KediriNews.com – Pada hari Jumat, 20 Juni 2025, warga dan pengunjung di Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri, akan menyaksikan perayaan spesial yang memadukan tradisi dan rasa lezat. Acara ini dikenal dengan nama “WAJIK!” yang menghadirkan hidangan khas daerah, yaitu ketan manis gula merah. Sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya lokal, acara ini menjadi ajang untuk menikmati kekayaan kuliner khas Jawa Timur.
“WAJIK! adalah inisiatif masyarakat setempat untuk menjaga kearifan lokal melalui pangan,” ujar Ibu Siti, salah satu penyelenggara acara. “Kami ingin menunjukkan bahwa makanan tradisional bisa tetap menarik dan dinikmati oleh semua kalangan.”
- Sejarah dan Makna WAJIK!
WAJIK! merupakan akronim dari “Wajib Ikut Kebudayaan”. Acara ini dilakukan setiap tahun sebagai bentuk apresiasi terhadap warisan budaya yang sudah ada sejak lama. Tahun ini, acara diselenggarakan di halaman Balai Desa Mojoroto, yang dipenuhi oleh berbagai stan makanan, pertunjukan seni, dan aktivitas interaktif bagi anak-anak dan remaja.
“Tujuan kami bukan hanya sekadar menyajikan makanan, tapi juga memberikan edukasi tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap hidangan,” tambah Ibu Siti.
- Ketan Manis Gula Merah: Rasa yang Menggugah Selera
Salah satu hidangan utama dalam acara ini adalah ketan manis gula merah. Makanan ini dibuat secara tradisional menggunakan bahan-bahan alami seperti beras ketan, gula merah, dan santan. Proses pembuatannya melibatkan teknik pengukusan yang khas, sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan rasa yang manis alami.
Menurut Pak Budi, salah satu pengrajin ketan manis, “Ketan ini tidak hanya enak, tapi juga memiliki nilai historis. Dulu, ketan ini sering dibuat untuk perayaan-perayaan besar atau acara adat.”
- Acara yang Menyentuh Hati
Selain ketan manis gula merah, acara WAJIK! juga menampilkan berbagai aktivitas lainnya, seperti pertunjukan tari tradisional, permainan tradisional, dan pameran kerajinan tangan. Acara ini juga dihadiri oleh para tokoh masyarakat dan pemuda setempat yang ingin menjaga semangat kebersamaan dan kebudayaan.
“Pemuda harus lebih aktif dalam melestarikan budaya lokal,” ujar Adi, salah satu peserta acara. “Dengan ikut serta dalam acara seperti ini, kita bisa belajar dan memahami makna dari setiap tradisi.”
- Pentingnya Melestarikan Budaya Lokal
Dalam era globalisasi, banyak budaya lokal yang mulai terpinggirkan. Namun, acara seperti WAJIK! menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat tetap mempertahankan identitasnya. Dengan menghadirkan makanan khas dan aktivitas tradisional, acara ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan menghargai warisan nenek moyang mereka.
“Kita harus bangga dengan budaya sendiri,” kata Ibu Siti. “Budaya bukan hanya sekadar ritual, tapi juga cara kita menghargai kehidupan dan lingkungan sekitar.”
- Masa Depan WAJIK! dan Budaya Lokal
Di masa depan, rencananya acara WAJIK! akan dikembangkan menjadi acara tahunan yang lebih besar dan lebih meriah. Diharapkan, acara ini dapat menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun internasional yang ingin mengenal lebih dekat budaya Jawa Timur.
“Kami berharap acara ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan dunia luar,” ujar Pak Budi. “Semakin banyak orang yang mengenal budaya kita, semakin baik untuk pelestarian warisan budaya.”
