DUKUN SANTET DIHAKIMI MASSA! Rumah di Kecamatan Ngadiluwih Dilempar Batu pada 5 Desember 2025!
KediriNews.com – Sebuah peristiwa yang memicu reaksi keras dari warga terjadi di Kecamatan Ngadiluwih, Jawa Timur. Pada 5 Desember 2025, seorang dukun santet dituduh melakukan praktik penggunaan ilmu hitam, hingga akhirnya rumahnya dilempar batu oleh massa. Peristiwa ini menimbulkan keresahan dalam masyarakat setempat dan menjadi sorotan utama media lokal.
Sementara itu, kasus serupa juga pernah terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Contohnya, di Sukabumi, pasangan suami istri Parman dan Ema dituduh sebagai dukun santet, sehingga rumah mereka dirusak oleh warga. Kapolsek Ciemas, Iptu Azhar Sunandar mengatakan, “Awalnya petugas menerima laporan adanya dugaan praktik dukun santet yang dituduhkan warga kepada Parman (65) bersama istrinya Ema (50).”
Peristiwa tersebut tidak hanya terjadi di satu daerah. Di Tangerang Selatan, seorang pria inisial H diduga menjalankan praktik perdukunan. Warga menemukan foto-foto yang dicoret dan ditusuk-tusuk. Polisi kemudian melakukan penggeledahan dan menemukan senjata api serta peluru di rumahnya. “Benar telah terjadi peristiwa warga mendatangi seseorang yang diduga dukun dan setelah digeledah ditemukan ada puluhan foto yang ditusuk-tusuk dan ditemukan juga peluru dan 2 pucuk senpi di rumahnya,” ujar Kanit Reskrim Polsek Ciputat Timur Iptu Krisna Hasiholan.
-
Konteks Budaya dan Keyakinan Masyarakat
Praktik dukun santet sering kali dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat terhadap ilmu gaib. Namun, hal ini juga bisa menjadi alasan untuk memicu ketakutan dan kekerasan. Di banyak daerah, orang yang dianggap memiliki kekuatan supernatural sering kali menjadi korban fitnah dan tindakan represif. -
Dampak Sosial dan Psikologis
Ketika seseorang dianggap sebagai dukun santet, dampaknya bisa sangat besar. Massa sering kali bertindak tanpa proses hukum, seperti yang terjadi di Kecamatan Ngadiluwih. Hal ini tidak hanya merusak properti, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis bagi korban. -
Peran Media dan Informasi
Film horor terbaru Pembantaian Dukun Santet yang dirilis pada Mei 2025 turut memperkuat narasi tentang kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap dukun santet. Meski bercerita tentang peristiwa nyata di Banyuwangi tahun 1998, film ini juga memicu diskusi tentang bagaimana media dapat memengaruhi persepsi publik.


-
Langkah Pemerintah dan Penegakan Hukum
Untuk menghindari tindakan anarkis, aparat kepolisian sering kali mengambil langkah-langkah antisipatif. Seperti yang dilakukan di Sukabumi, polisi mengamankan pasangan suami istri yang dituduh sebagai dukun santet agar tidak terulang aksi amuk massa. Namun, di beberapa tempat, penegakan hukum masih kurang efektif. -
Pentingnya Edukasi dan Dialog
Masyarakat perlu diberikan edukasi tentang pentingnya membedakan antara keyakinan dan kekerasan. Diskusi antara pemuka agama, tokoh masyarakat, dan aparat hukum bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi konflik yang disebabkan oleh prasangka.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, masyarakat semakin mudah terpapar narasi-narasi yang bisa memicu kebencian. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang damai dan saling menghormati.