknik yang lebih premium, penyajian makanan juga bisa dibuat lebih inovatif dan menarik,” kata Nadya Risdiana, koki UFS.
Strategi Pemasaran Digital dan Media Sosial
Di era digital, media sosial menjadi salah satu alat paling efektif dalam mempromosikan jajanan kaki lima. Konten behind the scene, visual satisfying, dan caption lucu bisa membuat jajanan pinggir jalan viral. Bahkan, beberapa pedagang kaki lima kini memiliki franchise di mall setelah viral di media sosial.
“Satu video bisa ubah nasib pedagang kecil — dari jualan di pinggir jalan jadi buka franchise di mall,” tutur Brandon Collins, koki eksekutif di UFS.
Pengembangan Ekonomi Kreatif di Kecamatan Kota
Acara “DIMSUM MENTAI!” di Kecamatan Kota tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan inovasi kuliner, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif. Dengan adanya acara ini, diharapkan UMKM lokal dapat bersaing dengan pelaku usaha besar, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Sekretaris Daerah Jateng Sumarno menyatakan bahwa acara ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. “Borobudur Marathon juga harus dimanfaatkan untuk membantu pengembangan pelaku UMKM di Jateng,” ujarnya.
Kesimpulan dan Tantangan Ke depan
Dengan acara “DIMSUM MENTAI!” di Kecamatan Kota pada 10 Desember 2025, diharapkan UMKM lokal bisa semakin berkembang dan berkontribusi pada perekonomian daerah. Namun, tantangan tetap ada, seperti kompetisi dengan produk impor dan perluasan pasar. Namun, dengan dukungan pemerintah dan kreativitas pelaku usaha, jajanan kaki lima bisa terus berkembang dan naik kelas.
Hashtag Terkait:





