KediriNews.com – Di tengah dinamika kehidupan mahasiswa yang serba sibuk, layanan laundry di sekitar kampus menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi beban rutinitas. Namun, saat ini, kawasan Kecamatan Mojoroto menunjukkan pertumbuhan pesat dari usaha laundry yang berujung pada perang harga. Fenomena ini memicu kekhawatiran terhadap kualitas layanan dan keberlanjutan bisnis.
Berdasarkan laporan dari beberapa pengusaha lokal, jumlah usaha laundry di sekitar kampus meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir. Banyak pemilik usaha baru bermunculan, termasuk di lingkungan dekat Universitas Negeri Kediri dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES). Hal ini menciptakan persaingan yang ketat antara para pelaku usaha, terutama dalam hal harga dan kualitas layanan.
“Sebelumnya, kami hanya memiliki tiga tempat laundry di sekitar kampus. Sekarang, hampir setiap blok kos atau area pendidikan memiliki satu atau dua unit usaha laundry,” ujar Suryadi, seorang pemilik usaha laundry di Jalan Raya Mojoroto. Ia menambahkan bahwa kini banyak pemain baru yang menawarkan harga lebih murah, meski tidak selalu sesuai dengan standar kualitas yang diterima oleh pelanggan.
Perang harga ini juga memberikan dampak pada perilaku konsumen. Mahasiswa, sebagai target utama, cenderung memilih layanan yang paling murah, tanpa mempertimbangkan kualitas cucian atau kecepatan pengerjaan. “Saya lebih memilih laundry yang harganya lebih murah, meskipun kadang hasilnya kurang maksimal,” kata Aji, seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin di salah satu kampus di Mojoroto.
Namun, bukan berarti semua usaha laundry mengalami penurunan kualitas. Beberapa pemilik usaha tetap menjaga standar layanan dengan memperkenalkan inovasi seperti layanan antar-jemput, pembayaran digital, dan promo khusus untuk mahasiswa. “Kami tetap menjaga kualitas meskipun harus bersaing dengan harga yang lebih rendah,” tambah Suryadi.
Beberapa strategi yang digunakan oleh pemilik usaha laundry yang sukses antara lain:
- Efisiensi operasional melalui prinsip lean service yang mengurangi pemborosan waktu dan sumber daya.
- Digitalisasi layanan dengan aplikasi manajemen laundry untuk mencatat pesanan dan mengelola inventaris.
- Strategi pemasaran berbasis teknologi dan pengelolaan hubungan pelanggan (CRM) yang efektif.
Selain itu, penting juga untuk membangun komunikasi yang baik antara pemilik bisnis dan pelanggan. Feedback rutin dari mahasiswa dapat menjadi bahan evaluasi agar layanan lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
Perang harga di kawasan kampus Mojoroto pada 1 Desember 2025 menunjukkan bagaimana bisnis laundry semakin berkembang, namun juga menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas layanan. Dengan inovasi dan strategi yang tepat, usaha laundry bisa tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah persaingan yang ketat.
